Aug 06, 2022 22:07 Asia/Jakarta
  • Jalur Gaza.
    Jalur Gaza.

Militer rezim Zionis Israel menyerang posisi Gerakan Jihad Islam Palestina di Jalur Gaza dalam operasi yang disebutnya sebagai "Operasi Fajar" pada Jumat, 5 Agustus 2022.

Kejahatan Zionis tersebut telah menyebabkan 12 warga Palestina, termasuk seorang anak berusia 5 tahun, gugur syahid. Komandan Saraya al-Quds untuk Zona Utara Tayseer al-Ja'bari 'Abu Mahmud juga gugur syahid dalam serangan ini.

Serangan udara rezim Zionis menyasar posisi kelompok Jihad Islam Palestina dan anggota-anggota kelompok perlawanan ini. Sebelumnya, Al-Ja'bari, yang terpilih sebagai penerus syahid Baha Abul Ata pada 2019, mengalami dua kali percobaan pembunuhan pada 2012 dan 2014, tetapi selamat.

Al-Jabari adalah Komandan Saraya al-Quds untuk Zona Utara dalam perang dan operasi "Pedang al-Quds" (Saif al-Quds) pada tahun 2021 dan merupakan salah satu pengawas pembuatan rudal perlawanan, termasuk sistem rudal Jihad Islam yang diresmikan pada bulan Mei 2021.

Dengan membunuh al-Ja'bari, rezim Zionis ingin membalas dendam atas operasi Saif al-Quds tahun lalu dan melenyapkan salah satu komandan penting Jihad Islam. Selain al-Ja'bari, rezim Zionis menangkap puluhan anggota Jihad Islam di Tepi Barat. Surat kabar Zionis Ma'ariv menulis bahwa orang-orang ini terlibat dalam operasi melawan rezim Zionis.  

Tindakan rezim Zionis ini bahkan dikritik oleh sejumlah pihak di wilayah pendudukan. Gal Berger, seorang analis Israel, menyebut tindakan ini sebagai "kesalahan besar." Dia menulis, sekarang semua kelompok Palestina menargetkan kami atas nama Jihad Islam, dan mereka semua bersatu melawan kami, dan penyebab situasi ini adalah Yair Lapid, Perdana Menteri Israel.

Menanggapi kejahatan oleh rezim Zionis ini, kelompok-kelompok perlawanan Palestina menekankan dalam sebuah pernyataan bahwa perlawanan dan persatuan akan tetap menjadi ujung panah melawan kejahatan-kejahatan rezim pendudukan, dan kejahatan-kejahatan ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa balasan.  

Serangan balasan kelompok perlawanan Palestina terhadap kejahatan rezim Zionis Israel.

Dalam hal ini, kelompok-kelompok perlawanan Palestina secara cepat mulai merespon serangan rezim Zionis di Gaza dengan serangan-serangan rudal ke wilayah pendudukan, yang sebagian besar rudal kelompok perlawanan berhasil melewati sistem pertahanan udara rezim Zionis dan mengenai sasaran.

Dengan tanggapan tegas dari kelompok-kelompok perlawanan Palestina, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Asia Barat Tor Wennesland pada Sabtu (6/8/2022) dini hari menuntut penghentian tanggapan rudal kelompok-kelompok perlawanan terhadap kejahatan rezim Zionis.  

Tor Wennesland yang mengabaikan pembunuhan terhadap warga Palestina oleh rezim Zionis mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa eskalasi ketegangan di Gaza sangat berbahaya. Dia menegaskan, penembakan roket dari Gaza harus segera dihentikan, dan saya meminta semua pihak untuk menahan diri dari eskalasi ketegangan lebih lanjut.

Beberapa sumber juga menyatakan bahwa rezim Zionis meminta mediasi untuk mengakhiri konflik tersebut namun kelompok-kelompok perlawanan Palestina menolak permintaan ini.

Penolakan Jihad Islam Palestina terhadap mediasi adalah karena Jihad Islam meyakini bahwa periode "menyerang (memukul) dan lari telah berakhir." Kelompok-kelompok Palestina memiliki hak untuk memberikan tanggapan timbal balik yang proporsional atas kejahatan rezim Zionis.

Poin terakhir adalah bahwa serangan rezim Zionis terhadap posisi Jihad Islam Palestina di Gaza sekali lagi dilakukan menjelang pemilu dan ketika rezim ini sedang menghadapi kebuntuan politik.

Perang 12 hari tahun lalu juga terjadi setelah mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal membentuk kabinet. Sekarang kabinet koalisi Lapid-Bennett telah runtuh dan pemilu parlemen lain dijadwalkan akan diadakan di wilayah pendudukan pada November mendatang.  (RA)

Tags