Jun 25, 2022 16:37 Asia/Jakarta
  • Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh .
    Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh .

Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh mengatakan, perlawanan akan terus ditingkatkan kekuatannya hingga pembebasan Palestina dari "sungai ke laut".

Sebelumnya, rakyat dan kelompok-kelompok Palestina telah menekankan bahwa perlawanan adalah satu-satunya cara untuk menghadapi pendudukan rezim Zionis Israel.

Menurut Shehab News pada hari Sabtu (25/6/2022), Ismail Haniyeh dalam Konferensi Nasionalisme Islam di Beirut, ibu kota Lebanon mengatakan, perang Saif al-Quds (Pedang Quds) adalah titik balik yang unik dalam proses perjuangan melawan rezim Zionis.

"Kami mengenal musuh dengan baik. Kami telah berperang melawan mereka di penjara dan di jalan-jalan Palestina, dan hari ini perlawanan Palestina telah mencapai tahap pencegahan terhadap rezim Zionis," kata Haniyeh.

Dia menambahkan, rakyat Palestina menghadapi upaya musuh untuk merebut hak-hak mereka melalui proyek-proyek tanah air alternatif dan migrasi (pengusiran) paksa.

Ketua Biro Politik Hamas memperingatkan bahaya pengintegrasian rezim Zionis ke dalam aliansi militer di kawasan, dan menuturkan, semua medan perang dan front perlawanan terhadap rezim Zionis harus diintegrasikan.

Haniyeh lebih lanjut menyinggung pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh rezim Zionis, dan mengatakan, kami mendukung Lebanon dalam memanfaatkan haknya atas Laut Mediterania.

"Apa yang terjadi di kawasan jauh lebih berbahaya daripada normalisasi hubungan dengan rezim Zionis," kata Kepala Biro Politik Hamas ketika menyinggung perkembangan di kawasan.

Empat negara Arab: Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan dan Maroko telah menormalkan hubungan mereka dengan rezim Zionis pada tahun 2020 di bawah tekanan dan mediasi Amerika Serikat.

Normalisasi itu dilakukan dengan mengabaikan beragam kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina. Keputusan ini menyulut gelombang penentangan di negara-negara Arab dan Islam. (RA)

Tags