Aug 14, 2022 10:03 Asia/Jakarta

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman baru-baru ini membentuk unit keamanan dan tujuannya untuk menumpas kubu oposisi di luar negeri.

Tujuh setengah tahun telah berlalu sejak Mohammed bin Salman mencapai berbagai posisi puncak kekuasaan di Arab Saudi.

Mohammed bin Salman, pertama dengan posisi Menteri Pertahanan dan kemudian Wakil Putra Mahkota, dan kemudian secara bersamaan memegang posisi Menteri Pertahanan dan Putra Mahkota Arab Saudi, hampir menjadi Man of Power pertama di negeri ini. Sekalipun demikian, Bin Salman sedang mempertimbangkan posisi raja Arab Saudi.

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi

Untuk mencapai takhta, ia memiliki saingan dalam keluarga Al Saud, dan ia juga menghadapi kendala "adat terkait dengan transfer kekuasaan di Arab Saudi".

Tradisi politik yang terkait dengan peralihan kekuasaan di Arab Saudi adalah transfer kekuasaan dari saudara ke saudara, dengan kata lain, dari anak-anak Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi, kepada satu sama lain.

Karena fakta bahwa anak-anak Abdul Aziz semua berusia tua, masalah pengalihan kekuasaan kepada keturunannya telah dibahas selama bertahun-tahun dan Mohammed bin Salman telah mengambil langkah-langkah penting untuk mengimplementasikan masalah ini dalam beberapa tahun terakhir.

Namun tindakan ini tidak mungkin dilakukan oleh Mohammed bin Salman. Dia memiliki saingan yang kuat untuk mencapai takhta, beberapa dari mereka, terutama Mohammad Bin Nayef, mendapat dukungan asing yang serius.

Putra mahkota Saudi mengambil jalan menghilangkan saingan untuk mencapai takhta. Dia telah menekan para pangeran Saudi dengan cara yang beragam.

Pada November 2017, hanya 5 bulan setelah menjadi putra mahkota, ia menempatkan puluhan pangeran Saudi di bawah tahanan rumah karena apa yang disebutnya perang melawan korupsi, tetapi tujuan utamanya adalah tidak dapat melihat para pesaingnya hidup dan menyingkirkan beberapa dari mereka dari persaingan itu untuk mencapai kursi raja.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman baru-baru ini membentuk unit keamanan dan tujuannya untuk menumpas kubu oposisi di luar negeri.

Bin Salman bertanggung jawab atas dukungan pemerintah Amerika yang dipimpin oleh Donald Trump dalam kebijakan represi yang dia ambil di Arab Saudi.

Namun, naiknya Joe Biden ke tampuk kekuasaan di Amerika Serikat dan kritiknya terhadap pelanggaran berat hak asasi manusia Bin Salman di dalam dan di luar Arab Saudi, menyebabkan Putra Mahkota Saudi mengurangi penindasan terhadap lawan dan saingannya.

Kini, Mohammed bin Salman kembali menjalankan kebijakan represif secara lebih luas dan terorganisir.

Menurut laporan laman mirataljazeera.org, putra mahkota Arab Saudi menginstruksikan penggunaan seluruh sarana dan alat untuk memantau dan memata-matai serta memblokade kubu oposisi. Bin Salman juga menginstruksikan siapa saja di dalam negeri yang melakukan kontak dengan oposisinya di luar negeri, maka ia harus ditangkap.

Menurut laporan ini, Bin Salman minta dengan cepat jaminan keuangan untuk unit ini dan menekankan, ia sepakat bahwa gaji unit keamanan ini sangat tinggi dan mereka juga akan disediakan berbagai peralatan yang diperlukan.

Tujuan Bin Salman adalah untuk sepenuhnya mengendalikan lawan dan saingannya dalam struktur kekuasaan Saudi.

Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi

Di satu sisi, Bin Salman sangat khawatir tentang meningkatnya pengaruh lawan-lawan asingnya dan menganggap mereka sebagai ancaman berbahaya baginya, dan di sisi lain, perjalanan Biden ke Arab Saudi dan pertemuannya dengan Putra Mahkota Saudi mengakhiri isolasi dan mengatur panggung untuk babak baru telah memberikan represi di dalam Arab Saudi.

Menurut Bin Salman, dalam situasi saat ini dengan hak istimewa minyak, ia dapat memperluas penindasan karena kekuatan Barat membutuhkan minyak Saudi sekarang lebih dari sebelumnya dan akan tetap diam dalam menghadapi penindasannya.(sl)

Tags