Jun 26, 2022 12:06 Asia/Jakarta
  • Perundingan Wina (Dok)
    Perundingan Wina (Dok)

Bersamaan dengan pernyataan Iran dan Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa terkait dimulainya kembali perundingan untuk mencabut sanksi zalim, rezim Zionis Israel khawatir atas kemungkinan dimulainya perundingan ini.

Putaran kedelapan perundingan di Wina terkait pencabutan sanksi yang dimulai sejak 27 Desember 2021 memasuki masa jeda atas usulan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell dan para juru runding kembali ke negara masing-masing untuk melakukan konsultasi politik.

Pemerintah Joe Biden di AS yang mengklaim pendekatan diplomasi terhadap Iran dan mengaku berusaha kembali ke JCPOA, sampai kini belum mengambil langkah untuk menunjukkan niat baiknya.

Hampir seluruh peserta perundingan menghendaki konklusi cepat perundingan, tapi mencapai kesepakatan final masih menunggu keputusan politik Amerika terkait sejumlah isu tersisa yang penting dan vital.

Menurut laporan IRNA, Kanal 12 televisi rezim Zionis Sabtu (25/6/2022) malam usai statemen Borrell terkait kemungkinan dimulainya kembali perundingan nuklir Iran menyatakan bahwa rezim ini khawatir atas kemungkinan dimulainya perundingan nuklir dengan Tehran.

Seorang pejabat keamanan Zionis yang menolak disebutkan identitasnya mengatakan, jika kesepakatan dalam bentuk saat ini ditandatangani, maka ini sangat buruk bagi Israel.

"Kesepakatan ini akan berakhir dalam tempo dua setengah tahun mendatang, dan memberi kesempatan kepada Iran untuk mengembangkan ekonominya yang berujung pada kemajuan di bidang kemampuan militer negara ini di Asia Barat," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian yang menjadi tuan rumah Borrell hari Sabtu kemarin di Tehran di cuitan Twitternya terkait hal ini menulis, "Kami melakukan dialog yang bermanfaat tentang berbagai masalah bilateral, regional dan internasional, termasuk status terbaru negosiasi pencabutan sanksi."

"Jika seluruh pihak memiliki tekad yang diperlukan, Iran bertekad meraih sebuah kesepakatan yang baik, kuat dan berkesinambungan," papar Abdollahian.

Borrell di kunjungan pertamanya ke Tehran di pemerintahan ke-13, kemarin bertemu dengan Abdollahian dan melakukan perundingan selama empat jam.

Menlu Iran usai pertemuan ini kepada wartawan seraya menjelaskan bahwa kami siap dalam beberapa hari mendatang untuk memulai kembali perundingan mengatakan, "Kami berharap Amerika kali ini mengambil tindakan yang bertanggung jawab dan berkomitmen secara realistis dan adil dalam proses negosiasi dan mencapai titik akhir kesepakatan."

Seraya mengaku puas terkait dimulainya kembali perundingan dalam waktu dekat, Borrell mengatakan bahwa Tehran dan Washington telah mengambil keputusan terkait hal ini. (MF)

 

 

Tags