Okt 23, 2021 21:19 Asia/Jakarta
  • Ansarullah Yaman
    Ansarullah Yaman

Perubahan cepat di Marib, membuat Amerika Serikat kebingungan, pada saat yang sama Arab Saudi berusaha mencari jalan keluar dari Yaman, dan semua ini bersamaan dengan kemajuan pesat yang diraih militer dan komite rakyat Yaman.

Lembaga think tank AS, The Arab Gulf State Institute in Washington, AGSIW, Jumat (22/10/2021) memuat tulisan Gregory D. Johnsen dan melaporkan, “Sepertinya Houthi pada akhirnya akan mampu merebut kota Marib yang merupakan pangkalan utama pemerintah dukungan Arab Saudi di Yaman, dan mulai saat itu kita tidak bisa lagi berbicara soal pembentukan sebuah negara yang solid di Yaman.”
 
Ia menambahkan, “Pada Januari 2021, Joe Biden diangkat menjadi Presiden AS, dan memutuskan untuk mengakhiri perang Yaman. Salah satu pejabat pemerintah Biden yang juga menjabat di masa Barack Obama menilai agresi militer ke Yaman sebagai sebuah kesalahan, dan menyebut dukungan Washington untuk Saudi seperti mengendarai kendaraan yang dikemudikan oleh sopir yang mabuk.”
 
Menurut Gregory Johnsen, jawaban Houthi atas AS seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, adalah menyerang kembali Marib, wilayah yang dianggap kunci target utama yaitu pembentukan pemerintahan independen di Yaman, dan menjadi sumber pendapatan negara terutama minyak dan gas.
 
Ia menduga jika Marib berhasil direbut, maka pasukan Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman akan bergerak ke arah selatan, dan Provinsi Shabwa, kemudian menduduki sumur-sumur minyak provinsi ini dan memperluas pangkalan ekonominya. (HS)

Tags