Sep 12, 2021 09:26 Asia/Jakarta

Ketegangan dan konflik verbal antara pemerintah Turki dan negara-negara Arab reaksioner di Teluk Persia terkait Suriah dan Irak terus meningkat.

Sejak 2011 ketika Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk beberapa negara Eropa, beberapa negara Arab reaksioner, dan Turki, mengambil tindakan militer untuk menggulingkan pemerintah sah Bashar al-Assad di Suriah. Pemerintah Damaskus dan rakyat Suriah selalu menyatakan ketidakpuasannya akan upaya militer AS dan sekutunya.

Sementara itu, negara-negara anggota Liga Arab, yang merupakan mitra AS dalam kejahatan terhadap rakyat Suriah dan bahkan Irak, baru-baru ini berusaha menyelesaikan masalah dengan Turki dengan mengeluarkan pernyataan melawan Turki.

Liga Arab

Pada saat yang sama, pemerintah Suriah dan Irak telah berulang kali mengeluarkan pernyataan resmi terhadap mantan sekutu Arab mereka, dan mengutuk upaya pendudukan Turki.

Selama beberapa tahun terakhir, para pejabat Liga Arab telah melakukan segala upaya untuk menuduh Turki menduduki Suriah dan Irak dengan dalih pendudukan ilegal wilayah Suriah dan Irak, dan untuk mencapai tujuan mereka dengan melawan pemerintah Ankara.

Jelas, tindakan negara-negara Arab yang disebut mendukung pemerintah Suriah dan Irak ini sudah terlambat.

Para ahli percaya bahwa negara-negara Arab, jika mereka menginginkan kebaikan nyata dari rakyat Suriah dan Irak, seharusnya telah melakukan usaha ini dalam beberapa tahun terakhir dan tidak membantu penjajah Turki bagi pendudukan militer di Suriah dan Irak.

Sementara itu, pemerintah Turki, yang secara ilegal menduduki bagian dari kedua negara tanpa izin dari pemerintah Suriah dan Irak, telah mengambil beberapa langkah ilegal, seperti membangun sekolah Turki, mengekspor listrik ke wilayah Suriah yang diduduki dan mempromosikan mata uang nasionalnya, yang sebenarnya sebagai upaya untuk memperkuat posisinya menghadapi berbagai tuduhan pemerintah Arab dengan dalih kegiatan kemanusiaan.

Pada pertemuan rutinnya pada 9 September 2021, Dewan Menteri Liga Arab mengecam kehadiran militer Turki di wilayah beberapa negara Arab, termasuk Irak dan Suriah. Liga Arab juga meminta Turki untuk menarik semua pasukannya dari negara-negara Arab dan berhenti mendukung organisasi dan milisi ekstremis di negara-negara Arab.

Ketegangan dan konflik verbal antara pemerintah Turki dan negara-negara Arab reaksioner di Teluk Persia terkait Suriah dan Irak terus meningkat.

Faktanya adalah bahwa Amerika Serikat dan sekutu Barat dan Arabnya, bersama dengan Turki, bukan hanya tidak mengambil langkah-langkah untuk kesejahteraan rakyat Suriah dan Irak, tetapi telah mengambil tindakan apa pun untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan menyusup ke Irak dan menjarah sumber daya alam kedua negara tersebut.

Padahal, negara-negara ini bisa saja bergegas membantu rakyat kedua negara ini dengan mencapai kesepakatan dengan pemerintah Suriah dan Irak.

Sebagai contoh, Iran dan Rusia telah menanggapi permintaan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pejabat Baghdad dengan bantuan konsultasi kedua negara.

Sekaitan dengan hubungan ini, salah seorang komandan Perlawanan Rakyat Suriah, sambil memuji Iran karena mendukung rakyat dan pemerintah Suriah dalam perang melawan kelompok teroris Daesh (ISIS), telah menekankan pembebasan semua wilayah pendudukan negara ini dari Amerika Serikat.

Omar al-Hussein al-Hassan, komandan di Brigade al-Baqir dari kelompok perlawanan rakyat di wilayah al-Jazeera di Suriah timur, mengatakan:

“Republik Islam Iran, melalui penasihat militernya yang ditempatkan di negara ini atas permintaan pemerintah Suriah, telah memainkan peran penting dalam mendukung pembebasan sebagian besar wilayah timur Suriah. Para penasihat ini memberikan bantuan apa pun untuk rakyat Suriah, dan pemerintah Damaskus menghargai dukungan dan tindakan mereka dalam krisis Suriah."

Poros Perlawanan

Apresiasi ini hanyalah contoh kecil dari penghargaan rakyat Suriah dan Irak, dan menunjukkan bahwa Iran telah menjadi sahabat sejati rakyat kedua negara ini. Sebaliknya, semua pemerintah Arab, dan bahkan Turki, yang sekarang mencoba mengeksploitasi Suriah dan Irak melawan negara-negara yang membantu dua negara ini dan mengejar tujuan mereka, telah bertindak "hanya untuk tujuan dan tuntutan tertentu".

Tags