Okt 06, 2021 09:00 Asia/Jakarta

Perdana Menteri Zionis Israel Naftali Bennett telah menyatakan keprihatinannya atas berlanjutnya konflik Arab-Yahudi di berbagai Wilayah Pendudukan, dengan mengklaim bahwa pasukan keamanan bukanlah musuh warga Arab Israel.

Daerah-daerah yang diduduki Zionis Israel sangat heterogen dalam hal komposisi penduduk dan ini merupakan salah satu ancaman serius bagi rezim penjajah. Orang-orang Yahudi menganggap diri mereka sebagai populasi dominan di wilayah-wilayah pendudukan, dan kabinet Israel memiliki pandangan yang sama.

Konflik di Wilayah Pendudukan Zionis

Dengan demikian, konflik etnis di Wilayah Pendudukan menjadi ancaman. Orang-orang Arab termasuk di antara minoritas yang hadir di wilayah-wilayah pendudukan. Minoritas Arab merupakan 21 persen dari populasi wilayah pendudukan yang berasal dari Palestina tetapi telah memperoleh kewarganegaraan Zionis Israel.

Sebagian besar orang Arab di Wilayah Pendudukan fasih berbahasa Arab dan Ibrani, dan menyatakan simpati kepada orang-orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Kenyataan ini telah menyebabkan banyak orang Yahudi Israel tetap curiga terhadap minoritas Arab di rezim ini.

Orang Arab Israel sering mengeluhkan diskriminasi terhadap mereka dalam masyarakat Zionis. Mereka berbicara tentang "diskriminasi terorganisir" di Israel untuk akses ke perumahan dan layanan medis serta pendidikan.

Diskriminasi dalam sistem politik menjadi salah satu penyebab banyaknya konflik antara mereka dengan kaum Yahudi. Menurut Asosiasi Hak Sipil Israel, setengah dari orang miskin di Wilayah Pendudukan adalah keluarga Arab.

“Untuk generasi baru warga Arab Israel yang telah lama mengeluh, mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua, merasa didiskriminasi dan diperlakukan tidak adil, kurang memiliki atau bahkan tidak memiliki prospek solusi politik untuk konflik Israel-Palestina ... Ini telah menciptakan landasan yang baik untuk protes,” tulis koresponden Haaretz Jack Khoury.

Selain diskriminasi sistem politik, pandangan yang merendahkan kaum Yahudi terhadap bangsa Arab di Wilayah Pendudukan juga menjadi salah satu penyebab konflik dengan kaum Yahudi. Sebagian besar masyarakat Israel melihat orang Arab sebagai ancaman demografis.

Perdana Menteri Zionis Israel Naftali Bennett telah menyatakan keprihatinannya atas berlanjutnya konflik Arab-Yahudi di berbagai Wilayah Pendudukan, dengan mengklaim bahwa pasukan keamanan bukanlah musuh warga Arab Israel.

Untuk alasan ini, kaum Yahudi bukan hanya tidak memiliki pandangan kesetaraan dengan mereka, justru mereka tidak dapat menahan diri dari melakukan kekerasan terhadap warga Arab.

Dalam hal ini, konflik sengit pecah antara orang Yahudi dan Arab di Wilayah Pendudukan Mei lalu, dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Sekitar 100 orang Arab Israel telah terbunuh sejak awal tahun ini, kebanyakan dari mereka dalam berbagai konflik.

Bentrokan-bentrokan ini telah sangat mengguncang hubungan Arab-Yahudi dalam masyarakat Zionis Israel dan menimbulkan ancaman internal yang serius bagi rezim ini. Ancamannya begitu serius sehingga pemimpin Israel Raven Rivlin telah memperingatkan perang saudara:

"Kita harus menyelesaikan masalah kita tanpa menyebabkan perang saudara yang akan membahayakan keberadaan kita di luar bahaya eksternal."

Sekarang Perdana Menteri Israel Naftali Bennett juga telah menyatakan keprihatinan tentang berlanjutnya konflik Arab-Yahudi di Wilayah Pendudukan.

Ada dua poin penting dalam pernyataan Bennett. Poin pertama, dia percaya bahwa kabinet Israel tidak melakukan upaya apa pun untuk mengurangi kekerasan dan konflik antara Arab dan Yahudi.

"Kekerasan antara orang Arab dan Yahudi Israel tidak mendapat perhatian yang cukup dan dipinggirkan selama bertahun-tahun," kata Bennett.

Poin kedua adalah bahwa Bennett mencoba menenangkan orang-orang Arab Israel. Dalam hal ini, Naftali Bennett meyakinkan orang-orang Arab Israel bahwa kabinet bermaksud untuk melindungi mereka.

Perdana Menteri Zionis Israel Naftali Bennett

"Warga Arab harus memahami bahwa pasukan keamanan Israel bukanlah musuh tetapi solusi," ungkapnya.

Pandangan Bennett juga tampaknya berasal dari dukungan yang diberikan oleh Partai Daftar Persatuan Arab untuk pemerintah koalisi Bennett-Lapid, yang merupakan faktor penting dalam menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaan.

Tags