Jan 07, 2022 08:35 Asia/Jakarta

Dengan dimulainya tahun baru 2022, pasukan AS semakin sering diserang di Irak.

Dalam beberapa hari terakhir, pangkalan militer Ain al-Assad di Irak barat telah menjadi sasaran serangan kelompok-kelompok Perlawanan Irak. Pada Rabu (05/01/2022) malam, lima roket ditembakkan ke pangkalan Ain al-Assad, yang menyebabkan basis militer itu mengaktifkan sistem anti-rudal C-RAM AS.

Hanya beberapa jam setelah serangan roket, pangkalan itu juga menjadi sasaran drone. Konvoi AS lainnya diserang di provinsi Babil, Irak tengah dan satu lagi di provinsi Samawah selatan.

Pangkalan militer Ain al-Assad

Kelompok, yang dikenal sebagai Qasim al-Jabbarin, secara resmi mengaku bertanggung jawab atas sebagian besar serangan dalam sebuah pernyataan.

Serangan-serangan ini terutama menunjukkan kesenjangan antara pemerintah dan rakyat Irak.

Banyak warga Irak menyerukan penarikan penuh pasukan AS dari negara itu karena mereka percaya bahwa kehadiran pasukan ini bukan hanya tidak menguntungkan keamanan Irak, tetapi juga melanggar kedaulatan dan kemerdekaannya.

Salah satu contohnya adalah teror terhadap Abu Mahdi al-Muhandis, wakil kepala al-Hashd al-Shaabi dan menggugursyahidkan puluhan pasukan Perlawanan Irak di dalam negeri oleh pemerintah AS.

Apa yang dilakukan pemerintah Irak dalam menanggapi tuntutan hak-hak rakyat Irak adalah mengubah sifat militer AS dari "tempur" menjadi "penasihat" di Irak.

Menurut kesepakatan Juli 2021 antara pemerintah Baghdad dan Washington, pasukan AS akan meninggalkan Irak pada akhir tahun lalu (2021) dan sejumlah penasihat untuk melatih pasukan Irak akan tetap berada di negara itu.

Dengan dimulainya tahun baru 2022, pasukan AS semakin sering diserang di Irak.

Meskipun para pejabat Irak, termasuk Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi, mengumumkan penarikan pasukan tempur AS akhir tahun lalu, banyak laporan menunjukkan bahwa 2.400 tentara AS tetap berada di Irak sebagai penasihat.

Tidak ada angka pasti untuk jumlah pasukan Amerika Serikat di Irak sebelum akhir tahun 2021, tetapi pakar keamanan Irak Tariq al-Rubaye mengatakan, "Jumlah pasukan Amerika yang ditempatkan di pangkalan yang tidak diketahui adalah 5.000 personel."

Dengan demikian, setengah dari pasukan AS masih akan berada di Irak. Hal ini menjadi faktor penting dalam friksi yang terjadi antara rakyat dan pemerintah Irak.

Masalah lain adalah bahwa kelompok-kelompok Perlawanan Irak telah berulang kali menyatakan bahwa mereka memiliki hak untuk menghadapi agresor dan penjajah jika pasukan AS hadir di negara itu.

Oleh karenanya, serangan berulang terhadap pasukan AS merupakan eksekusi dari peringatan yang sebelumnya dikeluarkan oleh kelompok-kelompok Perlawanan Irak.

Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa bentrokan antara kelompok Irak dan pasukan AS akan berlanjut di tahun baru dan bahkan bisa lebih besar dari sebelumnya.

Sejatinya, ini adalah hasil dari implementasi yang tidak lengkap dari resolusi 5 Januari 2020 Parlemen Irak oleh pemerintah Irak dan pemerintah Washington.

Sesuai dengan yang telah disahkan parlemen, semua pasukan asing harus meninggalkan Irak, dan tidak ada izin yang diberikan bagi pasukan ini untuk tetap menjadi penasihat.

Konvoi pasukan AS

Intinya adalah bahwa, meskipun pasukan AS telah ditargetkan di Irak barat, tengah dan selatan, sebagian besar serangan difokuskan pada pangkalan Ain al-Assad di barat.

Karena tampaknya sebagian besar pasukan Amerika ditempatkan di Ain al-Assad, meskipun faktanya dikatakan bahwa tanggung jawab pangkalan ini telah dialihkan ke militer Irak.

Tags