Aug 21, 2021 08:55 Asia/Jakarta

Ketika krisis bahan bakar di Lebanon meningkat, Republik Islam Iran mengirim kapal pengangkut bahan bakar ke negara itu.

Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, dalam pidatonya pada peringatan Asyura pada hari Kamis, 19 Agustus 2021, mengumumkan bahwa kapal-kapal yang membawa bahan bakar meninggalkan Iran menuju Lebanon.

Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon

Langkah itu dilakukan ketika Lebanon menghadapi krisis bahan bakar yang telah menutup banyak pompa bensin dan solar, sejumlah rumah sakit dan bahkan toko roti, dan orang-orang telah berulang kali memprotes.

Langkah Republik Islam Iran untuk mengirim bahan bakar ke Lebanon demi membantu negara itu mengatasi krisis bahan bakar, menunjukkan bahwa tidak ada keinginan nasional di Lebanon untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat. Bahkan beberapa tokoh dan kelompok politik Lebanon secara terbuka mengejar kepentingan pribadi dan menempatkan partai mereka di atas kepentingan rakyat dan nasional.

Segera setelah pengumuman Sekretaris Jenderal Hizbullah akan mengirim bahan bakar ke Lebanon, beberapa individu, media dan jaringan yang menentang Perlawanan, terutama di dalam Lebanon, mulai mempertanyakan bagaimana pengiriman itu akan dibayar.

Sejatinya, para penentang Perlawanan Lebanon menuduh Hizbullah ikut campur dalam ekonomi Lebanon dan mencoba menodai citranya. Namun, media-media Lebanon melaporkan bahwa biaya pengiriman bahan bakar Iran seluruhnya dibayar oleh sekelompok pengusaha Syiah Lebanon dan bukan Hizbullah yang membayarnya.

Reaksi lain ditunjukkan oleh Saad al-Hariri dan Samir Geagea, yang secara terbuka menentang pengiriman bahan bakar dari Iran.

Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, dalam pidatonya pada peringatan Asyura pada hari Kamis, 19 Agustus 2021, mengumumkan bahwa kapal-kapal yang membawa bahan bakar meninggalkan Iran menuju Lebanon.

Saad al-Hariri memprotes langkah Iran dalam sembilan tweet berturut-turut, dan di akhir sembilan tweetnya menyebut penerimaan kapal yang memuat bahan bakar dari Iran itu sebagai "jalan cepat ke neraka".

Reaksi al-Hariri muncul karena dia tidak menawarkan cara untuk mengakhiri atau mengurangi krisis bahan bakar di Lebanon.

Sikap al-Hariri menentang pengiriman bahan bakar dari Iran ke Lebanon jelas bukanlah untuk kepentingan Lebanon. Dari satu sisi karena konflik politik dalam negeri, yang menurut al-Hariri akan memperbaiki posisi Perlawanan dan para pendukungnya dalam struktur kekuasaan Lebanon. Di sisi lain, karena garis pemikiran kubu normalisasi hubungan dengan Zionis Israel di kawasan berusaha untuk melemahkan Perlawanan.

Sebaliknya dari sikap Saad al-Hariri dan beberapa tokoh Lebanon lainnya, sikap Sayid Hassan Nasrallah menekankan bahwa kapal tanker Iran telah menjadi bagian dari wilayah Lebanon sejak keberangkatannya ke Lebanon.

Pada hakikatnya, Sekjen Hizbullah Lebanon telah memperingatkan negara-negara yang berniat menyerang kapal tanker itu. Karena bagi Sayid Hassan Nasrallah, mengurangi masalah rakyat Lebanon lebih baik daripada pandangan partisan dan pribadi.

Reaksi lain terhadap pengiriman bahan bakar Iran ke Lebanon adalah oleh Zionis Israel.

Meskipun kabinet Israel belum bereaksi secara resmi terhadap masalah ini, para jurnalis dan media Israel telah menyatakan kemarahannya. Mereka menyebut Tindakan Hizbullah sebagai kekalahan lain untuk Israel dan perluasan perimbangan pembalasan dan pencegahan oleh Sayid Hassan Nasrallah.

Kapal tanker

Terakhir, tindakan Republik Islam Iran menunjukkan bahwa ia menentang ketidakstabilan dan eskalasi krisis di Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah  menunjukkan bahwa ia tidak menunggu para politisi yang tidak mengambil tindakan demi mengurangi masalah rakyat Lebanon.(SL)

Tags