May 14, 2022 19:29 Asia/Jakarta
  • Shireen Abu Akleh, reporter Aljazeera
    Shireen Abu Akleh, reporter Aljazeera

Sebanyak 250 organisasi dan lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) seraya merilis statemen bersama menuntut rezim Zionis Israel diadili karena menteror reporter Televisi Aljazeera.

Militer rezim Zionis Rabu (11/5/2022) dini hari menembak mati Shireen Abu Akleh, reporter televisi Aljazeera, Qatar di dekat kamp Jenin di Tepi Barat Sungai Jordan saat meliput bentrokan antara Zionis dan warga Palestina.

Pada awalnya rezim Zionis mengklaim bahwa Palestina yang membunuh Shireen Abu Akleh dan menolak menerima tanggung jawab kejahatan ini.

Setelah tiga hari dari kejahatan ini, militer rezim Zionis mengumumkan, penyelidikan yang ada menunjukkan bahwa salah satu tentara unit rahasia  Duvdevan yang berada di 100-150 meter dari lokasi gugurnya Abu Akleh dan di sebuah operasi militer memuntahkan puluhan peluru ke arah lokasi Abu Akleh. Dengan kata lain militer Israel menerima tanggung jawab atas pembunuhan reporter Aljazeera ini.

Shireen Abu Akleh

Ini bukan pertama kalinya melakukan kejahatan seperti ini. Teror Abu Akleh juga bukan kejahatan pertama rezim Zionis terhadap wartawan Palestina, dan berdasarkan data yang dirilis Kementerian Informasi Palestina, sejak intifada kedua Palestina di tahun 2000 hingga hari ini, sebanyak 45 wartawan terbunuh di tangan rezim ilegal ini. Di kasus-kasus tersebut, tidak melakukan langkah praktis menyikapi kejahatan rezim Zionis Israel ini.

Tak diragukan lagi bahwa rezim Zionis Israel jika mendapat hukuman serius dari komunitas internasional atas kejahatan seperti ini, maka sedikitnya rezim ini tidak akan sengaja menggugurkan wartawan dan jurnalis seperti Abu Akleh. Statemen salah satu angggota Knesset menunjukkan bahwa teror Abu Akleh dilakukan dengan sengaja. Itamar Ben-Gvir, anggota sayap kanan Knesset mengakui bahwa militer Zionis akan menembaki warga Palestina, bahkan jika ada wartawan yang hadir di sana.

Kebungkaman, sikap pasif dan bahkan dukungan komunitas dunia mendorong berbagai organisasi internasional dan kekuatan Barat khususnya AS menjadi mitra kejahatan Israel ini. Rashida Tlaib, anggota DPR AS saat merespon gugurnya Shireen Abu Akleh mengatakan, "Shireen Abu Akleh terbunuh di tangan militer rezim yang mendapat dukungan finansial tanpa syarat dari negara kami (AS), dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Mereka yang berdiri dan mendukung kebijakan dan pendekatan Israel terhadap rasisme, kapan akan mengatakan bahwa itu sudah cukup?"

250 organisasi HAM di statemennya selain mengecam kejahatan teror Shireen Abu Akleh, menyebut aksi ini sebuah langkah yang disengaja, dirancang sebelumnya dan seratus persen aksi teror, serta kebungkaman komunitas internasional atas kejahatan Israel terhadap warga Palestina dan standar ganda mereka merupakan faktor penting kejahatan ini.

Berlanjutnya kebungkaman ini mendorong Shireen Abu Akleh bukan menjadi wartawan terakhir yang diteror oleh militer rezim Zionis Israel. Rashida Tlaib kepada Presiden AS Joe Biden mengatakan, "Tidak merespon kejahatan ini akan mendorong pembunuhan lebih banyak."

Tuntutan 250 lembaga HAM untuk menghukum rezim Zionis Israel, jika diperhatikan, merupakan langkah minimum untuk membela wartawan dari kejahatan rezim ilegal Israel. Meski demikian, kecil kemungkinan Israel akan dihukum mengingat pengaruh lobi Zionis di sistem global dan juga negara-negara seperti AS tidak berminat menghukum Tel Aviv. Mereka hanya merasa cukup mengecam kejahatan ini secara lisan. (MF)

 

Tags