Aug 08, 2022 15:12 Asia/Jakarta

Rezim Zionis Israel telah memasukkan teror dan pembunuhan terhadap para komandan Jihad Islam Palestina ke dalam agenda serangan terbarunya ke Jalur Gaza yang dimulai pada hari Jumat, 5 Agustus 2022.

Langkah pertama adalah membunuh Komandan Saraya al-Quds untuk Zona Utara Tayseer al-Ja'bari 'Abu Mahmud yang dilakukan pada hari Jumat. Militer rezim Zionis kemudian membunuh Komandan Saraya al-Quds untuk Zona Selatan Khaled Mansour dalam sebuah serangan udara di kamp pengungsi Rafah, selatan Gaza.  

Rezim Zionis selanjutnya menarget Komandan Tinggi Jihad Islam Palestina Ahmed al-Mudallal, namun gagal membunuhnya. Dalam serangan ini, putra al-Mudallal gugur syahid. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa rezim teroris Zionis telah menggunakan metode teror secara khusus dalam serangan terbarunya ke Gaza.

Ada berbagai alasan mengapa rezim Zionis fokus pada teror dalam perang terbaru ini, tetapi alasan yang paling penting adalah bahwa rezim ilegal ini mahir dalam melakukan operasi terorisme.

Rezim Zionis adalah contoh nyata terorisme negara dan telah menggunakan metode teror di dalam wilayah pendudukannya di Palestina, Lebanon, Republik Islam Iran dan negara-negara lain. Badan-badan militer dan intelijen Israel menerima pelatihan khusus tentang teror dan memandang teror sebagai metode operasional.

Alasan lain penggunaan teror adalah bahwa rezim teroris Zionis berpikir bahwa dengan membunuh para komandan kelompok-kelompok perlawanan akan bisa menghambat proses penguatan posisi mereka di depan rezim ilegal ini dan juga dalam tatanan keamanan Asia Barat.

Tidak diragukan lagi, persepsi rezim Zionis ini tidak benar sebab Israel sejauh ini telah meneror dan membunuh para komandan tinggi kelompok-kelompok Poros Perlawanan, namun alih-alih perlawanan ini berhenti, tetapi justru semakin kuat dengan berlalunya waktu, dan hari ini telah mencapai tingkat kekuatan militer yang memiliki kemampuan untuk menanggapi kejahatan rezim Zionis. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pembunuhan terhadap para komandan tinggi kelompok-kelompok perlawanan menjadi salah satu faktor semakin kuatnya Poros Perlawanan.

Jubir Hamas Hazem Qassem

Dalam hal ini, juru bicara Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Hazem Qassem mengatakan, rezim pendudukan berpikir bahwa dengan membunuh para pemimpin perlawanan, langkah itu akan dapat menghentikan jalur perlawanan di bumi Palestina, tetapi pengalaman telah menunjukkan bahwa perlawanan menjadi semakin kuat dengan kesyahidan para pemimpinnya.

Hazem Qassem menyatakan bahwa perlawanan yang berani terus melakukan tugas sucinya dalam menanggapi kejahatan-kejahatan rezim pendudukan terhadap bangsa dan tempat-tempat suci Palestina.

Faktor lain yang menyebabkan rezim Zionis fokus pada pembunuhan para komandan perlawanan adalah kegagalan yang pernah dialami sebelumnya di medan perang. Kegagalan ini membuat rezim Zionis sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak dapat memasuki perang dalam jangka panjang karena sangat rentan. Oleh karena itu, Israel berusaha mempersingkat durasi perang dengan berfokus pada teror terhadap para petinggi perlawanan agar bisa mencegah kerugian yang lebih besar.

Faktor penting lain dari penggunaan metode teror adalah sejauh ini tidak ada organisasi atau kekuatan dunia yang mengambil tindakan terhadap kejahatan teroris Zionis. Kebungkaman yang disertai dengan dukungan kepada rezim Zionis merupakan faktor penting bagi kelanjutan kejahatan dan terorisme yang dilakukan rezim ilegal ini.

Kekuatan-kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat, mendukung kejahatan rezim Zionis. Sementara, meskipun negara-negara Arab mengutuk serangan Israel terhadap Gaza, namun mereka mengambil jalan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis.

Langkah negara-negara Arab ini tentunya telah menyebabkan rezim Zionis semakin berani melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina dan tidak khawatir atas posisi negara-negara Arab. Oleh karena itu, rezim teroris Zionis pun tidak khawatir akan dihukum atas kejahatannya. (RA)

Tags