May 26, 2022 17:30 Asia/Jakarta
  • Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan
    Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan

Media dunia meliput secara luas pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan tentang sejauh mana negosiasi negara itu dengan Iran, yang menunjukkan pentingnya pembicaraan tersebut.

Meski berbagai media ini memiliki interpretasi yang berbeda dan beragam mengenai statemen Faisal bin Farham, tapi ada sejumlah poin dari statemen ini yang dapat disimpulkan dan diterima. Pertama, perundingan Iran dan Arab Suadi selama beberapa bulan terakhir mengalami kemajuan, tapi sampai kini belum berhasil sampai pada titik yang jelas. Perundingan ini digelar lima kali dengan tuan rumah Irak di masa pemerintahan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi. Al-Kadhimi pun hadir di perundingan kelima.

Di akhir babak kelima perundingan, sumber Irak menyatakan bahwa fase keamanan perundingan berakhir dengan sukses, dan di babak berikutnya akan dilanjutkan dengan fase politik oleh menteri luar negeri kedua negara. Dan kini  belum jelas apakah statemen terbaru Faisal bin Farhan persiapan untuk memasuki fase ini ataukah ia ingin melempar bola permainan ke lapangan Iran.

Dialog Iran-Arab Saudi

Apa yang muncul opini adalah statemen menlu Arab Saudi yang mengatakan, "Iran harus mengambil keputusan untuk memulai kerja sama dan babak baru di kawasan. Meraih kesepakatan nuklir akan bermanfaat, tapi berkas ini harus diselesaikan dengan komprehensif sehingga mencakup aktivitas Iran di kawasan."

Statemen ini dirilis ketika perundingan nuklir Iran tengah berlangsung dalam sebuah koridor lain, dan pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan transformasi dan isu-isu kawasan. Setelah JCPOA ditandatangani, Iran sepenuhnya patuh dengan komitmennya, tapi pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat dan pada akhirnya keluarnya Washington dari kesepakatan ini di era Donald Trump serta sikap pemerintah Biden yang tidak kembali ke JCPOA telah menimbulkan kesulitan di bidang ini, di mana menghapus rintangan ini tergantung pada pihak Amerika.

Oleh karena itu, mengaitkan isu-isu kawasan dengan isu nuklir aakn membuat kondisi semakin rumit dan berbelit serta mencegah tercapainya solusi. Ini persis berbeda dengan yang ditekankan Faisal bin Farhan di statemennya dan tuntutannya untuk meningkatkan kerja sama regional untuk mempersiapkan implementasi rencana ekonomi macro termasuk visi 2030 Arab Saudi.

Masuknya kawasan ke atmosfer kerja sama ekonomi khususnya di bidang regional dengan sendirinya akan mempermudah peluang kerja sama antara negara kawasan. Hal ini karena  adap potensi untuk melaksanakan permainana win-win di bidang ekonomi di mana semua pihak akan mendapat untuk besar, dan jika di masa lalu negara-negara kawasan tidak mendapat peluang ini, pertama karena atmosfer militer dan keamanan yang menguasai atmosfer kawasan, dan kedua kehadiran kekuatan asing yang mengobarkan pendekatan fitnah, memerintah dan memecah-belah demi menetapkan dan melanjutkan kehadirannya.

Kini dengan berkurangnya tentara dan keluarnya Amerika dari kawasan, terbuka peluang bagi kerja sama antara negara kawasan, namun sangat disayangkan terbukanya peluang kehadiran rezim Zionis di kawasan dan normalisasi hubungan dengan sejumlah negara Arab di wilayah ini, muncul kekhawatiran bahwa Tel Aviv akan melanjutkan kebijakan pengobaran fitnah, memecah belah dan memerintah serta menjadi pengganti kekuatan Barat untuk melanjutkan pendekatan ini.

Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa salah satu kendala utama untuk menghidupkan dan memperkuat hubungan serta kerja sama regional antara Iran dan negara-negara Arab kawasan Teluk Persia adalah kehadiran rezim Zionis Israel di kawasan, dan kebetulan upaya rezim ini untuk mencegah masuknya perundingan dari fase keamanan ke politik semakin meningkat, ketika babak kelima perundingan Iran dan Arab Saudi di Irak dinyatakan berhasil.

Selain itu, rezim Zionis Israel melalui kerja sama dengan Amerika Serikat meningkatkan upayanya untuk menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi sebelum dimulainya perundingan Tehran-Riyadh. Dan tampaknya beberapa pasang surut dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi baru-baru ini berasal dari fakta bahwa itu bertentangan dengan pendekatan negosiasi sebelumnya dan keberhasilan putaran kelima. (MF)

 

 

Tags