Jan 24, 2022 20:26 Asia/Jakarta
  • Anasir Daesh di Suriah (dok)
    Anasir Daesh di Suriah (dok)

Selama beberapa hari terakhir pergerakan anasir kelompok teroris Takfiri Daesh (ISIS) di Irak dan Suriah telah memicu kekhawatiran akan bangkitnya kembali kelompok teroris ini.

Sisa-sisa anasir teroris Daesh dalam beberapa hari terakhir melancarkan dua aksi di Suriah dan Irak. Sisa-sisa anasir Daesh di Irak menyerang wilayah Hawi al-Adhim di Provinsi Diyala. Dalam serangan tersebut sedikitnya 11 tentara Irak terbunuh. Sementara di Suriah, sisa-sisa anasir Daesh menyerang penjara Ghawiran di Provinsi al-Hasakah dan membantai sedikitnya 120 orang, dan melukai sejumlah besar orang lainnya. Selama serangan ke penjara al-Hasakah, tokoh-tokoh berbahaya Daesh lari dari penjara.

Pergerakan ini mengindikasikan bahwa Daesh masih menjadi sebuah ancaman keamanan dan mereka berusaha memperluas aktivitasnya di Irak dan Suriah. Hanya di Irak saja, sisa-sisa anasir Daesh selama bulan Januari hingga Oktober 2021 sedikitnya merancang dan melancarkan 170 aksi teror yang mengakibatkan 873 orang tewas, terluka dan diculik.

Anasir Daesh

Gerakan ini khususnya kejahatan Hawi al-Adhim memicu kekhawatiran petinggi dan tokoh-tokoh Irak. Mantan perdana menteri Irak, Haider al-Abadi di cuitan Twitternya menulis, "Terorisme dan perpecahan politik mengancam negara kita, dan Irak membutuhkan persatuan dan solidaritas seluruh kekuatan."

Namun pertanyaan penting di sini adalah mengapa aktivitas Daesh meningkat di rentang waktu ini dan lebih sadis ?

Sepertinya seperti yang disinggung Haider al-Abadi, perpecahan politik dan tidak adanya pemerintahan pusat yang kuat merupakan faktor penting dalam hal ini. Pada dasarnya Daesh aktif di lingkungan yang tidak ada konsensus, solidaritas nasional dan pemerintahan yang kuat. Di Irak, meski telah lewat empat bulan dari pemilu parlemen, tapi sampai saat ini belum ada peluang yang tepat untuk membentuk pemerintahan baru, dan friksi politik antar-faksi masih terlihat nyata. Sementara di Suriah, pemerintah Damaskus tidak memiliki kekuatan yang cukup dengan kehadiran milisi Kurdi, pasukan Amerika dan Turki di wilayah utara negara ini.

Hal lain adalah pergerakan Daesh seiring dengan eskalasi tuntutan di Irak untuk mengusir penuh pasukan Amerika dari negara ini. Oleh karena itu, sepertinya ada hubungan antara gerakan Daesh dan isu penarikan pasukan Amerika. Amerika dalam hal ini sepertinya berencana memberi peringatan bahwa tuntutan penarikan penuh militer Amerika dari Irak akan menimbulkan dampak keamanan bagi Baghdad.

Di sisi lain, Amerika melalui represi terhadap pemerintah Suriah dan upaya untuk mencegah semakin kuatnya pemerintah Damaskus, serta melalui perencanaan anti-Hashd al-Shaabi di Irak membantu teroris di negara-negara tersebut.

Poin terakhir terkait babak baru aktivitas sisa-sisa anasir Daesh adalah aksi ini akan terulang dan mengambil korban lain, tapi bukan berarti hidupnya kembali kelompok ini secara total seperti tahun 2014 karena bahkan Barat telah mengalami kejahatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut yang dilakukan di berbagai negara, termasuk Irak, dan tidak ingin kelompok teroris ini hidup kembali. Namun, kenyataannya adalah bahwa ada celah keamanan di Irak dan Suriah, untuk alasan yang disebutkan, serta alasan penting lainnya, dan celah ini dapat terus menjadi ancaman Daesh bagi negara-negara ini. (MF)

 

 

Tags