Jul 26, 2021 10:23 Asia/Jakarta

Putaran keempat pembicaraan antara Baghdad dan Washington dimulai Jumat (23/07/2021) lalu. Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein dan Penasihat Keamanan Nasional Irak Qasim al-Araji berpartisipasi dalam putaran pembicaraan tersebut. Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, yang tiba di Washington pada 25 Juli, dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Joe Biden untuk melanjutkan pembicaraan bersama mereka.

Perlu diketahui bahwa putaran pertama pembicaraan antara Baghdad dan Washington diadakan pada Juni 2020. Putaran kedua pada September 2020 dan putaran ketiga pada April 2021. Pembicaraan saat ini adalah pembicaraan putaran keempat dalam setahun.

Mustafa al-Kadhimi, Perdana Menteri Irak

Alasan utama untuk memulai pembicaraan ini adalah aksi teror dan syahidnya Jenderal Qassem Soleimani oleh pemerintah AS, mendiang komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala al-Hashd al-Shaabi pada 3 Januari 2020, di dalam Irak.

Pembicaraan juga fokus pada penarikan pasukan AS dari Irak, karena parlemen Irak menyetujui rencana untuk menarik pasukan asing dari negara itu pada 5 Januari 2020.

Hasil dari tiga putaran pembicaraan sejauh ini adalah penerimaan penarikan pasukan AS dari Irak. Meskipun para pejabat Irak dan AS bersikeras pada penarikan pasukan AS, tetapi berbagai bukti dan pernyataan menunjukkan bahwa pemerintah Irak tidak ingin terjadi penarikan pasukan AS, masalah yang juga diinginkan Washington.

Pemerintah Irak berusaha untuk mempertahankan bagian dari militer AS di Irak dengan dalih kebutuhan akan pelatihan militer dan bantuan intelijen.

Sebelum kunjungannya ke Washington hari Ahad (25/7), Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mengatakan tidak ada kebutuhan bagi kelanjutan pasukan asing di tanah Irak. Pada saat yang sama, al-Kadhimi, mencatat bahwa Irak terus mencari pelatihan dan bantuan dari Amerika Serikat dalam mengumpulkan intelijen militer.

Perlu diketahui bahwa putaran pertama pembicaraan antara Baghdad dan Washington diadakan pada Juni 2020. Putaran kedua pada September 2020 dan putaran ketiga pada April 2021. Pembicaraan saat ini adalah pembicaraan putaran keempat dalam setahun.

Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein juga mengatakan pada konferensi pers bersama dengan timpalannya dari AS di Washington pada hari Jumat bahwa ia membutuhkan koalisi internasional untuk menghadapi Daesh (ISIS) dan bekerja dengannya untuk bertukar informasi.

"Pasukan keamanan kami masih membutuhkan program pelatihan dan peralatan AS," ungkap Fuad Hussein.

Ada berbagai komentar tentang penarikan pasukan AS, tetapi pernyataan dan laporan media menunjukkan bahwa ada kemungkinan kesepakatan tentang penarikan pada akhir tahun ini. Biden dan al-Kadhimi diperkirakan akan menetapkan jadwal penarikan pada pertemuan Gedung Putih pada hari Senin (26/07/2021), dan itu diharapkan terjadi pada akhir tahun ini.

Baca juga: Nujaba Irak: Baghdad Tidak Butuh Pasukan AS !

"Kami menekankan kepada pihak Amerika bahwa Irak tidak membutuhkan pasukan tempur asing di wilayahnya. Tanggal 31 Desember 2021 akan memiliki cita rasa yang istimewa," kata Qasim al-Araji, Penasihat Keamanan Nasional Irak hari Sabtu (24/7).

Dapat dikatakan bahwa "kehadiran sebagai penasihat" adalah nama kode yang digunakan oleh pejabat AS dan Irak untuk mempertahankan militer AS dan mengabaikan resolusi parlemen Irak 5 Januari 2020.

Qasim al-Araji, Penasihat Keamanan Nasional Irak

Al-Kadhimi dan para pendukungnya serta kelompok-kelompok yang dekat dengannya berusaha mengatur jadwal penarikan pasukan AS dari Irak untuk memenuhi tujuan pemilu legislatif 10 Oktober mereka. Pada saat yang sama, beberapa pasukan AS tetap berada di Irak dengan dalih pelatihan dan bantuan intelijen, sehingga dukungan AS untuk pemerintah Irak saat ini dan para pendukungnya akan terus berlanjut.

Tags