May 21, 2022 19:29 Asia/Jakarta
  • Transformasi Asia Barat

Perkembangan di negara-negara Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai hasil pemilu legislatif Lebanon.

Selain itu, Jihad Islam Palestina menyatakan kesiapan bertempur dengan Rezim Zionis di semua arena, para Uskup Palestina protes rezim Zionis, Hamas menegaskan bahwa Palestina tidak akan membiarkan Masjid Al-Aqsa menjadi target Yahudisasi, dan Hari Nakba menjadi simbol kejahatan rezim Zionis dengan dukungan Barat.

 

 

Ini Hasil Akhir Pemilu Legislatif Lebanon

Hasil akhir dan resmi dari pemilu legislatif Lebanon diumumkan kemarin.

Pemilu legislatif Lebanon diadakan di seluruh negeri hari Minggu untuk memilih 718 orang caleg untuk memperebutkan128 kursi parlemen di 15 daerah pemilihan.

Kementerian Dalam Negeri Lebanon hari Selasa (17/5/2022) mengumumkan jumlah kursi yang dimenangkan oleh berbagai partai, serta nama-nama caleg yang berhasil lolos.

Hizbullah meraih 13 kursi,  gerakan Amal 15 kursi, Al-Tiar Al-Watani Al-Hur (Gerakan Patriotik Bebas) 18 kursi, sekutu Hizbullah 3 kursi, Partai Al-Tashnaq 3 kursi, Al-Quwwah Al-Lubnaniyah 20 kursi, tokoh Independen 11 kursi, masyarakat sipil 15 kursi, Al-Kaitaib al-Lubnaniyah 5 kursi, Gerakan Al-Istiqlal 2 kursi, Al-Tanzim Al-Shabi Al-Nasseri 1 kursi, Partai Al-Taqadami Al-Tashraki 9 kursi, mantan anggota Al-Mustaqbal 6 kursi, Partai Al-Ittihad satu kursi, partai al Wataniyah Al-Ahrar satu kursi, gerakan Al-Mardah dua kursi, Al-Masyari dua kursi, dan Al-Jama'at al-Islamiyyah satu kursi.

Sementara beberapa media Barat dan sekutu regional mereka mengklaim bahwa Hizbullah dan sekutunya tidak menang. Padahal Hizbullah dan gerakan Amal memenangkan 31 kursi, dan sekutu terpenting Hizbullah, Gerakan Patriotik Bebas yang dipimpin oleh mantan Menteri Luar Negeri Gebran Bassil meraih 18 kursi.

Hizbullah sendiri berhasil memenangkan lebih banyak suara daripada pemilu sebelumnya, yang menunjukkan semakin populernya Hizbullah di tengah publik Lebanon dan dukungan rakyat negara ini terhadap front perlawanan.

 

Sekjen Hizbullah Lebanon

 

Nasrullah: Pemilu Lebanon Buktikan Popularitas Hizbullah Meningkat !

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah mengatakan bahwa tingginya partisipasi rakyat Lebanon dalam pemilu dan hasilnya yang memberikan dukungan terhadap front perlawanan dan pelestarian senjatanya, sebagai bentuk dukungan rakyat Lebanon terhadap Hizbullah.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah dalam pidato pertamanya setelah pengumuman hasil pemilu legislatif Lebanon 2022 Rabu (18/5/2022) malam mengatakan, "Semua ancaman dan intimidasi untuk menekan rakyat Lebanon tidak membuahkan hasil. Pemilu adalah tanggapan yang tegas terhadap ancaman-ancaman ini,".

"Pemilu kali ini membuktikan bahwa popularitas front perlawanan meningkat. dari sebelumnya," ujar Sayid Nasrullah.

“Kami bangga dengan kemenangan besar ini, terutama ketika kami melihat dalam keadaan apa kemenangan ini dicapai dan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk mencegahnya,” tegas Sekjen Hizbullah Lebanon.

Sayid Nasrullah menyerukan untuk meredakan konflik politik di negara itu, dengan mengatakan,"Saat ini yang dibutuhkan di Lebanon adalah perdamaian dan langkah untuik mengatasi masalah yang menjadi perhatian rakyat dengan partisipasi dan kerja sama semua pihak,"

Di bagian lain dari pidatonya, Sekjen Hizbullah Lebanon membantah tuduhan tak berdasar tentang campur tangan Iran dalam pemilu Lebanon dengan menekankan, "Apakah Anda pernah melihat seorang duta besar atau karyawan kedutaan Iran ikut campur dalam pemilu. Sementara kita menyaksikan intervensi kedutaan AS selama pemilu dan duta besar Saudi sangat aktif dalam proses pemilu,".

Musuh-musuh perlawanan telah menghabiskan banyak uang dan upaya dalam beberapa bulan terakhir untuk mengusir perlawanan dari struktur politik Lebanon.

"Kekalahan terbesar dalam pemilu ini datang dari partai-partai yang menargetkan Hizbullah dan senjata perlawanan serta ingin memisahkan Hizbullah dari rakyat, dan melemahkan dukungan di tingkat nasional," kata Talal Atrisi, seorang analis politik terkemuka Lebanon.

"Amerika dan sekutu mereka adalah pecundang terbesar dalam pemilu legislatif Lebanon," papar Atrisi.

 

 

Jihad Islam Palestina: Kami Siap Bertempur dengan Rezim Zionis di Semua Arena

Anggota senior gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan, "Kami siap untuk memerangi musuh di semua arena dan kami akan melanjutkan perlawanan sampai pembebasan seluruh wilayah Palestina."

Sheikh Nafiz Azzam, Anggota Biro Politik Gerakan Jihad Islam Palestina pada peringatan tahun pertama Perang Saif Al-Quds hari Kamis (19/2022) mengatakan bahwa rakyat Palestina menunjukkan wajah baru dalam pertempuran dan membuktikan bahwa Palestina adalah tanah air mereka.

Sheikh Nafiz Azzam menekankan bahwa sekarang situasi setelah pertempuran Pedang Quds tidak sama seperti sebelumnya, dan syuhada menetapkan sejarah baru bagi bangsa Palestina dan umat Islam.

"Masjid Al-Aqsa tidak akan pernah dibiarkan sendiri, bahkan jika negara-negara Arab dan Islam gagal mendukung Palestina. Kami bangga berdiri di tanah ini," kata pejabat tinggi Jihad Islam Palestina ini.

"Kami meyakinkan semua umat Islam bahwa kami berada di sisi Masjid Al-Aqsa, dan orang-orang Palestina telah datang untuk mendukungnya dengan nyawa, darah, harta benda dan anak-anak mereka," tegasnya.

Saif al-Quds atau Pedang Quds adalah perang skala besar antara kelompok perlawanan Palestina dan rezim Zionis yang terjadi pada 11 Mei 2021 yang berlangsung selama 12 hari. Kelompok perlawanan yang bermarkas di Jalur Gaza, khususnya Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dan gerakan Jihad Islam Palestina memenangkan perang  tersebut yang menimbulkan kerugian besar bagi rezim Zionis.

 

 

Hamas: Palestina Tidak akan Biarkan Masjid Al-Aqsa Jadi Target Yahudisasi !

Ketua gerakan Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal menekankan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat suci umat Islam, dan Palestina tidak akan mengizinkannya menjadi arena Yahudisasi.

Masjid Al-Aqsa di Al Quds pernah menjadi kiblat pertama umat Islam, dan merupakan bagian integral dari Palestina dan salah satu dari tiga tempat suci Islam yang paling penting.

Khaled Mashaal, Kepala Hamas di Luar Negeri hari Rabu (18/5/2022) mengatakan bahwa rakyat Palestina tidak akan membiarkan Masjid al-Aqsa menjadi tempat Yahudi atau dibagi, apalagi dihancurkan indentitas keislamannya.

"Plot Zionis terhadap masjid al-Aqsa masih terus dijalankan. Saya memperingatkan bangsa besar Palestina bahwa pertempuran belum berakhir,  karena Zionis diperkirakan akan kembali menyerang Masjid Al-Aqsa lagi di masa depan," ujar Meshaal

"Musuh berpikir dengan mencegah segala bentuk perlawanan bersenjata di Tepi Barat akan membuka jalan bagi kelanjutan pemukiman dan perampasan tanah dan penguasaan Masjid Al-Aqsha,"tegasnya.

Menurut Meshaal, pada tahap sebelumnya, musuh ingin merebut kendali Masjid Al-Aqsa dengan membagi waktu dan tempat.

Ketua Hamas mengatakan bahwa istilah yang dipromosikan oleh penjajah dan digunakan oleh beberapa politisi Eropa tentang kebebasan akses ke tempat-tempat ibadah adalah istilah yang menyesatkan karena Masjid Al-Aqsa adalah tempat agama Islam sepenuhnya, dan Zionis tidak memiliki hak untuk itu.

Masjid Al-Aqsa, sebagai simbol utama identitas Islam-Palestina kota Al-Quds, dan selalu menjadi sasaran aksi destruktif rezim Zionis.

 

Para Uskup Palestina Protes Rezim Zionis

Para uskup Palestina di Al Quds memprotes penodaan gereja-gereja Palestina oleh militer rezim Zionis.

Uskup Agung Gereja Katolik Al Quds, Pierre Battista Pizzaballa hari Selasa (17/5/2022) mengatakan bahwa polisi rezim Zionis tidak menghormati gereja, pusat medis, atau orang yang meninggal.

"Tindakan tentara Israel adalah pelanggaran berbahaya terhadap norma dan aturan internasional," ujar Uskup Pizzaballa.

Ia menyinggung ketidakhormatan tentara rezim Zionis terhadap gereja pada pemakaman jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, dengan mengatakan, "Campur tangan polisi Israel dan penggunaan kekuatan yang tidak beralasan merupakan pelanggaran jelas terhadap ketentuan internasional,".

Pada hari Rabu, pasukan Israel menyerang jurnalis Palestina Al-Jazeera Shireen Abu Akleh yang mengenakan rompi jurnalis dari jarak 100 hingga 150 meter hingga tewas dalam serangan di daerah Jenin.

Uskup Agung Gereja Katolik Al Quds menyatakan bahwa salah satu aspek terpenting dari kebebasan beragama adalah menghormati orang yang meninggal, dan rezim Zionis seharusnya memberikan izin untuk melakukan prosesi pemakaman.

Sebelumnya, Atallah Hana, Uskup Agung Gereja Ortodoks Al Quds mengecam keras penodaan terhadap gereja-gereja di Al-Quds yang dilakukan tentara rezim Zionis, dan berlanjutnya kejahatan terhadap rakyat Palestina.

 

 

Hari Nakba, Simbol Kejahatan Rezim Zionis dengan Dukungan Barat

Anggota senior biro politik gerakan Jihad Islam Palestina menyebut Hari Nakba sebagai simbol penjajahan dan pendudukan tanah Palestina sejak 1948.

Bagi orang-orang Palestina, 15 Mei adalah Hari Nakba atau Hari Nestapa dan simbol migrasi paksa warga Palestina oleh Zionis yang telah berlalu 74 tahun.

Hari Nakba adalah pengingat hari-hari getir ketika Zionis menduduki tanah orang-orang Palestina dan menyita tanah mereka, dan gelombang pertama pemindahan dan pengusiran lebih dari 800.000 orang Palestina dari rumah mereka.

Anggota senior Jihad Islam Palestina, Walid Al Qatti dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Iran Press di Gaza pada hari Minggu (15/5/2022) menyatakan bahwa kolonial Barat memainkan peran di balik pembentukan rezim palsu Israel, dan kejahatan rezim Zionis terus berlanjut di tanah Palestina.

"Rakyat Palestina terus menderita akibat aksi pendudukan, pemindahan dan penindasan Zionisme kolonial yang didukung Barat," ujar pejabat Jihad Islam Palestina ini.

"Saat ini tanggung jawab untuk menghentikan kelanjutan kejahatan rezim Zionis berada di pundak masyarakat internasional," tegasnya.

"Meskipun menghadapi berbagai kejahatan keji rezim Zionis, tapi rakyat Palestina tetap teguh dalam mempertahankan tanah mereka dan akan terus memperjuangkan kemerdekaannya," pungkasnya.(PH)

 

Tags