Sep 29, 2021 10:12 Asia/Jakarta

Faksi-faksi Perlawanan Palestina menanggapi kekejaman militer Zionis Israel yang menggugursyahidkan lima warga sipil Palestina seraya menyatakan, kejahatan ini merupakan respon Israel terhadap persatuan bangsa Palestina dalam mengadopsi strategi perlawanan.

Pasukan penjajah rezim Zionis menyerbu beberapa daerah di Tepi Barat pada Minggu (26/09/2021) pagi, termasuk desa Barqin di kota Jenin, dan bentrok dengan pejuang Perlawanan, yang menggugursyahidkan lima warga Palestina.

Gugur syahid warga Palestina (arsip)

Kejahatan ini menunjukkan bahwa kabinet rezim Zionis saat ini telah menempuh kebijakan multidimensi terhadap Palestina.

Di satu sisi, Perdana Menteri Zionis Israel Naftali Bennett telah menyatakan bahwa dia tidak percaya pada solusi dua negara, dan bahwa solusi seperti itu tidak akan dilaksanakan selama dia menjadi perdana menteri.

Di sisi lain, dia mengumumkan bahwa dirinya sedang meninjau kembali kebijakan pembangunan permukiman zionis dan pengembangan daerah-daerah yang diduduki dan tidak akan bergerak ke arah pengembangan tanah yang diduduki.

Sementara itu, Naftali Bennett berusaha mengurangi pengepungan Jalur Gaza dengan mengizinkannya mendapat kiriman bantuan kemanusiaan terbatas melalui kontak dengan beberapa negara Arab, terutama Mesir. Bennett juga berusaha untuk berhubungan dengan Otoritas Palestina dan menghidupkan kembali pembicaraan keamanan dan kerja sama.

Pada saat yang sama, eskalasi kekerasan terhadap warga Palestina di berbagai daerah menjadi agenda. Dalam hal ini, 2 orang Palestina gugur syahid minggu lalu dan 5 orang Palestina menjadi syahid pada hari Minggu (26/9) lalu.

Tujuan dari kebijakan multidimensi ini adalah untuk mengejar strategi perpecahan di antara orang-orang Palestina dan untuk mengurangi tekanan terhadap Israel.

Faksi-faksi Perlawanan Palestina menanggapi kekejaman militer Zionis Israel yang menggugursyahidkan lima warga sipil Palestina seraya menyatakan, kejahatan ini merupakan respon Israel terhadap persatuan bangsa Palestina dalam mengadopsi strategi perlawanan.

Ketidaksepakatan antara kelompok-kelompok politik Palestina sebagian besar telah membuahkan hasil, dan para pejabat Palestina, termasuk Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, telah bertemu dengan para pejabat Israel, sementara orang-orang dan kelompok-kelompok Palestina sangat menentangnya.

Eskalasi kekerasan terhadap warga Palestina dan kesyahidan warga sipil juga disebabkan oleh pola pasif dan kompromi dari Otoritas Palestina.

Masalah lain adalah bahwa kejahatan itu dilakukan hari Minggu lalu oleh militer Israel di Tepi Barat, di mana Otoritas Palestina berkuasa.

Oleh karena itu, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam menanggapi kejahatan ini menyatakan, "Meskipun operasi itu telah mengakibatkan kesyahidan sejumlah warga Palestina, itu sekali lagi membuktikan bahwa api dalam sekam di Tepi Barat masih aktif."

Poin lainnya adalah bahwa kesyahidan warga Palestina adalah karena kelanjutan dari strategi Perlawanan terhadap Israel. Warga Palestina, baik penduduk al-Quds yang diduduki, Tepi Barat atau Jalur Gaza, telah menunjukkan bahwa mereka tidak takut dengan intensitas kekerasan Israel, dan bahwa Perlawanan tidak lagi hanya mencakup Jalur Gaza tetapi telah menyebar ke daerah lain.

"Perlawanan terhadap pasukan rezim Zionis menunjukkan bahwa Muqawama berakar di semua orang Palestina, dan hal ini membutuhkan peningkatan perlawanan rakyat di Tepi Barat meskipun dalam situasi sulit saat ini," kata Khaled Mashal, Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Khaled al-Batsh, anggota Biro Politik Gerakan Jihad Islam Palestina

Khaled al-Batsh, anggota Biro Politik Gerakan Jihad Islam Palestina, juga mencatat persatuan rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, seraya mengatakan bahwa tujuan Israel adalah untuk memisahkan Tepi Barat dari perlawanan. Karena masalah ini adalah ancaman terbesar bagi berbagai rencananya. Terlebih-lebih ketika operasi kemarahan yang dilakukan malam hari Palestina telah bergeser dari Gaza ke Tepi Barat, dan sikap rakyat Palestina terhadap Israel menjadi lebih terintegrasi.

Tags