Nov 02, 2021 08:54 Asia/Jakarta

Dalam sebuah wawancara dengan televisi al-Arabiya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud mengatakan bahwa masalah Riyadh dengan Lebanon melampaui pernyataan menteri informasi negara ini, dan bahwa Arab Saudi memiliki masalah dengan sekutu Iran yang meraih kekuasaan di Lebanon dan kawasan.

Dalam beberapa hari terakhir, kritik Menteri Informasi Lebanon George Kordahi terhadap perang di Yaman, dengan alasan bahwa itu adalah perang yang sia-sia dan bahwa Ansarullah memiliki hak untuk membela diri, telah menjadi tantangan serius bagi Arab Saudi. Riyadh mereaksi pernyataan itu dengan menarik duta besarnya dari Lebanon.

Image Caption

Sudah jelas sejak awal bahwa masalah utama Arab Saudi bukanlah komentar kritis Kordahi yang disampaikan sebulan sebelum pengangkatannya sebagai Menteri Informasi Lebanon.

Pernyataan Faisal bin Farhan kepada al-Arabiya menunjukkan bahwa Arab Saudi tidak puas dengan perkembangan di kawasan Asia Barat dan pergeseran perimbangan kekuatan yang mendukung Perlawanan yang dipimpin oleh Republik Islam Iran.

Al Saud menganggap Hizbullah di Lebanon sebagai sekutu terpenting Iran di kawasan Asia Barat dan mencoba untuk menekan Hizbullah di Lebanon lagi dengan dalih pernyataan George Kordahi.

"Lebanon membutuhkan reformasi komprehensif, yang disebabkan oleh dominasi Hizbullah atas keputusan-keputusan penting Lebanon," tegas Faisal bin Farhan.

"Hegemoni Hizbullah atas sistem politik Lebanon mengkhawatirkan kami dan membuat interaksi dengan Lebanon tidak berguna bagi Arab Saudi," tambahnya.

Dalam satu dekade terakhir, Arab Saudi telah mencoba untuk melemahkan poros perlawanan dengan berbagai cara. Ketika gagal melemahkannya, Arab Saudi mencoba untuk mencegah penguatan Poros Perlawanan dan mengubah perimbangan kekuatan di kawasan. Namun yang terjadi, negara ini belum berhasil mencapai tujuannya.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi al-Arabiya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud mengatakan bahwa masalah Riyadh dengan Lebanon melampaui pernyataan menteri informasi negara ini, dan bahwa Arab Saudi memiliki masalah dengan sekutu Iran yang meraih kekuasaan di Lebanon dan kawasan.

Hasil minyak Al Saud masuk ke kantong kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat, sementara posisi Riyadh di kawasan justru melemah.

Pemerintah Saudi percaya bahwa kegagalan ini disebabkan oleh kepemimpinan Iran di Poros Perlawanan dan kesetiaan kelompok Perlawanan terhadap Republik Islam Iran.

Jadi, sementara Arab Saudi sendiri tidak memiliki demokrasi minimal, negara ini telah menghabiskan banyak uang untuk mengalahkan sekutu Iran di Lebanon dan Irak.

Pada saat yang sama, melancarkan konflik internal dan menciptakan konsensus serta menyerang sekutu Republik Islam Iran juga menjadi agenda Al Saud.

Pernyataan Faisal bin Farhan jelas menunjukkan bahwa Arab Saudi telah menggunakan pernyataan Kordahi sebagai alasan untuk menciptakan kerusuhan dan ketidakamanan lebih lanjut di Lebanon demi mencapai tujuan melawan Perlawanan.

Penting untuk dicatat bahwa Arab Saudi meluncurkan putaran baru tekanan pada Lebanon ketika negara ini dijadwalkan untuk mengadakan pemilihan umum legislatif Maret mendatang. Dengan kata lain, ada sekitar 4 bulan tersisa sampai pemilu Parlemen Lebanon yang baru.

Televisi al-Arabiya Arab Saudi

Dengan tekanan pada Lebanon ini, pada tahap awal Arab Saudi dan sekutunya di Dewan Kerja Sama Teluk Persia mencoba untuk mengejar kekalahan Koalisi Perlawanan dalam pemilu mendatang, dan jika mencapai kesimpulan bahwa tidak mungkin untuk mengalahkan Perlawanan, mereka akan membuka jalan bagi penundaan pemilihan parlemen Lebanon dengan menggelar kerusuhan jalanan

Tags