Jun 25, 2022 20:41 Asia/Jakarta
  • Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrullah.
    Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrullah.

Perkembangan di negara-negara Asia Barat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting, termasuk pertemuan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrullah.

Humas Hizbullah Lebanon mengabarkan pertemuan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayid Hassan Nasrullah dengan Ketua Biro Politik Hamas Palestina, Ismail Haniyeh.

Dikutip kantor berita Sama, Kamis (23/6/2022), Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah, bertemu di Beirut, dan membicarakan perluasan poros perlawanan, ancaman-ancaman, tantangan serta peluang yang ada.

Kedua pemimpin gerakan perlawanan Islam, dalam kesempatan tersebut juga menekankan pentingnya kerja sama seluruh organ poros perlawanan untuk meraih tujuan utama yang terkait dengan Al Quds, tempat-tempat suci Islam, dan cita-cita Palestina.

Setelah bertemu dengan Sekjen Hizbullah, Ismail Haniyeh dijadwalkan bertemu dengan Presiden Lebanon Michel Aoun, Perdana Menteri Najib Mikati, dan Ketua Parlemen Nabih Berri

Sehari sebelumnya Ketua Biro Politik Hamas, melakukan pertemuan dengan Mufti Agung Lebanon Syeikh Abdul Latif Derian, dan mengapresiasi sikapnya terkait Al Quds dan rakyat Palestina.

Diserang Hacker, Balon Mata-Mata Zionis Jatuh

Kelompok hacker Moses Staff mengaku bertanggung jawab atas jatuhnya balon mata-mata Rezim Zionis di langit kota Beit Hanoun, Jalur Gaza.

Balon mata-mata militer Rezim Zionis, Jumat lalu jatuh di utara Jalur Gaza, dan sekarang berada di tangan pasukan perlawanan Palestina. Media mengabarkan balon yang dilengkapi peralatan canggih tersebut jatuh ke tangan perlawanan Palestina, tanpa kerusakan.

Surat kabar Rai Al Youm, Minggu (19/6/2022) mengutip Yedioth Ahronoth menulis, "Balon mata-mata ini bernilai dua juta Shekel atau setara dengan 540.000 dolar."

Menurut Yedioth Ahronoth, balon mata-mata ini dilengkapi kamera spionase canggih, dan Rezim Zionis menggunakan balon ini untuk tujuan militer dan kampanye.

Kelompok hacker Moses Staff sampai sekarang telah melakukan sejumlah banyak operasi peretasan terhadap sistem dan target milik Rezim Zionis Israel.

Moses Staff mengumumkan, aksi menjatuhkan balon mata-mata Israel baru permulaan, dan mereka memperingatkan Rezim Zionis bahwa serangan-serangan akan berlanjut di berbagai arena.

Rezim Zionis dikabarkan ketakutan, informasi-informasi sensitif dan teknologi canggih pada balon mata-mata itu akan jatuh ke tangan pasukan perlawanan Palestina.

Hamas: Perlawanan, Opsi Tunggal Hadapi Rezim Zionis !

Kepala Biro Politik Hamas di Luar Negeri, Khaled Meshaal menekankan bahwa rakyat Palestina tidak punya pilihan selain menghadapi rezim pendudukan sampai pembebasan seluruh wilayahnya dan pemulangan para pengungsi.

Pada hari Jumat, tiga pemuda Palestina ditembak mati oleh tentara Zionis di kota Jenin di Tepi Barat.

Menurut Pusat Informasi Palestina, Khaled Meshaal dalam percakapan dengan keluarga syuhada Jenin hari Minggu (19/6/2022) mengatakan bahwa darah mereka dan para syuhada Palestina lainnya tidak akan terbuang sia-sia.

"Musuh terbiasa dengan pengkhianatan dan penipuan, dan kami tahu jalan kami dan kami tidak akan mundur dalam keadaan apa pun," kata Meshaal.

"Para pemimpin Hamas dan kelompok Palestina lainnya akan tetap setia pada darah syuhada dan pengorbanan mereka, serta kepada para tahanan Palestina dan yang terluka," tegasnya.

Tentara Zionis juga menembak mati seorang warga Palestina di Tepi Barat pada hari Minggu.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas menyatakan bahwa aksi penembakkan warga Palestina dengan peluru perang, penumpahan darah mereka, pengabaian hukum internasional dan prinsip-prinsip hak asasi manusia harus dihadapi dengan aksi perlawanan.

Sistem Peringatan Bahaya Zionis Diserang Hacker

Sumber berbahasa Ibrani melaporkan bahwa sistem peringatan bahaya rezim Zionis di kota Al Quds dan kota Eilat menjadi sasaran serangan siber.

Selama beberapa bulan terakhir terjadi serangan siber ke berbagai fasilitas infrastruktur rezim Zionis.

Channel 13 rezim Zionis hari Senin (20/6/2022) melaporkan, kemarin, Minggu terjadi aksi penyerangan siber terhadap sistem peringatan bahaya di Quds dan Eilat.

Beberapa media juga melaporkan bahwa sirine alarm berbunyi kemarin dan tengah malam, beberapa jam terpisah, di beberapa wilayah kota Quds, kota Eilat, dan Holon.

Bunyi peringatan bahaya ini menyebabkan penduduk Zionis di kota Eilat dan Holon berhamburan ke bunker karena takut akan serangan rudal.

Selama beberapa bulan terakhir, telah terjadi beberapa kebakaran di kilang, pusat militer dan petrokimia serta terminal bus rezim Zionis.

Antisipasi Pertempuran, Hizbullah Siaga Penuh di Darat, Udara dan Laut

Gerakan Hizbullah Lebanon setelah menerima laporan terkait penolakan Rezim Zionis atas tuntutan Beirut di bidang gas, langsung meningkatkan kesiapannya di semua lini baik darat, udara maupun laut.

Dikutip situs berita Maan, Senin (20/6/2022), Hizbullah selain meningkatkan kesiapan seluruh tim identifikasi dan mengumpulkan semua informasi militer terkait segala bentuk kemungkinan serangan, juga mengkaji substansi tindakan terhadap kapal-kapal Rezim Zionis yang ada di Laut Cornish, jika sampai terjadi pertempuran.

Sementara itu situs Lebanon 24 mengabarkan, "Tuntutan pertama dan terpenting Hizbullah yaitu penghentian aktivitas Israel di ladang gas Karish, tidak dikabulkan, akhirnya Hizbullah saat ini berada dalam kondisi siaga penuh."

Menurut Lebanon 24, sampai saat ini, Utusan Amerika Serikat belum berangkat ke wilayah pendudukan untuk menyampaikan pesan Lebanon kepada Rezim Zionis terkait ladang gas Karish.

"Sepertinya prakarsa langsung AS seputar kasus penetapan batas teritorial masih berada pada fase penantian," imbuh Lebanon 24.

Faras: Kataib Hizbullah Sudah Peringatkan Penyusup di Pemerintah Irak

Gerakan perlawanan Islam Irak, Al Nujaba mengumumkan, Kataib Hizbullah, jauh lebih cepat dari mantan Menlu Amerika Serikat Mike Pompeo, mengumumkan keberadaan penyusup AS di tubuh dinas intelijen Irak.

Dikutip situs Al Maalomah, Senin (20/6/2022), Faras Al Yasser, salah satu anggota Biro Politik Al Nujaba mengatakan, "Ketika mantan Menlu AS menyampaikan detail informasi terkait teror para pemimpin perlawanan yaitu Syahid Abu Mahdi Al Muhandis dan Syahid Qassem Soleimani, terutama pada situasi politik yang sulit saat ini, berarti ia membawa pesan Washington bahwa negara ini bisa meneror lebih banyak pemimpin dan komandan Hashd Al Shaabi."

Ia menambahkan, "Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi tetap masih menjadi salah satu tertuduh yang terlibat dalam teror para pemimpin dan komandan perlawanan, ini sudah disinggung dalam laporan Kataib Hizbullah."

Menurut Faras Al Yasser, sejak naik menjadi PM Irak dan komandan dinas intelijen negara ini, Mustafa Al Kadhimi, selalu mencegah berlanjutnya penyelidikan aksi teror AS di bandara Baghdad, ia mengasingkan dan mengeluarkan orang-orang Syiah profesional dari dinas intelijen dan keamanan Irak, lalu menyandera pemerintah.

Faisal Mekdad: Kalkulasi Israel Keliru dalam Menyerang Suriah

Menteri Luar Negeri Suriah mengatakan, kalkulasi Rezim Zionis dalam melancarkan serangan terus menerus ke wilayah Suriah, adalah keliru dan bodoh.

Menlu Suriah, Faisal Mekdad, Selasa (21/6/2022) seperti dikutip kantor berita SANA menyebut Rezim Zionis mendukung terorisme di kawasan.

Ia menuturkan, kebijakan luar negeri Suriah tetap berdiri pada asas prioritas untuk melindungi kedaulatan nasional, independensi, integritas teritorial, upaya menghancurkan kelompok-kelompok teroris, dan mencegah realisasi skenario memecah belah bangsa.

Menlu Suriah menambahkan, "Pintu gerbang Damaskus terbuka bagi seluruh saudara-saudara Arab, bahkan bagi orang-orang yang dalam 10 tahun terakhir menentang kami."

Faisal Mekdad melanjutkan, "Faktor kemenangan terpenting Suriah atas terorisme di level nasional terlihat ketika orang-orang Suriah memiliki tekad kuat untuk mengalahkan terorisme dalam berbagai bentuknya, dan melawan hegemoni Amerika Serikat dan Barat atas independensi serta tekad nasional kami, dan membuktikan tekad kokoh mereka untuk hidup, stabil dan sejahtera terlepas dari rintangan-rintangan keamanan, ekonomi dan sosial."

Ia menegaskan, pasukan penjajah AS dan Turki harus meninggalkan wilayah Suriah, kontrol pemerintah Suriah atas seluruh wilayah harus pulih kembali, stasiun-stasiun minyak serta gas harus direkonstruksi serta dijaga, dan pendapatannya digunakan untuk kepentingan rakyat Suriah.

Suriah: Kami Dukung Rakyat Palestina Akhiri Pendudukan Israel

Deputi Menteri Luar Negeri Suriah mengatakan, Damaskus terus mendukung perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina, untuk mengakhiri pendudukan Rezim Zionis Israel.

Bashar Jafari, Senin (20/6/2022) seperti dikutip SANA, dalam pertemuan dengan salah satu anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, Ahmed Abu Houli, dan Duta Besar Otorita Ramallah Palestina di Damaskus, Samir Al Refai menuturkan, "Sikap Suriah terkait masalah Palestina, tetap dan sentral."

Ia menambahkan, Suriah terus menudukung perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina untuk mengakhiri pendudukan Rezim Zionis.

"Rakyat Palestina harus merebut kembali hak-haknya yang dirampas termasuk hak kembali ke tanah air Palestina," imbuh Bashar Jafari.

Di sisi lain Ahmed Abu Houli berterimakasih atas sikap Suriah dalam mendukung rakyat Palestina, dan hak-hak mereka yang tak bisa dirampas.

Ia menegaskan, "Perlawanan rakyat Suriah dalam perang melawan kelompok teroris dukungan Barat dan Rezim Zionis, telah memperkuat perlawanan rakyat Palestina."

Al Houthi: Koalisi Saudi akan Terima Pukulan yang Lebih Mematikan

Anggota Dewan Tinggi Politik Yaman memperingatkan Koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, jika blokade dan agresi militer terhadap rakyat berlanjut, maka mereka akan menerima pukulan yang lebih mematikan dari sebelumnya.

Dikutip stasiun televisi Al Masirah, Kamis (23/6/2022), Mohammed Ali Al Houthi menuturkan, "Pasukan Yaman akan melawan musuh-musuh arogan."

Ia menambahkan, "Para komandan pasukan Yaman layaknya pahlawan-pahlawan yang lain dari Angkatan Bersenjata dan komite rakyat Yaman, serta aparat keamanan, mereka adalah benteng kokoh untuk menghadapi konspirasi musuh."

Menurutnya, hari ini Yaman, berhadapan dengan konspirasi-konspirasi yang tidak hanya terbatas pada wilayah teritorial negara ini, tapi seluruh umat Islam.

"Yaman tidak takut pada musuh dan konspirasi-konspirasi mereka, dan senjata pasukan kami adalah iman dan kesabaran, tapi musuh percaya kepada senjata-senjata Amerika Serikat," tegasnya.

Sebelumnya, Mohammed Ali Al Houthi sudah memperingatkan ketidakpatuhan Koalisi Saudi pada kesepakatan gencatan senjata di Yaman. (RA)

Tags