Aug 08, 2021 20:03 Asia/Jakarta
  • Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon
    Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon

Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Gerakan Hizbullah Lebanon, menyampaikan pidato pada Sabtu (07/08/2021) malam, dalam rangka peringatan 15 tahun Perang 33 Hari, yang memiliki dimensi strategis yang penting.

Sudah 15 tahun sejak Perang 33 Hari rezim Zionis Israel terhadap Perlawanan Lebanon pada 2006. Perang tersebut merupakan titik balik dalam hubungan rezim Zionis dengan Lebanon, serta di kawasan Asia Barat.

Kemenangan Hizbullah dalam Perang 33 Hari

Perang 33 Hari pada tahun 2006 menandai titik balik dalam hubungan Israel dengan Lebanon, mendorong Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB untuk menyerukan diakhirinya perang Zionis Israel terhadap Lebanon.

Resolusi ini juga meminta rezim Israel menahan diri dari agresi dan serangan terhadap Lebanon. Isu ini juga hadir dalam pidato Sayid Hassan Nasrallah tadi malam.

Menurut Sayid Hassan Nasrallah, sebelum perang dan selama beberapa dekade, Lebanon menjadi tempat manuver angkatan udara rezim Zionis, dan tidak ada yang dapat mencegah Zionis melakukan serangan, tetapi "apa yang mencegah mereka menyerang Lebanon sekarang". Rezim Zionis takut konflik luas dengan Perlawanan. Dengan kata lain, perang 33 hari telah memperkuat kedaulatan dan keamanan Lebanon.

Aspek lain dari Perang 33 Hari pada tahun 2006 adalah dampaknya terhadap pengaturan keamanan di kawasan Asia Barat. Perang ini merupakan titik balik bagi kawasan Asia Barat di mana Hizbullah, bukan tentara negara Arab, berhasil menghilangkan mitos tak terkalahkannya tentara Israel dan mempermalukannya.

Di sisi lain, perang ini menyebabkan munculnya Poros Perlawanan sebagai pemain yang berpengaruh dan dinamis di kawasan Asia Barat, sedemikian rupa sehingga saat ini perkembangan di kawasan ini tidak dapat dievaluasi tanpa mempertimbangkan posisi dan peran Perlawanan.

Isu lain adalah bahwa Perang 33 Hari menyebabkan pembentukan perimbangan pencegahan dalam hubungan Zionis Israel dengan Poros Perlawanan, termasuk Perlawanan Lebanon.

Sudah 15 tahun sejak Perang 33 Hari rezim Zionis Israel terhadap Perlawanan Lebanon pada 2006. Perang tersebut merupakan titik balik dalam hubungan rezim Zionis dengan Lebanon, serta di kawasan Asia Barat.

Menurut Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, pencapaian terpenting dari perang ini adalah pembentukan perimbangan pencegahan. Meningkatnya tren pencegahan Perlawanan Lebanon berarti bahwa Israel tidak berani melancarkan serangan militer terhadap Lebanon selama 15 tahun terakhir karena takut akan balasan dari Hizbullah.

Kemampuan pencegahan ini terlihat jelas dalam perkembangan beberapa hari terakhir, dan ditegaskan dalam pidato Sayid Hassan Nasrallah tadi malam.

Kamis (05/08/2021) lalu, jet-jet tempur Zionis Israel membom daerah-daerah di Lebanon selatan untuk pertama kalinya dalam 15 tahun. Serangan ini memicu balasan cepat dari Perlawanan Lebanon, yang setara dengan serangan rezim Israel. Waktu dan tempat serangan dipertimbangkan oleh Hizbullah di Lebanon.

Menurut Sayid Hassan Nasrallah, "Insiden hari Kamis penting dalam hal waktu yang dibutuhkan untuk merespons dengan cepat. Jika balasan diberikan terlambat, itu akan kehilangan nilainya."

Pada saat yang sama, Hizbullah mengambil tanggung jawab atas tindakannya dalam sebuah pernyataan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak takut pada musuh Israel. Saat ini musuh sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak mencari perang dengan Hizbullah, sebuah masalah yang juga dipahami oleh tentara Israel.

Poin terakhir adalah bahwa Perang 33 Hari dimulai dengan tujuan untuk menghancurkan Hizbullah di Lebanon dan membongkar Perlawanan di Asia Barat secara umum. Namun 15 tahun setelah perang, musuh Israel khawatir akan keberadaannya, dan ini adalah salah satu konsekuensi strategis dari perang 2006.

Poros Perlawanan

Dalam hal ini, Sekretaris Jenderal Hizbullah di Lebanon, mencatat bahwa hari ini musuh Zionis lebih peduli tentang keberadaannya daripada sebelumnya. Sekjen Hizbullah mengingatkan bahwa musuh ini, yang didukung oleh negara adidaya dan negara-negara di kawasan itu, takut akan konsekuensi dari perang dengan Perlawanan Lebanon dan efeknya pada front internalnya.

Tags