Sep 13, 2021 10:02 Asia/Jakarta

Layanan pers Pentagon melaporkan Rabu lalu (08/09/2021) bahwa kunjungan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin ke Arab Saudi telah ditunda tanpa batas waktu. Lloyd Austin kemudian mengatakan penundaan itu atas permintaan pemerintah Riyadh.

Namun pertanyaannya, mengapa Arab Saudi meminta penundaan kunjungan Menteri Pertahanan AS ke Riyadh?

Tidak diragukan lagi, tindakan Saudi berasal dari kemarahan mereka pada pemerintah AS. Presiden AS Joe Biden sangat kritis terhadap pemerintah Saudi selama kampanye kepresidenannya.

Presiden AS Joe Biden

"Arab Saudi telah menjadi negara yang tidak bisa diatur. Saudi harus membayar harga untuk apa yang mereka lakukan," kata Biden.

Pada saat yang sama dengan kampanye pemilihan umum presiden AS, banyak pakar dan pengamat politik percaya bahwa bulan madu antara Arab Saudi dan pemerintah AS akan berakhir jika Biden memenangkan kampanye pemilu.

Baca juga: Saudi Mulai Ragukan Komitmen AS terhadap Sekutunya

Setelah memenangkan pemilu presiden AS, Joe Biden menghapus Ansarullah Yaman dari daftar kelompok teroris dan kasus pembunuhan keji penulis dan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di markas konsulat Saudi di Istanbul, Turki, menjadi prioritas, dan kemudian merilis sebagian laporan rahasia tentang kasus ini.

Sejatinya, meskipun Amerika Serikat tidak mengambil tindakan praktis terhadap Arab Saudi, tetapi sekali lagi dengan membesar-besarkan pelanggaran berat hak asasi manusia Arab Saudi agar dapat menjadikan negara ini di bawah tekanan HAM telah menjadi titik kelemahan Al Saud.

Selain itu, Presiden AS Joe Biden baru-baru ini memerintahkan peninjauan dokumen yang terkait dengan serangan 9/11 dan rilis publiknya. Tindakan pemerintah AS terhadap Saudi telah meningkatkan kemarahan Riyadh terhadap Washington, mengingat warga negara Saudi juga terlibat dalam peristiwa 9/11.

Layanan pers Pentagon melaporkan Rabu lalu (08/09/2021) bahwa kunjungan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin ke Arab Saudi telah ditunda tanpa batas waktu. Lloyd Austin kemudian mengatakan penundaan itu atas permintaan pemerintah Riyadh.

Dengan kata lain, pemerintah Saudi menyimpulkan bahwa tidak ada rasa saling menghormati dalam hubungannya dengan Amerika Serikat, dan bahwa Washington tidak mempertimbangkan kepentingannya dalam hubungannya dengan Riyadh.

Dalam hal ini, Sattam bin Khalid Al Saud, pangeran Saudi di laman Twitter-nya, merujuk pada pembatalan kunjungan Menteri Pertahanan AS LIoyd Austin ke Arab Saudi menulis, "Arab Saudi membatalkan kunjungan Menhan AS Lloyd Austin, dan pada saat yang sama menyambut Ketua Komisi Internasional Parlemen Rusia, Duma di Riyadh. Arab Saudi tidak akan tunduk pada dikte negara mana pun, dan akan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan kepentingan bersama, dan penghormatan timbal balik."

Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi, juga mengkritik keputusan AS untuk menarik sistem Patriot dari Arab Saudi Kamis lalu (09/09/2021), seraya mengatakan bahwa Arab Saudi lebih memilih bantuan AS, tetapi berusaha untuk mencari pendukung lainnya guna memperkuat kemampuannya untuk melawan serangan udara dari Yaman.

Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi

Pernyataan al-Faisal juga menunjukkan bahwa perbedaan hubungan Saudi-AS begitu besar sehingga Riyadh bahkan berusaha meningkatkan kerja sama dengan saingan AS, terutama Rusia.

Sekalipun langkah ini dapat ditujukan untuk mempengaruhi Washington dan mengurangi tekanannya pada Riyadh, tetapi itu juga bisa menjadi persepsi Al Saud bahwa ketergantungan yang berlebihan pada Amerika Serikat bukan hanya menjamin kepentingannya, tetapi juga merugikan negara ini.

Tags