Jun 29, 2022 20:11 Asia/Jakarta
  • Juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan (Muqawama) Islam Palestina (Hamas) Abu Ubaidah.
    Juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan (Muqawama) Islam Palestina (Hamas) Abu Ubaidah.

Pernyataan seorang juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan (Muqawama) Islam Palestina (Hamas) tentang kondisi seorang tawanan Israel telah membuat para pejabat rezim Zionis kebingungan.

Masalah pertukaran tawanan merupakan salah satu isu sengketa rezim Zionis dengan kelompok-kelompok pejuang Palestina.

Dilaporkan bahwa 4.500 tawanan Palestina, termasuk 34 wanita, 180 anak-anak dan 500 tahanan administratif, mendekam di berbagai penjara rezim Zionis.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) juga menahan empat tentara Israel di Jalur Gaza dan belum merilis informasi apapun tentang mereka.

Sejauh ini, kedua belah pihak telah menyepakati pertukaran tahanan pada beberapa putaran, namun rezim Zionis menolak untuk mengimplementasikan perjanjian tersebut.

Oleh karena itu, sejumlah tawanan Palestina di penjara-penjara Israel melakukan mogok makan untuk menekan rezim Zionis, yang dalam beberapa kasus aksi tersebut menyebabkan pembebasan beberapa dari tawanan Palestina.

Rezim Zionis memiliki persepsi bahwa kelompok-kelompok Palestina tidak menahan empat tentara Israel dan hanya menahan mayat mereka. Untuk alasan ini, Tel Aviv tidak menunjukkan keinginan untuk bertukar tawanan dalam praktiknya, sementara pembebasan tahanan Palestina adalah prioritas utama bagi kelompok-kelompok Palestina.

Tawanan Palestina di penjara rezim Zionis

Ketika masalah tawanan praktis dikesampingkan, Abu Ubaidah, juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas baru-baru ini mengatakan bahwa salah satu tawanan Zionis berada dalam kondisi kritis.

Tampaknya pernyataan Abu Ubaidah ini dibuat dengan tujuan untuk mengeluarkan kasus pertukaran tawanan dari situasi yang stagnan dan memperingatkan rezim Zionis mengenai kasus tawanan tersebut.

Mustafa al-Suwaf, seorang analis politik, mengatakan bahwa setelah kelalaian para pejabat rezim Zionis dan upaya rezim untuk menipu opini publik bahwa al-Qassam hanya memiliki mayat dua tawanan Israel, pernyataan Abu Ubaidah telah membangkitkan kembali kasus pertukaran tahanan dengan musuh, Zionis.

Sebelumnya, Husam Badran, seorang anggota biro politik Hamas, mengatakan bahwa gerakan itu memiliki "kartu untuk menang" dalam mewujudkan kesepakatan pertukaran tawanan dan membebaskan mereka dari penjara-penjara Israel.

Masalah lainnya adalah bahwa pernyataan Abu Ubaidah dan strategi Hamas untuk tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang tawanan Israel telah menyebabkan kebingungan para pejabat rezim Zionis.

Oleh karena itu, dua taktik diadopsi oleh rezim Zionis. Taktik pertama adalah meremehkan pernyataan dan peringatan Abu Ubaidah dan mempertanyakan kebenaran pernyataan jubir Brigade al-Qassam itu melalui media.

Dalam hal ini, saluran ke-12 rezim Zionis berusaha mengurangi pentingnya pernyataan Abu Ubaidah. Dengan mempertanyakan kebenaran pernyataan itu, media Zionis ini memperkenalkan pernyataan Abu Ubaidah sebagai semacam perang psikologis.

Saluran media Israel tersebut mengutip sumber keamanan rezim Zionis mengklaim bahwa "tidak ada perubahan dalam kondisi fisik para tawanan dan Hamas bermaksud untuk melontarkan tekanan."

Taktik lainnya adalah penanganan kondisi tahanan Israel melalui jalur Mesir. Surat kabar bahasa Ibrani Yedioth Ahronoth menulis bahwa setelah Abu Ubaidah mengeluarkan pernyataan tentang kesehatan salah satu tahanan Israel, rezim Zionis meminta Mesir untuk menjelaskan kondisi kesehatan para tahanannya di Gaza.

Yang pasti, pernyataan terbaru Abu Ubaidah yang bertepatan dengan perkembangan yang berkaitan dengan rapuhnya kabinet rezim Zionis dan pembubaran Knesset, telah meningkatkan tekanan pada kabinet Naftali Bennett dan membingungkan mereka tentang tindakan serius apa yang akan diambil untuk menyelamatkan nyawa para tahanan Israel. (RA)

Tags