Sep 16, 2021 09:40 Asia/Jakarta

Satu tahun telah berlalu sejak penandatanganan perjanjian September antara Zionis Israel, UEA dan Bahrain. Apakah kesepakatan ini telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh kedua negara Arab dan rezim Zionis?

Perjanjian rekonsiliasi dua negara Arab UEA dan Bahrain dengan rezim Zionis, yang dikenal sebagai Perjanjian Abraham, ditandatangani pada 15 September 2020 di Gedung Putih dengan dihadiri Netanyahu dan Donald Trump serta para menteri luar negeri UEA dan Bahrain.

Perjanjian Abraham

Dari empat orang yang menandatangani perjanjian pada 15 September, Benjamin Netanyahu dan Donald Trump tidak lagi berkuasa, yang berarti bahwa perjanjian kompromi tidak mempengaruhi kelangsungan hidup mereka dalam kekuasaan.

Salah satu klaim penguasa UEA dan Bahrain adalah bahwa normalisasi hubungan dengan Israel akan mengarah pada keamanan yang lebih besar di Palestina, tetapi setahun kemudian terbukti sebaliknya.

Perang Pedang Quds Mei lalu adalah salah satu variabel jelas yang bertentangan dengan klaim ini terkait tujuan kesepakatan normalisasi. Dengan demikian, Perjanjian Abraham bukan hanya tidak menghasilkan apa-apa, tetapi juga meningkatkan kekerasan dan kejahatan Zionis Israel terhadap Palestina.

Selama setahun terakhir, sejumlah besar warga Zionis Israel telah melakukan perjalanan ke Bahrain dan UEA, kedutaan besar telah dibuka di Abu Dhabi, Manama dan Tel Aviv serta para pejabat Israel telah ke Bahrain dan UEA dan pejabat dari kedua negara Arab telah melakukan perjalanan ke Tel Aviv.

Sekalipun demikian, tindakan ini lebih lanjut menyebabkan pecahnya tabu dalam hubungan antara dua negara Arab dan rezim Israel, dan dalam praktiknya tidak melayani kepentingan ekonomi salah satu pihak dalam perjanjian.

Satu tahun telah berlalu sejak penandatanganan perjanjian September antara Zionis Israel, UEA dan Bahrain. Apakah kesepakatan ini telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh kedua negara Arab dan rezim Zionis?

Isu berikutnya adalah manfaat perjanjian ini bagi Zionis Israel.

Meskipun dengan perjanjian ini, Israel telah mampu memperkuat hubungannya dengan kedua negara Arab dan sampai batas tertentu mengamankan kepentingan politiknya, tetapi perjanjian ini tidak mengurangi tantangan Israel, terutama dalam dimensi ekonomi dan keamanan.

Salah satu alasannya adalah kebencian dan kemarahan opini publik Arab terhadap Israel bukan hanya tidak berkurang, tetapi bahkan meningkat sebagai akibat dari perilaku negara-negara Arab dan meningkatnya kekerasan Israel terhadap Palestina.

Dalam hal ini, Pusat Penelitian Keamanan Internal Zionis Israel yang berafiliasi dengan Universitas Tel Aviv dalam laporan strategis terbarunya membahas tantangan yang dihadapi perjanjian normalisasi rezim Zionis dengan negara-negara Arab. Pusat penelitian Israel ini menulis bahwa salah satu tantangan paling menonjol di jalur perjanjian normalisasi dengan Israel adalah posisi opini publik Arab.

Sebagaimana dalam perjanjian damai antara Zionis Israel dengan Mesir dan Yordania, bangsa-bangsa Arab memiliki sikap konservatif terhadap Israel dan menjadi musuh mereka. Pusat penelitian itu juga menekankan bahwa perjanjian normalisasi ini sejauh ini gagal mengatasi tantangan strategis yang dihadapi Israel.

Gili Cohen, seorang analis politik di televisi resmi Zionis Israel juga mengutip sumber-sumber senior Tel Aviv yang mengatakan bahwa manfaat dari perjanjian normalisasi bagi Israel jauh lebih kecil dari yang diharapkan.

Setelah semua pihak menaruh harapan besar terhadap kesepakatan ini, ruang publik telah berubah secara signifikan selama setahun terakhir, dan tentu saja perubahan ini tidak terbatas pada pergantian pemerintahan di Amerika Serikat dan kabinet Israel. Ruang publik dipenuhi dengan perasaan yang mirip dengan rasa jijik.

Tanggal 15 September menjadi hari kemarahan atas rezim Zionis Israel

Dengan mencermati kondisi ini, situs Rai al-Youm menulis dalam sebuah laporan bahwa setahun setelah penandatanganan perjanjian normalisasi antara beberapa rezim Arab dan rezim pendudukan Zionis, pengakuan atas kegagalan perjanjian ini terlihat jelas di laporan media-media Zionis dan media-media ini merefleksikan kondisi Israel yang bingung dari hasil kesepakatan normalisasi hubungan.

Tags