Sep 24, 2021 17:08 Asia/Jakarta

Sejak awal bulan September 2021, anasir teroris ISIS, 16 kali menyerang Provinsi Kirkuk, Salahuddin, dan Diyala, Irak. Serangan ini dilakukan dalam bentuk pemasangan perangkap, peletakan bom, penculikan orang, dan teror malam hari ke pos-pos aparat keamanan. Aksi tersebut menewaskan serta melukai lebih dari 45 orang.

Peningkatan aksi teror ISIS di Irak yang menimbulkan jatuhnya banyak korban jiwa, mendorong munculnya dua pandangan terkait sebab yang melatari fenomena ini. Pertama pandangan tentang kebangkitan ISIS, dan kedua pandangan tentang konspirasi para pendukung Amerika Serikat di Irak.

Orang-orang yang percaya ISIS bangkit kembali di Irak mengatakan bahwa kelompok teroris ini sudah melakukan sejumlah perubahan dalam jenis aktivitasnya di Irak. Salah satunya pembentukan kelompok-kelompok lebih kecil yang kemungkinan kontak antaranggota di dalamnya lebih terbatas, namun pada saat yang sama secara organisasi memiliki cabang-cabang yang lebih banyak.

Perubahan lain yang dilakukan ISIS adalah pemanfaatan jaringan media sosial, terutama Telegram. Aktivitas media ini membuka kemungkinan dan kemudahan lebih besar untuk menjalin kontak di antara anggota ISIS.

Perubahan-perubahan strategi ini membawa banyak dampak, di antaranya sekarang teroris ISIS bisa menyusup lebih dalam ke tengah masyarakat Irak, dan lebih sedikit berada di gurun-gurun atau pegunungan. Oleh karena itu identifikasi mereka menjadi lebih sulit.

Dampak yang lain adalah keberhasilan ISIS dalam aksi-aksi terornya. Dalam tiga minggu terakhir, 45 warga Irak tewas, dan puluhan lainnya terluka. Situasi ini menyebabkan sebagian orang mengira ISIS sudah bangkit kembali di Irak, dan sudah mengorganisir diri.

Pandangan yang diyakini sebagian warga Irak lain mengatakan bahwa peningkatan pergerakan ISIS bersamaan dengan pengumuman penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak. Sehingga mereka berpendapat, ini bukan sekadar urusan kebangkitan ISIS tapi sebuah skenario untuk mempertahankan pasukan AS di Irak.

Hashd Al Shaabi, Irak

 

Sebagian warga Irak yang tidak setuju dengan penarikan pasukan AS dari negaranya, dengan dalih peningkatan aktivitas ISIS, memperingatkan dampak penarikan pasukan AS yang mereka sebut bisa mengubah Irak menjadi Afghanistan.

Menteri urusan Peshmerga, Pemerintahan Regional Kurdistan Irak, Jabar Yawar adalah satu dari sekian orang yang menentang penarikan pasukan AS dari Irak. Ia mengatakan, Irak selamanya membutuhkan kehadiran pasukan AS, dan para teroris ISIS juga akan selalu beraksi secara bebas di negara ini.

Beberapa pihak menolak pandangan ini karena secara asasi ISIS tidak memiliki kedudukan, dan basis sosial seperti Taliban di Afghanistan, sehingga bisa menjadi bahaya serius bagi Irak.

Jurnalis Irak yang dekat dengan kubu perlawanan, Ahmad Abdulsada, di akun Twitternya membandingkan kondisi Afghanistan dan Irak. Ia menulis, berbeda dengan ISIS, Taliban di Afghanistan masih memiliki basis sosial yang cukup besar. Jika basis sosial dan keberterimaan masyarakat ini tidak ada, maka Taliban tidak akan pernah bisa kembali ke arena politik Afghanistan, dan menguasai sebagian besar wilayah negara itu, tapi di Irak, ISIS sudah kehilangan basis sosial, dan keberterimaan dari masyarakat.

Pengamat politik Irak, Kadhim Al Hajj meyakini bahwa penyebaran ketakutan tentang bahaya ISIS tidak benar, karena pertama, ISIS sekarang tidak punya para petempur seperti pada tahun 2014, dan mereka sekarang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil, kedua, kekuatan militer Irak sekarang jauh lebih besar, dan lebih matang dari sebelumnya, karena keberadaan pasukan semacam Al Hashd Al Shaabi.

Mungkin saja aksi-aksi ISIS dalam beberapa hari ke depan, seiring dengan semakin dekatnya pemilu parlemen Irak, akan mengalami peningkatan, dan dalam beberapa bulan ke depan bersamaan dengan semakin dekatnya waktu penarikan pasukan AS dari Irak, aksi ISIS akan semakin gencar, akan tetapi Irak kecil kemungkinan berubah menjadi Afghanistan, dan ISIS berubah menjadi Taliban. (HS)

Tags