Jan 19, 2022 20:27 Asia/Jakarta
  • Reaksi Beragam terhadap Operasi Badai Yaman Melawan UEA

Operasi badai Yaman terhadap UEA yang berlangsung Senin, 17 Januari 2022 memicu reaksi luas.

Serangan drone dan rudal Yaman menyebabkan ledakan di dekat kilang minyak Uni Emirat Arab (UEA) dan Bandara Internasional Abu Dhabi yang menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai enam lainnya. Serangan yang disebut Operasi Badai ini telah memicu reaksi luas dari berbagai kalangan yang beragam, terutama di kawasan Asia barat.

Kelompok-kelompok perlawanan mengutuk UEA atas kejahatan dan campur tangannya di kawasan tersebut, termasuk dalam urusan Yaman, dan menyebut tindakan Yaman sebagai kemenangan.

"Kami mengucapkan selamat kepada saudara-saudara kami dalam pemerintahan penyelamatan nasional atas kemenangan mereka melawan rezim UEA, yang merupakan sumber kehancuran dan lengan kejahatan dan arogansi di kawasan," ujar Sheikh Ali al-Asadi, ketua Dewan Politik Al Nujaba Irak dalam pesan Twitternya.

UEA terpaksa membatalkan rencana pertemuan antara Putra Mahkota Abu Dhabi dengan Presiden Korea Selatan, dan mengklaim bahwa tindakan milisi Houthi merusak stabilitas kawasan dan memengaruhi nasib keamanannya.

Sementara itu, Arab Saudi memiliki reaksi terkuat. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengklaim bahwa kelompok Houthi merupakan ancaman bagi keamanan, perdamaian, dan stabilitas di kawasan dan dunia.

 

 

Lebih dari itu, Arab Saudi juga menyerang Yaman dalam praktiknya. Jet-jet tempur agresor Saudi menyerang kompleks perumahan di ibu kota Yaman, Sanaa, yang menewaskan 12 orang, termasuk sejumlah wanita dan anak-anak, dan melukai 11 lainnya. Sejumlah korban juga berada di bawah reruntuhan, dan operasi sedang dilakukan untuk menemukan orang-orang yang mungkin masih hidup di bawah reruntuhan.

Pemerintah Turki adalah salah satu negara non-Arab di kawasan Asia Barat yang mengecam operasi Yaman terhadap UEA. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyebut operasi Yaman melawan Abu Dhabi sebagai tindakan teroris, dan mengutuk operasi tersebut sambil menyatakan solidaritasnya terhadap UEA. Posisi Turki ini terkait langsung dengan perubahan baru-baru ini dalam hubungan antara Ankara dan Abu Dhabi setelah periode yang tegang.

Pemerintah AS dan beberapa negara Eropa juga bereaksi terhadap Operasi Badai Yaman. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price mengutuk operasi perlawanan Yaman di Abu Dhabi, dan mengklaim operasi itu menargetkan sasaran sipil, termasuk Bandara Internasional Abu Dhabi. AS mengklaim serangan pasukan Yaman menargetkan wilayah sipil, pada saat yang sama Washington bersifat pasif terhadap pembunuhan warga sipil yang dilancarkan koalisi agresor Saudi-Emirat melawan Yaman selama tujuh tahun terakhir.

Jet tempur agresor Saudi-Amerika secara langsung menyerang rumah warga sipil, menghancurkan lima di antaranya. Namun, tidak ada reaksi dari Amerika Serikat atau negara-negara Eropa yang mengutuk penargetan warga sipil Yaman.

Standar ganda Barat menyikapi masalah ini sepenuhnya membuktikan bahwa hak asasi manusia hanya sekedar alat belaka demi kepentingannya.

Tidak diragukan lagi, apa yang dilakukan Yaman terhadap UEA baru-baru ini adalah contoh pembelaan yang sah dalam Pasal 51 Piagam PBB. Sebab, UEA adalah anggota kunci dari koalisi Saudi, yang telah mengintensifkan gerakan anti-Yaman, terutama dalam beberapa bulan terakhir.(PH)

Tags