Des 04, 2021 11:47 Asia/Jakarta

Para pemimpin kelompok politik Syiah baru-baru ini berkumpul di rumah pemimpin Koalisi Al-Fatah Hadi al-Amiri untuk membahas masalah politik nasional negaranya.

Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh penting seperti: Nouri al-Maliki, Muqtada al-Sadr, Haider al-Abadi, Qais al-Khazali, Hammam al-Hamoudi dan Faleh Fayyaz.

Pemilihan umum legislatif Irak telah selesai diadakan pada 10 Oktober lalu, dan hasilnya sudah diumumkan. Di Irak, perdana menteri dicalonkan dari kalangan kelompok Syiah. Untuk mencalonkan Perdana Menteri, perlu membentuk faksi yang lebih besar  di parlemen.

Sebuah faksi yang lebih besar dengan memenangkan 50 persen plus satu suara dapat mencalonkan seorang perdana menteri. Hasil pemilu 10 Oktober itu memungkinkan untuk membentuk faksi besar dengan koalisi beberapa kelompok. Masalahnya, hasil pemilu tersebut memicu munculnya dikotomi antarkelompok Syiah.

Fraksi Sadr yang dipimpin oleh Muqtada al-Sadr dan koalisi supremasi hukum yang dipimpin oleh Nouri al-Maliki dan kelompok-kelompok yang dekat dengannya berada dalam dikotomi ini. Oleh karena itu, pertemuan yang diadakan di rumah Hadi al-Amiri bertujuan untuk mengatasi kebuntuan politik dan menghilangkan hambatan dalam pembentukan pemerintahan baru Irak.

Tampaknya, pertemuan yang dihadiri para pemimpin kelompok Syiah termasuk Muqtada al-Sadr, Nouri al-Maliki dan Qais al-Khazali merupakan langkah maju dan menjanjikan untuk pemulihan hubungan mereka. Lebih dari itu, sebagai langkah paling serius yang diambil oleh kelompok politik Syiah untuk menyelesaikan krisis politik pasca pemilu legislatif 10 Oktober 2021. Pertemuan ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk menghasilkan kesepakatan politik bersama.

Para pemimpin politik Syiah Irak membahas pembentukan pemerintah baru yang melibatkan koalisi terpenting dari Komite Koordinasi Politik Syiah yaitu: Daulat al-Qanun, Fatah, Harakat al-Hikmah, Nasr, Aqd al-Watani, dan Hizb al-Fadhila.

 

Muqtada al-Sadr

 

Dengan demikian, dalam praktiknya, Komite Koordinasi merupakan salah satu tiang utama Dewan Politik Syiah, yang menurut hasil resmi, secara langsung memegang 60 kursi di parlemen. Dengan masuknya perwakilan independen dan arus dekat, mereka secara kolektif dapat memegang sekitar 75 kursi di parlemen. 

Jika dua kutub Syi'ah setuju, mereka akan membutuhkan 17 kursi lagi untuk membentuk koalisi besar, yang tentu saja tidak akan menjadi tugas yang sulit. Meski demikian masih ada jalan panjang bagi kedua kutub untuk mendekat. Beberapa pihak percaya bahwa jarak antara kelompok-kelompok ini sangat jauh sehingga akan lebih mudah untuk membentuk aliansi antara mereka dan kelompok non-Syiah lainnya. 

Poin penting lainnya mengenai pertemuan para pemimpin politik kelompok Syiah Irak hari Kamis (2/12/2021) menunjukkan bahwa mereka menekankan perlunya negara mengatasi konflik internal dan mempertimbangkan menjaga keamanan dan stabilitas Irak sebagai salah satu prioritas utama mereka.

Terkait hal itu, Fadi Al-Shammari, anggota Gerakan Kearifan Nasional yang dipimpin oleh Seyyed Ammar Al-Hakim, mengungkapkan hasil pertemuan antara para pemimpin Komite Koordinasi Syi'ah dan Muqtada al-Sadr di rumah Hadi Amiri yang menekankan penyelesaian konflik internal.

Hassan al-Azari, kepala faksi Sadr di parlemen Irak, juga mengungkapkan dalam cuitan di Twitternya, "Pada pertemuan Kamis, Sadr menjelaskan semua poin dalam dialog yang jujur, dan hanya kepentingan nasional Irak yang menjadi pertimbangan,"(PH)

Tags