Jun 30, 2022 10:43 Asia/Jakarta

Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat tentang pencabutan sanksi telah dimulai pada hari Selasa (28/06/2022) dengan mediasi Enrique Mora, Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa di Qatar.

Menyusul kunjungan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell ke Tehran dan pertemuan dengan pejabat Iran, diumumkan bahwa pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat akan dilanjutkan pada Selasa dan Rabu, dengan tujuan mencabut sanksi.

Ali Bagheri Kani, Negosiator Senior Republik Islam Iran, dan Enrique Mora, Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dan Koordinator Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), melakukan pertemuan dan pembicaraan di Doha, Qatar, Selasa (28/6).

Ali Bagheri Kani, Negosiator Senior Republik Islam Iran

Perwakilan Khusus AS untuk Iran Robert Malley, yang tiba di Doha untuk tujuan itu, juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.

Negosiasi antara Iran dan kelompok 4+1 (Rusia, Cina, Inggris, Prancis, dan Jerman) untuk mencabut sanksi dimulai di Wina pada Desember 2021 dan berakhir pada Maret 2022 atas saran Josep Borrell.

Sejak itu, beberapa negara, termasuk Qatar, telah melakukan upaya mediasi dan pertukaran pesan.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengeluarkan pernyataan tentang perundingan pencabutan sanksi di Doha, diharapkan pembicaraam ini akan berujung pada hasil yang positif.

Namun dimulainya kembali pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat tidak berarti bahwa perjanjian tersebut akan segera dihidupkan kembali. Karena perjanjian tersebut sekarang tergantung pada keputusan politik AS, dan penandatanganan perjanjian tersebut bergantung pada pencabutan sanksi dan pemberian jaminan yang dapat diterima untuk Iran.

Sebenarnya, apa yang dapat menentukan kesepakatan yang langgeng adalah pencabutan sanksi yang efektif dan perlindungan kepentingan Iran dalam kemungkinan kesepakatan. Dengan demikian, Iran telah memberikan proposal dan inisiatif yang diperlukan agar negosiasi berhasil.

Sementara itu, menjelang pembicaraan Doha, Gedung Putih berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab dan mengaitkan nasib pembicaraan dengan pengambilan keputusan Iran.

Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat tentang pencabutan sanksi telah dimulai pada hari Selasa (28/06/2022) dengan mediasi Enrique Mora, Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa di Qatar.

Penasihat Keamanan Nasional Pemerintah Joe Biden, Jake Sullivan, sekali lagi melempar bola ke tanah Iran tanpa menyebutkan peran negaranya dalam melanggar JCPOA, dan mengulangi klaim-klaim yang biasa disampaikan Amerika Serikat.

Menurutnya, "Mengenai Iran, saya harus mengatakan bahwa pandangan AS sudah jelas sejak lama, yang berarti bahwa kami bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir."

Tentu saja, pernyataan pejabat AS seperti itu membuktikan sekali lagi mengapa Republik Islam Iran menekankan perlunya kesepakatan berkelanjutan bagi implementasi penuh JCPOA. Karena tindakan berbagai pemerintah, baik dari kubu Republik dan Demokrat menunjukkan bahwa dalam praktiknya mereka mengejar hampir kebijakan yang sama terhadap Iran.

Pembicaraan Wina juga terhenti karena pemerintahan Joe Biden, meskipun mengkritik kebijakan tekanan maksimum Trump yang gagal, menolak untuk mengubah kebijakannya dan menolak untuk secara efektif mencabut sanksi serta menawarkan jaminan yang kredibel kepada Iran.

Dengan demikian, pembicaraan Doha saat ini adalah kesempatan lain bagi pemerintah AS untuk menunjukkan kemauan politik yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan bersikap realistis dan langkah yang mampu menciptakan kepercayaan, serta tidak membuat tuntutan baru dan keliru yang tidak ada hubungannya dengan JCPOA.

Amerika Serikat dan JCPOA

Saeed Khatibzadeh, mantan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan pada hari Senin (27/6) tentang pembicaraan di Doha, "Saya dapat mengkonfirmasi bahwa ada kesepakatan dalam isi dan bentuk pada kedua masalah, tetapi apakah Amerika akan menunjukkan dalam praktiknya bahwa mereka telah lolos dari warisan Trump dan akan menerima bahwa mereka adalah anggota yang bertanggung jawab, maka kita harus menunggu."(sl)

Tags