Nov 25, 2021 11:42 Asia/Jakarta

Putra Mahkota UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan kemarin mengunjungi Ankara dan bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Lawatan ini memiliki sejumlah pesan penting yag menunjukkan motif di baliknya. 

Pertama, lawatan ini menandai perubahan kebijakan luar negeri UEA. Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed melakukan perjalanan ke Damaskus bulan ini untuk bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Mohammad bin Zayed juga melakukan percakapan telepon dengan Erdogan.

Sebelumnya, Tahnoon bin Zayed, Penasihat Keamanan Nasional UEA melakukan perjalanan ke Turki tiga bulan lalu. Perubahan kebijakan luar negeri UEA mencerminkan keyakinan pejabatnya terhadap dampak kebijakan luar negeri yang damai terhadap peningkatan posisi UEA.

Kedua, kunjungan Muhammed bin Zayed ke Turki adalah kunjungan pertamanya ke negara ini dalam 10 tahun terakhir yang mengakhiri konflik identitas antara Turki dan UEA. Turki selama ini dikenal sebagai negara pendukung Ikhwanul Muslimin dan berusaha untuk membangun tatanan Ikhwan di kawasan Asia Barat. Namun, UEA sebagai penentang keras Ikhwanul Muslimin, bahkan menempatkannya sebagai organisasi teroris.

Selama beberapa tahun terakhir, perlakuan UEA terhadap Ikhwanul Muslimin menjadi sumber ketegangan dengan Turki, dan UEA juga menentang pengaruh Turki di dunia Arab. Pada saat yang sama, UEA telah berulang kali mengkritik Turki karena mendukung Qatar.

Sebaliknya, Turki mengkritik kudeta militer terhadap pemerintahan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Mohamed Morsi di Mesir, sedangkan UEA mendukung langkah tersebut. Turki juga mendukung Ikhwanul Muslimin di Libya dan menentang perlawanan yang dilancarkan Khalifah Haftar yang didukung UEA, bersama dengan Arab Saudi.

 

 

Perbedaan ini menunjukkan bahwa UEA tidak dapat bergerak menuju aliansi atau penyelarasan kepentingan politik dengan Ankara untuk menghidupkan kembali hubungannya dengan Turki. Tapi dilakukan demi mengurangi ketegangan dalam kebijakan luar negeri UEA. Ketegangan yang meningkat dengan Ankara dalam satu dekade terakhir dipicu ambisi UEA, terutama Mohammed bin Zayed sendiri dan intervensinya dalam urusan internal negara lain.

Dinamika Suriah yang menjadi arena intervensi Abu Dhabi menunjukkan bahwa UEA sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak dapat mengamankan kepentingannya melalui ketegangan dengan kekuatan penting dan aktor berpengaruh seperti Suriah.

Ketiga, salah satu tujuan terpenting dari kunjungan Mohammed bin Zayed ke Turki untuk mempererat hubungan ekonomi dengan negara ini.

UEA berusaha memperkuat hubungannya dengan Turki dengan berinvestasi di dalamnya. Bahkan, UEA berusaha mengamankan kepentingan politiknya melalui pengaruh ekonomi.

Sehubungan dengan itu, awal bulan ini, rute transit dari Turki ke UEA melalui Iran dibuka kembali, yang mengurangi pengiriman barang antara kedua negara dari 20 hari melalui laut ke Terusan Suez menjadi sekitar 6 hingga 8 hari dan berdampak besar dalam mengembangkan hubungan kedua negara.

Poin terakhir, UEA juga berusaha untuk bersaing dengan Arab Saudi dan Qatar melalui hubungannya dengan Turki, serta menghidupkan kembali hubungan dengan Suriah dan bernegosiasi dengan Iran.(PH)

Tags