Aug 02, 2022 11:14 Asia/Jakarta

Menyusul kunjungan pertama Mohammed bin Salman ke Yunani dan Prancis setelah pembunuhan Jamal Khashoggi, yang terjadi dua pekan setelah kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Arab Saudi, Komisi Nasional Pemberantasan Korupsi Arab Saudi (Nazaha) menahan 78 orang di beberapa kementerian atas tuduhan melakukan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, pencucian uang dan pemalsuan.

Organisasi ini mengumumkan di laman Twitter-nya bahwa mereka melakukan 3.207 putaran pengawasan selama sebulan terakhir dan menahan 78 orang dari 116 orang yang diselidiki.

Komisi Nasional Pemberantasan Korupsi Arab Saudi menekankan bahwa para pegawai ini berasal dari kementerian pertahanan, kesehatan, kehakiman, kotamadya, distrik pedesaan dan perumahan.

Menurut Nazaha, orang-orang ini ditahan atas tuduhan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, pencucian uang dan pemalsuan.

Image Caption

Komisi Pemberantasan Korupsi Saudi ini meminta warga untuk melaporkan kecurigaan korupsi keuangan atau administrasi melalui berbagai sarana komunikasi.

Sebelumnya, Nazaha mengumumkan bahwa pada tahun 2021, mereka memulai kompetensi dan tugasnya dalam memerangi korupsi dan melakukan 34.825 putaran pengawasan serta menyelidiki 7.648 orang dalam kasus administrasi, pidana dan keuangan.

Selama penyelidikan ini, 2.460 orang ditahan dan dirujuk ke pengadilan untuk menyelesaikan prosedur normal di negara ini.

Dengan latar belakang seperti itu, penahanan baru-baru ini bukannya tidak terduga, dan pada kenyataannya, sejak pembentukan Komisi Nasional Pemberantasan Korupsi di Arab Saudi pada tahun 2017, inspeksi dan penangkapan telah menjadi tren, dan mengingat tujuan dari pengawasan, inspeksi dan penahanan diumumkan untuk memajukan rencana ekonomi makro 2030, tampaknya dapat dibenarkan.

Namun, beberapa faktor menimbulkan keraguan tentang keaslian tujuan yang dinyatakan pemerintah dan pribadi Mohammed bin Salman.

Pertama, Kepala Komisi Nasional Pemberantasan Korupsi adalah pribadi Mohammed Bin Salman sendiri, dan pembentukan organisasi ini telah bertepatan dengan proses pengambilalihan dan monopoli kekuasaan olehnya.

Menyusul kunjungan pertama Mohammed bin Salman ke Yunani dan Prancis setelah pembunuhan Jamal Khashoggi, yang terjadi dua pekan setelah kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Arab Saudi, Komisi Nasional Pemberantasan Korupsi Arab Saudi (Nazaha) menahan 78 orang di beberapa kementerian atas tuduhan melakukan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, pencucian uang dan pemalsuan.

Oleh karena itu, kemungkinan semakin kuat bahwa dengan kedok memerangi korupsi ekonomi, penyelesaian politik akan dibuat, dan dengan demikian banyak pesaing akan dikeluarkan dari lapangan, seperti yang terlihat dalam kasus Hotel Ritz-Carlton.

Selama penahanan 87 pangeran Saudi yang berada di bawah pengawasan di hotel ini selama beberapa bulan, lebih dari 100 miliar dolar properti mereka disita oleh Nazaha.

Kedua, yang perlu dipikirkan adalah bahwa penangkapan dan penahanan para pejabat Saudi atas tuduhan korupsi keuangan terjadi sementara pihak berwenang Saudi tidak mengumumkan rincian tuduhan terhadap orang-orang ini.

Pada hakikatnya, tidak ada transparansi yang diperlukan untuk menangani kasus-kasus seperti itu dalam proses penahanan orang-orang yang diduga melakukan korupsi di Arab Saudi, bahkan tidak ada informasi yang akurat tentang orang-orang yang ditahan.

Selain itu, waktu dimulainya kembali penahanan ini juga dipertanyakan.

Dimulainya kembali atau pengumuman penahanan ini segera setelah perjalanan Eropa pertama Mohammed bin Salman ke Yunani dan Prancis.

Perjalanan Joe Biden ke Arab Saudi dan pertemuan dengan Mohammed bin Salman, bertentangan dengan sikap dan kebijakan yang dinyatakan Biden di waktu pemilu presiden AS. Kenyataan ini telah memperkuat kemungkinan bahwa Mohammed bin Salman telah keluar dari isolasi internasional yang disebabkan oleh pembunuhan Jamal Khashoggi.

Mohammed bin Salman dan pembunuhan Jamal Khashoggi

Di samping itu, perubahan perimbangan yang disebabkan oleh perang di Ukraina, telah meningkatkan kebutuhan negara-negara Barat akan minyak Saudi dan ini digunakan Bin Salman untuk menstabilkan posisinya di dalam negeri dan menyelesaikan proses melawan para pesaingnya di kalangan istana.

Dua poin penting ini memberikan perspektif gelap gelombang baru penahanan internal di Arab Saudi, yang bisa lebih intens dibandingkan dengan gelombang sebelumnya karena ketakutan Bin Salman akan reaksi dari negara-negara Barat.(sl)

Tags