May 14, 2022 17:31 Asia/Jakarta
  • Shireen Abu Akleh
    Shireen Abu Akleh

Perkembangan di negara-negara Asia Barat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting seperti Tentara Zionis Semakin Brutal, Jurnalis Aljazeera Gugur Ditembak.

Selain itu, masih ada isu lain seperti Brigade al-Qassam Kecam Pembunuhan Jurnalis Al Jazeera, Ini Pernyataan Sekjen Hizbullah atas Kesyahidan Jurnalis Aljazeera, Jihad Islam: Perlawanan, Opsi Tunggal Lawan Rezim Zionis !, Menteri Kebudayaan Lebanon: Rezim Zionis Dekat dengan Kehancuran, Lebanon: Barat Harus Akui Bahwa Suriah Negara Kuat, Raja Saudi Ucapkan Selamat Hari Kemenangan kepada Putin, Suriah: Kami Sama Sekali Tak Ingin Berdialog dengan Turki, Menlu Yordania: Rezim Zionis Tidak Berhak Kuasai Masjid Al Aqsa, Irak Minta Negara Dunia Bantu Tangani Ratusan Keluarga Teroris Daesh, Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Zayed Meninggal Dunia.

Tentara Zionis Semakin Brutal, Jurnalis Aljazeera Gugur Ditembak

Seorang reporter TV Al-Jazeera gugur akibat terjangan peluru tentara rezim Zionis di kamp Jenin.

Salah satu pejabat Palestina melaporkan bahwa jurnalis bernama Shireen Abu Akleh itu dibunuh pasukan rezim Zionis saat melaporkan serangan tentara Israel di kota Jenin.

Shireen Abu Akleh

Kementerian Kesehatan Palestina kemudian mengonfirmasi kematian Abu Akleh, dan melaporkan seorang reporter lain, Ali Samodi, mengalami luka-luka akibat serangan tentara rezim Zionis yang semakin brutal.

Al-Jazeera melaporkan jurnalisnya yang mengenakan rompi antipeluru, ditembak di kepala oleh pasukan Israel di pintu masuk kamp Jenin.

Rezim Zionis menyerang berbagai bagian Palestina setiap hari, serta membunuh, melukai dan menangkap orang-orang Palestina demi mewujudkan tujuannya.

Brigade al-Qassam Kecam Pembunuhan Jurnalis Al Jazeera

Sayap militer Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas), Brigade Syahid Izzuddin al-Qassam mengutuk pembunuhan terhadap jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh oleh tentara rezim Zionis Israel.

Jurnalis Shireen Abu Akleh, 51 tahun, adalah salah satu wartawati paling terkenal di dunia Arab. Dia ditembak mati di kepala pada Rabu (11/5/2022) pagi oleh tentara Zionis.

Abu Akleh bekerja sebagai jurnalis Al Jazeera sejak tahun 1997, setahun setelah jaringan ini diluncurkan. Dia adalah wartawati senior dalam jaringan tersebut

Jurnalis yang telah meliput konflik selama beberapa dekade ini sempat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong. Dia meliput serangan militer Zionis di Jenin utara dan kamp pengungsi terdekat.

Abu Akleh mengenakan rompi pers yang dengan jelas menandai dia sebagai seorang jurnalis saat meliput di kota Jenin.

Dia juga mengenakan helm yang ditandai dengan jelas sebagai "PRESS". Wartawan lainnya, Ali Samoudi juga terluka dalam insiden tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, kejahatan rezim Zionis terhadap Palestina telah meningkat secara signifikan dalam berbagai dimensi. Puluhan warga Palestina tewas dan ratusan lainnya terluka.

Rezim Zionis melanjutkan kebijakan pendudukannya dengan merampas hak-hak beragama rakyat Palestina dan melakukan kekerasan yang meluas sebagai tanggapan atas kehadiran mereka di Masjid al-Aqsa.

"Kejahatan keji dan mengerikan ini adalah tindakan yang biasa dilakukan dan permanen dari musuh Zionis dalam menargetkan jurnalis dan warga sipil di Palestina," kata Brigade al-Qassam dalam pernyataannya pada hari Kamis (12/5/2022) seperti dilansir ISNA.

Al-Qassam menekankan bahwa kejahatan itu sekali lagi menunjukkan kebrutalan penjajah dan upaya gagal rezim Zionis untuk menyembunyikan kejahatannya serta untuk membungkam suara kebenaran.

Pembunuhan terhadap Shireen bukanlah kejahatan pertama yang dilakukan oleh rezim Zionis terhadap jurnalis Palestina.

Menurut Kementerian Informasi Palestina, 45 jurnalis telah gugur syahid di tangan rezim Zionis sejak Intifada Kedua Palestina pada tahun 2000.

Tujuan dari kejahatan rezim Zionis tersebut adalah untuk mencegah penyebaran berita, gambar dan video dari tindakan tidak manusiawi mereka di wilayah pendudukan.

Rezim zionis sedang melakukan kejahatan penghilangan fisik jurnalis untuk mencegah pemberitaan fakta yang terjadi di wilayah pendudukan dan wilayah Palestina.

Ini Pernyataan Sekjen Hizbullah atas Kesyahidan Jurnalis Aljazeera

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah menyatakan belasungkawa atas kesyahidan Shireen Abu Akleh, jurnalis Aljazeera di tangan pasukan rezim Zionis, dan mengatakan bahwa para penguasa Arab yang berkompromi dengan rezim Zionis harus malu atas kesyahidan Shireen Abu Akleh.

Sayid Hasan Nasrullah

Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon hari Jumat (13/5/2022) mengatakan bahwa kesyahidan Shireen Abu Akleh adalah bukti kejahatan rezim Zionis dan penindasannya terhadap rakyat Palestina.

"Pesan terkuat dari kesyahidan Abu Akleh adalah bahwa dia adalah seorang Kristen, tapi memahami realitas kejahatan brutal rezim Zionis yang tidak berubah dalam melanjutkan pembantaian terhadap Palestina hingga Lebanon dan Mesir," ujar Sekjen Hizbullah Lebanon.

"Para penguasa yang berkompromi dengan Israel seharusnya malu dengan kesyahidan Abu Akleh, dan setiap orang berisiko menghadapi kebijakan rasis dan tidak manusiawi rezim Zionis," tegasnya.

Nasrullah juga menegaskan bahwa rezim Zionis menginginkan rakyat Lebanon melucuti front perlawanan dan senjatanya, dan berusaha mengisolasi perlawanan melalui pengepungan, tekanan, tuduhan dan distorsi fakta.

"Senjata perlawanan tidak menghentikan siapa pun yang memperbaiki listrik dan bendungan, juga tidak memaksakan kebijakan keuangan yang menjadi bencana nasional dalam beberapa dekade terakhir. Sebab Amerika Serikat yang menyelundupkan dana deposan keluar dari Lebanon supaya rakyat negara ini kelaparan," papar Sekjen Hizbullah Lebanon.

"Kita menyaksikan penyebaran kebencian yang masif di Lebanon, tapi pemungutan suara dalam pemilu 15 Mei  mengirimkan pesan kepada semua konspirator mengenai perlawanan dan masa depan Lebanon," pungkasnya.

Jihad Islam: Perlawanan, Opsi Tunggal Lawan Rezim Zionis !

Juru bicara gerakan Jihad Islam Palestina mengecam serangan rezim Zionis terhadap pemakaman jurnalis Al-Jazeera, Shireen Abu Akleh, dan menegaskan tidak ada opsi menghadapi rezim Zionis selain perlawanan.

Televisi Al-Jazeera hari Sabtu (14/5/2022) melaporkan, Dawood Shahab, Pejabat Informasi Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan bahwa serangan tentara Zionis terhadap pemakaman wartawan Al-Jazeera Shireen Abu Akleh adalah kejahatan baru yang dilakukan oleh rezim pendudukan di Al Quds.

Dawood Shahab

"Rezim Zionis saat ini berada dalam kesulitan, dan serangan rezim agresor ini terhadap Quds dan orang-orang yang hadir di pemakaman Shireen Abu Akleh, serta serangan terhadap kamp Jenin yang menyebabkan 10 orang terluka, mencerminkan sifat biadabnya," ujar Shahab.

"Bagi kita sebagai bangsa Palestina dan perlawanan, tidak ada cara, pendekatan dan metode selain melawan dan menghadapi agresi serta serangan harian terhadap orang-orang Palestina yang dilakukan rezim Zionis," tegasnya.

Pejabat Jihad Islam Palestina ini menambahkan bahwa rezim Zionis tidak mundur dalam menghadapi volume kecaman internasional yang tinggi setelah pembunuhan Shireen Abu Akleh, dan tetap melanjutkan kejahatannya terhadap pemakaman jurnalis Palestina ini.

"Semua seruan untuk menenangkan situasi tidak ada gunanya. Sebab, pengalaman menunjukkan bahwa rezim Zionis tidak berhenti membunuh dan melakukan pertumpahan darah. Oleh karena itu kita harus menghadapi dan melawan rezim agresor ini," pungkasnya.

Menteri Kebudayaan Lebanon: Rezim Zionis Dekat dengan Kehancuran

Menteri Kebudayaan Lebanon Mohammed Wassam al-Murtada dalam sebuah pernyataan terbaru menanggapi gugurnya reporter Al Jazeera di Palestina.

"Semakin banyak kejahatan yang dilakukan rezim Zionis (Israel), rezim ini akan semakin dekat dengan kehancuran," ujarnya seperti dilansir Farsnews, Kamis (12/5/2022).

Jurnalis Shireen Abu Akleh, 51 tahun, adalah salah satu wartawati paling terkenal di dunia Arab. Dia ditembak mati di kepala pada Rabu (11/5/2022) pagi oleh tentara Zionis.

Abu Akleh bekerja sebagai jurnalis Al Jazeera sejak tahun 1997, setahun setelah jaringan ini diluncurkan. Dia dalah wartawati senior dalam jaringan tersebut

Jurnalis yang telah meliput konflik selama beberapa dekade ini sempat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong. Dia meliput serangan militer Zionis di Jenin utara dan kamp pengungsi terdekat.

Abu Akleh mengenakan rompi pers yang dengan jelas menandai dia sebagai seorang jurnalis saat meliput di kota Jenin.

Dia juga mengenakan helm yang ditandai dengan jelas sebagai "PRESS". Wartawan lainnya, Ali Samoudi juga terluka dalam insiden tersebut.

Menteri Kebudayaan Lebanon menekankan bahwa pembunuhan terhadap Shireen tidak akan membunuh hak untuk "pembebasan".

Menurutnya, perlawanan adalah alat yang efektif melawan penjajah, dan bahwa al-Quds akan menang dengan perlawanan.

Pembunuhan terhadap Shireen bukanlah kejahatan pertama yang dilakukan oleh rezim Zionis terhadap jurnalis Palestina.

Menurut Kementerian Informasi Palestina, 45 jurnalis telah gugur syahid di tangan rezim Zionis sejak Intifada Kedua Palestina pada tahun 2000.

Tujuan dari kejahatan rezim Zionis tersebut adalah untuk mencegah penyebaran berita, gambar dan video dari tindakan tidak manusiawi mereka di wilayah pendudukan.

Rezim zionis sedang melakukan kejahatan penghilangan fisik jurnalis untuk mencegah pemberitaan fakta yang terjadi di wilayah pendudukan dan wilayah Palestina.

Lebanon: Barat Harus Akui Bahwa Suriah Negara Kuat

Menteri Luar Negeri Lebanon menekankan pemulangan pengungsi Suriah, dan mengatakan bahwa negara-negara Eropa, serta masyarakat internasional harus yakin bahwa Suriah adalah sebuah negara kuat.

Abdallah Bou Habib, Senin (9/5/2022) seperti dikutip situs El Nashra menuturkan bahwa situasi di Lebanon benar-benar buruk, dan jika para pengungsi Suriah tidak dipulangkan ke negaranya, maka situasi ini akan bertambah buruk.

Abdallah Bou Habib

Menlu Lebanon menambahkan, "Kami berpartisipasi dalam pertemuan khusus dukungan atas masa depan Suriah dan kawasan, dalam rangka meminta bantuan bagi kami dan pengungsi Suriah, sehingga mereka bisa kembali ke negaranya dalam kondisi selamat dan aman. Ini adalah permintaan terpenting kami. Negara-negara donor sudah lelah membantu pengungsi, dan sekarang memusatkan perhatian ke krisis Ukraina."

Menurut Abdallah Bou Habib, pemulangan pengungsi Suriah lebih mudah, terutama setelah pengampunan massal yang diberikan pemerintah Damaskus, dan mereka bisa kembali ke negaranya tanpa hambatan apa pun.

"Kita harus berunding dengan pemerintah Suriah soal pemulangan pengungsi, dan negara-negara Eropa serta masyarakat internasional harus yakin bahwa Suriah adalah sebuah negara kuat yang bertanggung jawab atas rakyatnya, dan menguasai sebagian besar wilayah negara itu," pungkasnya.

Raja Saudi Ucapkan Selamat Hari Kemenangan kepada Putin

Media Arab Saudi mengabarkan, Raja Saudi dan Putra Mahkota negara itu menyampaikan selamat atas Hari Kemenangan kepada Presiden Rusia.

Raja Saudi Salman bin Abdulaziz, dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Senin (9/5/2022) mengucapkan selamat Hari Kemenangan untuk mengenang berakhirnya Perang Dunia II, kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Raja Arab Saudi dan Putra Mahkota mendoakan keselamatan bagi Vladimir Putin, dan kebahagiaan bagi rakyat dan pemerintah Rusia.

Terkait krisis yang terjadi di Ukraina, sebelumnya Arab Saudi menekankan solusi politik untuk menyelesaikan krisis ini. Di sisi lain, tanggal 9 Mei di Rusia dirayakan sebagai hari berakhirnya perang Eropa, dan ditetapkan sebagai Hari Kemenangan.

Dalam pidatonya di Hari Kemenangan, Putin mengatakan, negara-negara Barat tengah bersiap menginvasi Rusia, dan Semenanjung Krimea.

Suriah: Kami Sama Sekali Tak Ingin Berdialog dengan Turki

Duta Besar Suriah untuk Rusia memprotes kebijakan permusuhan yang diterapkan Turki terhadap negaranya. Menurutnya, Damaskus sama sekali tidak bermaksud melakukan dialog dengan Ankara.

Riyad Haddad, Minggu (8/5/2022) seperti dikutip Russia Today mengumumkan, pemerintah Suriah sama sekali tidak punya rencana untuk memulai dialog dengan pemerintah Turki, terkait penyelesaikan konflik dua negara.

Ia menambahkan, "Turki secara berkala memutus aliran air bagi jutaan warga Suriah di Provinsi Al Hasakah, selain itu Ankara juga telah mengurangi kewajiban-kewajiban penting sebagai pemerintah penjamin perundingan dalam proses perundingan Astana."

Menurut Dubes Suriah, perundingan Astana berlandaskan pada penghormatan terhadap Suriah, dan integritas teritorialnya, sementara Turki terus mendukung kelompok teroris, dan menunda-nunda penyelesaian damai konflik.

Oleh karena itu, katanya, Suriah sama sekali tidak punya rencana menggelar dialog Suriah-Turki, selama Ankara tidak menghentikan kebijakan agresinya terhadap Damaskus.

Riyad Haddad menegaskan, "Suriah selalu siap melakukan dialog dengan negara mana pun yang menghormati kedaulatan dan integritas teritorialnya."

Menlu Yordania: Rezim Zionis Tidak Berhak Kuasai Masjid Al Aqsa

Menteri Luar Negeri Yordania mengatakan bahwa rezim Zionis tidak memiliki kedaulatan atas tempat-tempat suci di Al Quds, terutama Masjid Al Aqsa.

Televisi Al-Mayadeen hari Rabu (11/5/2022) melaporkan, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman al-Safadi menyatakan bahwa Al Quds adalah wilayah Palestina yang diduduki, dan rezim Zionis tidak memiliki hak kendali atas Masjid Al-Aqsa.

"Setiap upaya untuk mengubah status historis dan hukum tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Al Quds adalah permainan api yang menantang perasaan umat Islam dan memicu eskalasi ketegangan di kawasan," ujar Menlu Yordania.

Ayman al-Safadi

Sebelumnya, Komite Palestina di Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menolak pernyataan Perdana Menteri Rezim Zionis Naftali Bennett tentang kedaulatan Israel atas Quds dan Masjid Al-Aqsa, dan mendesaknya untuk tidak menguji kesabaran dua miliar Muslim dunia.

Sekretaris Jenderal Liga Arab menilai agresi rezim Zionis di Quds mengancam keamanan dan stabilitas kawasan.

Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit hari Senin mengecam pernyataan terbaru Perdana Menteri Rezim Zionis tentang kepemilikan Israel atas Quds dan Masjid Aqsa, dan menekankan dukungannya terhadap perlawanan rakyat Palestina dalam mempertahankan Quds.

Nabil Abu Radineh, Juru Bicara Otoritas Palestina juga menanggapi klaim Perdana Menteri rezim Zionis, dengan menekankan bahwa semua wilayah Al Quds adalah milik Palestina

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett kemarin mengatakan bahwa Israel akan memutuskan masalah kuil Sulaiman dan Al Quds tanpa memperhatikan tuntutan pihak asing.

Irak Minta Negara Dunia Bantu Tangani Ratusan Keluarga Teroris Daesh

Menteri luar negeri Irak mengungkapkan adanya 500 anggota keluarga anggota kelompok teroris Daesh di kamp Al-Hul Suriah yang berada dekat Irak, dan meminta negara-negara dunia mengambil warganya masing-masing yang menjadi anggota kelompok teroris di negaranya dan Suriah.

Menurut Mawazin News, Menteri Luar Negeri Irak Fouad Hussein dalam pertemuan Koalisi Internasional Melawan Daesh di Maroko pada Rabu (11/5/2022) malam menekankan pentingnya menyelesaikan situasi kemanusiaan keluarga di kamp Al-Hul di Suriah dan mencegah Daesh menyusup dan menyebarkan ideologi terorisnya ke berbagai negara dunia.

Menlu Iran meminta negara-negara anggota koalisi internasional untuk membantu merelokasi keluarga Daesh di kamp Al-Hul dan merencanakan rehabilitasi mereka.

"Sekitar 500 keluarga Irak kembali dari Al-Hul ke kamp Al-Jada di provinsi Nineveh. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak," ujarnya

Ia juga meminta negara-negara untuk mematuhi komitmen internasional mereka dalam resolusi internasional tentang kontraterorisme dan pendanaannya, dan  bekerja lebih keras untuk mengontrol perbatasan dari keberadaan elemen teroris, operasi keuangan yang dicurigai, dan perdagangan ilegal dengan Daesh dan kelompok teroris lainnya, juga penguatan metode dan alat untuk memantau kelompok teroris.

Kamp Al-Hul terletak 15 kilometer dari perbatasan Suriah-Irak dan merupakan kamp terbesar elemen Daesh di Irak dan Suriah, yang dikendalikan oleh Pasukan Demokratik Kurdi Suriah pimpinan AS.

Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Zayed Meninggal Dunia

Kementerian Urusan Kepresidenan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan Presiden dan Penguasa Abu Dhabi, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan meninggal dunia pada  Jumat (13/5).

Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan

Kementerian Urusan Kepresidenan menyampaikan belasungkawa kepada rakyat UEA atas berpulangnya Yang Mulia Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, presiden UEA. Semoga rakyat UEA diberikan ketabahan dan kesabaran, demikian menurut pernyataan dari Kementerian Urusan Kepresidenan Uni Emirat Arab (UEA).

Dikutip dari Kantor Berita Negara, Emirates News Agency, rakyat Uni Emirat Arab diminta menaikkan bendera setengah tiang selama empat puluh hari sebagai tanda berkabung. Pengibaran bendera setengah tiang itu dimulai pada Jumat (13/5).

Kementerian Urusan Kepresidenan juga mengumumkan bahwa pekerjaan akan ditangguhkan di semua kementerian, departemen, dan entitas federal, lokal dan swasta selama tiga hari.

Khalifa bin Zayed Al Nahyan menjabat sebagai Presiden UEA dan Penguasa Abu Dhabi sejak 3 November 2004.

Dia terpilih menggantikan ayahnya, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, yang menjabat sebagai presiden pertama UEA sejak persatuan pada tahun 1971 hingga meninggal pada 2 November 2004.

 

Tags