Aug 27, 2022 18:15 Asia/Jakarta
  • Penjara rezim Zionis Israel.
    Penjara rezim Zionis Israel.

Perkembangan di negara-negara Asia Barat selama sepekan lalu diwarnai sejumlah isu penting seperti aksi mogok makan tahananan Palestian di penjara rezim Zionis Israel.

Tawanan Palestina yang mendekam di penjara rezim Zionis Israel saat merespon perilaku buruk sipir penjara mengancam akan melakukan aksi mogok makan massal.

Kantor sipir Israel mundur dari kesepakatan sebelumnya di bulan Maret dan memutuskan untuk memulai penumpasan umum tawanan Palestina khususnya mereka yang divonis hukuman penjara seumur hidup melalui relokasi tawanan setiap enam bulan sekali.

Menurut laporan al-Quds al-Arabi, Klub Tawanan Palestina mengutip komite tinggi luar biasa nasional yang bertanggung jawab menindaklanjuti urusan tawanan anggota faksi-faksi Palestina di seluruh penjara Israel di statemennya menkonfirmasi ancanam tawanan Palestina untuk mogok makan massal.

"Setelah konsultasi diputuskan bahwa sejak awal pekan ini, melalui langkah-langkah taktis, kami akan memulai aksi mogok makan selama dua pekan di mana mogok makan akan diikuti seluruh faksi nasional di penjara-penjara rezim Zionis," ungkap statemen tersebut.

Menurut statemen ini, aksi mogok makan akan dimulai selama hari-hari Senin dan Rabu mendatang, dan tawanan menolak keluar dari selnya untuk pemeriksaan keamanan, dan ini peringatan kepada kantor sipir penjara Israel untuk menghentikan perilakunya dan mengabaikan keputusannya.

Jumlah tawanan Palestina yang mendekam di penjara-penjara rezim Zionis mencapai 4.550 orang, di mana 27 di antaranya adalah perempuan, 175 manula dan 670 tawanan dijatuhi hukuman penahanan administratif (tanpa dakwaan atau pengadilan).

Hizbullah: AS Penyebab Utama seluruh Kendala di Lebanon

Deputi Dewan Eksekutif Hizbullah menuding Amerika memanfaatkan krisis ekonomi Lebanon untuk meraih tujuannya dan menilai Washington faktor utama kesulitan negara ini.

Seperti dilaporkan al-Manar, Sheikh Ali Damush di pidatonya mengungkapkan, Amerika menyalahgunakan krisis ekonomi, finansial dan mata pencaharian Lebanon untuk mengontrol Lebanon dan mencapai tujuannya. Amerika mencegah sampainya setiap bantuan kepada rakyat kita, sehinga Lebanon terus ditekan krisis, blokade, sanksi dan penghinaan.

"Klaim sejumlah orang mengenai pergerakan AS untuk membantu Lebanon tidak akan mengubah fakta ini bahwa Washington pertama-tama membantu Israel dan menjadi faktor utama seluruh penderitaan bangsa Lebanon," ujar Sheikh Damush.

Sheikh Damush menambahkan, "Rakyat Lebanon harus mengetahui bahwa Amerika yang mencegah Lebanon mengekstraksi minyak dan gas serta memanfaatkan listrik, serta melindungi orang korup dan kalah, adalah musuh mereka dan Amerika yang memblokade mereka dan memperparah krisis nasional dengan menggulirkan berbagai syarat."

Seraya menjelaskan bahwa muqawama berdasarkan dukungan budaya, manusia dan patriotiknya, hari telah menciptakan perimbangan kuat untuk mengalahkan blokade AS, menyelamatkannya, menegakkan hak serta isu lainnya, Sheikh Damus mengingatkan, Hizbullah terus melanjutkan tanggung jawabnya terhadap negara dan rakyat, serta bertekad menghapus blokade Amerika dan tidak mengindahkan serangan terhadap dirinya.

Penjarahan Minyak Suriah, Profesi AS Sejak 2011

Pencurian dan penjarahan minyak Suriah oleh militer militer Amerika Serikat (AS) dan milisi yang berafiliasi dengan negara ini terus berlanjut. Sejak 2011, AS mendukung kelompok-kelompok teroris yang memerangi pemerintah Damaskus, bahkan mencuri sumber-sumber energi Suriah.

Selama beberapa tahun terakhir militer AS mencuri dan menyelundupkan minyak Suriah. Pasukan AS menguasai ladang minyak dan gas utama Hasakah dan Deir Ezzor dengan bantuan Pasukan Demokratik (Kurdi) Suriah (SDF).

Militer AS telah membuat jalan ilegal hanya untuk menyelundupkan minyak Suriah. Mereka membuat jalur tersebut dengan bantuan milisi Kurdi dari SDF. Pekan lalu, AS mencuri dan menyelundupkan sekitar 300 tanker minyak Suriah ke Irak melalui penyeberangan al-Mahmoudieh.

Kementerian Perminyakan Suriah pada tanggal 8 Agustus 2022 mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa AS dan pasukan bayarannya mencuri rata-rata 66.000 barel minyak Suriah setiap hari, yang merupakan 80% dari produksi minyak Suriah. Pencurian minyak Suriah telah menyebabkan 105 miliar dolar kerugian langsung dan tidak langsung terhadap industri minyak negara ini.

Pasukan AS terus mencuri dan menyelundupkan minyak Suriah. Pemerintah Damaskus telah berulang kali menyatakan bahwa AS mencuri sumber daya alam Suriah seperti minyak, gas dan gandum.

Pamerintah Damaskus juga menuntut penarikan pasukan AS dari Suriah. Selain itu, warga Suriah telah berkali-kali melakukan demonstrasi untuk menuntut penarikan pasukan AS dan penghentian pencurian sumber daya minyak negara mereka.

Pemerintah Damaskus juga telah beberapa kali mengadu ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) mengenai pencurian sumber daya minyak Suriah oleh AS.

Meskipun ada pengaduan dari Kementerian Luar Negeri Suriah ke DK-PBB, namun militer AS tidak menghentikan pencurian minyak Suriah. Selain itu, DK-PBB juga tidak mengambil tindakan apapun untuk memaksa Pentagon menghentikan pencurian minyak Suriah.

Meskipun AS berulang kali mengklaim bahwa mereka hadir di Suriah dengan tujuan memerangi terorisme, namun mantan Presiden AS Donald Trump dengan jelas menyatakan bahwa kehadiran pasukan Amerika di Suriah adalah karena sumur-sumur minyak negara ini. Terorisme hanya sebagai dalih untuk mencuri sumber daya minyak Suriah dan sumber makanan dan lainnya.

Selain minyak, militer AS mencuri dan menyelundupkan gandum dan biji-bijian Suriah dalam jumlah besar setiap minggu untuk digunakan pasukannya di Irak. Sementara itu, sebagian besar penduduk Suriah yang menghadapi kekerasan yang dilakukan oleh kelompk-kelompok teroris dalam beberapa tahun terakhir membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Surat kabar Cina, China Daily baru-baru ini menulis dalam sebuah artikel bahwa AS telah menjadi lebih berani daripada banyak negara di dunia dalam kejahatan pencurian, dan penjarahan minyak Suriah adalah sebuah tindakan yang sangat memalukan.

Surat kabar itu juga menyinggung kelanjutan pencuraian minyak Suriah dan pemindahannya ke wilayah Irak oleh militer AS.

"Sangat mudah untuk memahami fakta ini karena penjarahan dan perampasan hak telah menjadi profesi Amerika Serikat sejak lama," tegas China Daily.

PBB: Rezim Zionis Hancurkan Puluhan Bangunan Palestina

Kantor PBB Urusan Koordinasi Kemanusiaan di Wilayah Pendudukan (OCHA) mengumumkan bahwa rezim Zionis telah menghancurkan 50 bangunan Palestina di Al Quds dan Tepi Barat dalam dua pekan terakhir.

Meskipun Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334 telah dikeluarkan untuk menghentikan pembangunan permukiman Zionis, tapi Israel mengabaikannya dan terus berusaha untuk mengubah struktur geografis wilayah Palestina dengan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan memperluas permukiman Zionis, dalam rangka untuk mengkonsolidasikan dominasinya di wilayah Palestina.

Laporan OCHA, yang diterbitkan secara berkala hari Sabtu (20/8/2022) mengungkapkan, "Sebagai akibat dari penghancuran ini, 55 warga Palestina, termasuk 28 anak-anak terlantar, dan 220 orang lainnya juga terkena dampaknya,".

Organisasi internasional ini menegaskan bahwa rezim Zionis biasanya menghancurkan rumah-rumah Palestina dengan dalih tidak memiliki izin pembangunan. Pada saat yang sama, ketika orang Palestina meminta izin untuk membangun di tanah mereka, rezim Zionis tidak memberikan izin.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa 12 bangunan dari total bangunan yang hancur dibangun melalui bantuan asing.

Kementerian Perumahan Palestina di Jalur Gaza, yang mengawasi proses pembangunan kembali rumah yang rusak, mengumumkan tentang kerusakan yang terjadi pada bangunan dan rumah di Gaza selama perang baru-baru ini.

Selama perang terbaru di gaza, 18 unit tempat tinggal hancur total, dan 71 unit juga rusak sehingga tidak layak huni, selain itu 1.675 unit rumah juga mengalami kerusakan.

Sadr: Tunggu Langkah Kami Berikutnya !

Pemimpin Gerakan Sadr Irak, Sayid Moqtada Sadr seraya menjelaskan bahwa berbagai faksi politik menolak debat terbuka dengan dirinya mengatakan, seluruh pihak harus menunggu langkah gerakan ini berikutnya.

Pemilu parlemen dini Irak digelar 10 Oktober 2021, tapi berbagai faksi politik negara ini terus terlibat friksi politik sehingga setelah 10 bulan dari pemilu tersebut, mereka belum berhasil membentuk pemerintah baru di negara ini.

Sayid Moqtada Sadr Sabtu (20/8/2022) mengungkapkan, "Kami telah menyampaikan usulan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggelar sebuah negosiasi atau debat terbuka secara langsung dengan seluru fraksi politik."

Seraya menjelaskan bahwa dirinya belum menerima jawaban konkrit dari berbagai faksi politik terkait hal ini, Sadr di akun Twitternya menulis, jawaban yang diterima melalui perantara tidak berguna, dan "jawaban mereka tidak mencakup tuntutan revolusioner dan apa yang diinginkan bangsa ini".

Pemimpin Gerakan Sadr juga menjelaskan, berbagai faksi politik tidak mementingkan masalah ini, oleh kerena itu, semua pihak harus menunggu langkah kami berikutnya.

Statemen Sadr untuk debat langsung dengan seluruh faksi Irak digulirkan ketika Perdana Menteri pemerintahan yang memajukan urusan Irak, Mustafa al-Kadhimi pekan lalu menggelar dialog nasional untuk menyelesaikan kebuntuan politik, tapi bukan hanya Sadr, tapi juga tidak ada wakil dari faksi politik neagra ini yang hadir di pertemuan tersebut.

Sheikh Sabri: Masjid al-Aqsa akan Bebas dalam Waktu Dekat

Khatib Masjid al-Aqsa di peringatan ke-53 pembakaran Masjid al-Aqsa oleh rezim Zionis seraya mengisyaratkan berlanjutnya pelanggaran rezim ini terhadap tempat suci, menekankan, Masjid al-Aqsa dan Quds hanya dapat dibebaskan dengan usaha dan jihad di jalan Allah.

21 Agustus setiap tahun ditetapkan sebagai Hari Masjid Sedunia, karena rezim Zionis di hari seperti ini membakar Masjid al-Aqsa di kota Quds pendudukan.

Masjid al-Aqsa sebagai simbol utama identitas Islam-Palestina Baitul Maqdis senantiasa menjadi target aksi destruktif rezim Zionis.

Sheikh Ekrima Sa'id Sabri, khatib Masjid al-Aqsa Minggu (21/8/2022) mengatakan, kebakaran Masjid al-Aqsa dan Quds sampai saat ini belum berhenti, dan Quds serta masjid ini berada dalam kondisi sangat sulit dan penting.

"Aksi-aksi pelanggaran dan perampokan properti rakyat Baitul Maqdis serta Yahudisasi daerah ini oleh rezim Zionis serta perampasan tanah warga Palestina, penahanan dan pengasingan warga tertindas ini oleh Israel masih terus berlanjut," ungkap Sheikh Sabri.

Ali Abu Ras, pengamat Baitul Maqdis juga mengatakan, proyek Yahudisasi dan hegemoni terhadap tempat suci umat Muslim di Quds pendudukan oleh kelompok Zionis dukungan militer dan dinas keamaan serta faksi politik, tidak pernah berhenti, serta pelanggaran berulang terhadap Quds dan tempat suci umat Muslim oleh Zionis untuk menekan warga asli daerah ini serta mengusir warga Palestina masih juga terus berlanjut.

Pengamat Palestina ini seraya merujuk pada pengkhianatan sejumlah negara Arab dengan mengiringi rezim ilegal Zionis menambahkan, Palestina tidak mengandalkan negara-negara yang menandatangani Perjanjian Abraham untuk melindungi Masjid al-Aqsa, karena kesepakatan ini membantu Zionis untuk melakukan kejahatan lebih besar terhadap Quds.

Peringatan 17 Tahun Keluarnya Zionis dari Gaza

17 tahun telah berlalu sejak rezim Zionis Israel meninggalkan Jalur Gaza dan mengosongkan distrik-distrik Zionis dari wilayah Palestina ini.

Pada tanggal 15 Agustus 2005, Israel mengosongkan 21 distrik Zionis di Gaza. Distrik ini memiliki total penduduk 8000 jiwa. Pemukiman Zionis tersebut juga menempati 36 kilometer persegi Gaza.

Gaza memiliki luas 360 kilometer persegi dan pemukiman ini menempati sepersepuluh dari luas wilayah tersebut. Pencapaian besar sangat penting dalam beberapa hal.

Pertama, setelah 38 tahun, rakyat Palestina berhasil mengusir pemukim Zionis dari Gaza, yang diduduki Israel pada tahun 1967. Prestasi ini juga menunjukkan bahwa perlawanan bukanlah strategi dengan hasil langsung, tetapi strategi dengan hasil jangka panjang, dan pencapaiannya pun akan jangka panjang.

Kedua, pencapaian ini sangat penting dari segi waktu. Pada tahun 2000, pasukan Zionis terpaksa mundur dari Lebanon selatan, dan 5 tahun kemudian kekalahan lain terjadi untuk rezim ini, yaitu di Gaza.

Tiga distrik dari 21 distrik Zionis yang dikosongkan dibangun pada tahun 2001. Artinya, rezim Zionis terpaksa menyerahkan tiga permukiman itu kepada rakyat Palestina empat tahun setelah pendiriannnya.

Ketiga, keluarnya Zionis dari Gaza merupakan salah satu pencapaian penting Intifadah Kedua. Intifadah Kedua dimulai pada tahun 2000 dan berakhir pada tahun 2005.

Intifada Kedua adalah salah satu manifestasi praktis dari perlawanan, dan penarikan militer Zionis dari Gaza juga merupakan salah satu pencapaian perlawanan. Perang terowongan dan tekanan terhadap Israel menyebabkan Zionis meninggalkan Gaza.

Keempat, penarikan militer Zionis dari Gaza menunjukkan sifat kriminal rezim ini. Pasalnya, ketika pemukim Zionis mulai meninggalkan Gaza, mereka menghancurkan semua rumah, bangunan, prasasti dan barak, yang setara dengan lebih dari 3000 rumah dan 26 prasasti.

Dan kelima adalah bahwa setahun setelah pencapaian besar ini, rezim Zionis memulai blokade menyeluruh terhadap Gaza, yang berlanjut hingga sekarang. Sehingga Gaza berubah menjadi penjara terbuka terbesar di dunia.

Blokade komprehensif Gaza menunjukkan kemarahan rezim Zionis atas keberhasilan besar perlawanan pada tahun 2005.

Takut Hadapi Serangan Hizbullah, Rezim Zionis Siaga Bahaya

Sumber berbahasa Ibrani melaporkan seruan dan peringatan siaga bahaya yang dikeluarkan rezim Zionis di wilayah utara karena ketakutan akan menghadapi serangan Hizbullah Lebanon.

Al-Mayadeen mengutip sumber-sumber Ibrani hari Minggu (21/8/2022) mengumumkan bahwa seruan ini dilakukan menyusul ketakutan akan apa yang diumumkan sebagai "upaya Hizbullah untuk melakukan operasi permusuhan sebelum penandatanganan demarkasi perbatasan laut dengan Lebanon".

Seruan tentara Zionis terjadi beberapa hari setelah peringatan keras yang disampaikan Sayid Hassan Nasrullah, pemimpin Hizbullah, kepada rezim Zionis.

"Jika tuntutan pemerintah Lebanon terwujud, maka kita akan bergerak menuju perdamaian. tetapi jika Lebanon tidak mendapatkan hak-hak yang diinginkannya, maka kita akan bergerak menuju ketegangan," ujar Sekjen Hizbullah Lebanon.

Sekretaris Jenderal Hizbullah juga meminta pemerintah Lebanon tidak bergantung kepada AS dalam masalah ladang gas dan perbatasan Lebanon, karena utusan Amerika untuk Lebanon tidak melakukan apa-apa selain membuang waktu dan, pada kenyataannya, telah kehilangan kesempatan.

Sementara itu, kantor berita Sputnik mengutip sebuah sumber yang digambarkan sebagai "sumber resmi Lebanon" tanpa menyebut namanya, melaporkan bahwa negara tersebut secara tidak langsung telah mencapai kesepakatan dengan rezim Zionis mengenai demarkasi perbatasan laut.

Perselisihan antara rezim Zionis dan Lebanon telah meningkat mengenai perbatasan laut antara kedua belah pihak. Lebanon menyatakan bahwa sedang bernegosiasi secara tidak langsung dengan rezim Zionis mengenai wilayah antara apa yang disebut garis laut ke-23 dan ke-29, dan tidak akan mengkompromikan hak-haknya dalam kasus ini.

Pasukan Loyalis UEA Kuasai Ladang Minyak di Shabwah Yaman

Berbagai sumber Yaman mengkonfirmasi bahwa pasukan loyalis Uni Emirat Arab (UEA) mengambil alih kontrol ladang minyak di Shabwah.

Dewan Transisi Selatan (STC) yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab sejak 11 Agustus 2022 menguasai kota Ataq di Shabwah setelah konfrontasi dengan pasukan loyalis Arab Saudi.

Menurut laporan AlJazeera, komando militer di bawah Dewan Kepresidenan Yaman Senin (22/8/2022) menyatakan pasukan al-Amaliqah yang berafiliasi dengan UEA menguasai sebagian ladang minyak Provinsi Shabwah di selatan Yaman.

Masih menurut sumber ini, Komando Brigade Mekanik ke-21 yang berafiliasi dengan Dewan Kepresidenan Yaman terkait hal ini mengatakan, pasukan loyalis UEA pekan ini menyerang pasukan khusus penjaga perusahaan dan instalasi minyak dan gas di Shabwah, dan mencuri properti perusahaan gas di dekat Ayaz, merampok peralatan pasukan penjaga dan menawan sejumlah orang. Pasukan loyalis UEA mengabaikan seluruh instruksi Dewan Kepresidenan untuk tidak mendekati perusahaan dan ladang gas.

Lebih lanjut laporan ini menyebutkan, rute internasional al-Abr-al Wadiah ke arah Arab Saudi dan Oman ditutup dari dua arah karena konfrontasi sengit dan penggunaan senjata berat.

Bentrokan antara pasukan loyalis UEA dan Arab Saudi di Provinsi Shabwah menunjukkan friksi saat ini di tubuh lembaga Dewan Kepresidenan yang dibentuk dengan mediasi Arab Saudi untuk mengakhiri perbedaan antara UEA dan pasukan yang berafiliasi dengan Saudi. (MF)

Dewan Transisi Selatan (STC) yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab sejak 11 Agustus 2022 menguasai kota Ataq di Shabwah setelah konfrontasi dengan pasukan loyalis Arab Saudi.

Menurut laporan AlJazeera, komando militer di bawah Dewan Kepresidenan Yaman Senin (22/8/2022) menyatakan pasukan al-Amaliqah yang berafiliasi dengan UEA menguasai sebagian ladang minyak Provinsi Shabwah di selatan Yaman.

Masih menurut sumber ini, Komando Brigade Mekanik ke-21 yang berafiliasi dengan Dewan Kepresidenan Yaman terkait hal ini mengatakan, pasukan loyalis UEA pekan ini menyerang pasukan khusus penjaga perusahaan dan instalasi minyak dan gas di Shabwah, dan mencuri properti perusahaangas di dekat Ayaz, merampok peralatan pasukan penjaga dan menawan sejumlah orang. Pasukan loyalis UEA mengabaikan seluruh instruksi Dewan Kepresidenan untuk tidak mendekati perusahaan dan ladang gas.

Lebih lanjut laporan ini menyebutkan, rute internasional al-Abr-al Wadiah ke arah Arab Saudi dan Oman ditutup dari dua arah karena konfrontasi sengit dan penggunaan senjata berat.

Bentrokan antara pasukan loyalis UEA dan Arab Saudi di Provinsi Shabwah menunjukkan friksi saat ini di tubuh lembaga Dewan Kepresidenan yang dibentuk dengan mediasi Arab Saudi untuk mengakhiri perbedaan antara UEA dan pasukan yang berafiliasi dengan Saudi.

Nasrallah: Kemenangan Perlawanan Tahun 2000 Akhiri Proyek Israel Raya

Sayid Hassan Nasrallah, Sekjen Hizbullah Lebanon hari Senin (22/08/2022) malam dalam pidatonya mengatakan, "Kemenangan Perlawanan tahun 2000 telah mengakhiri proyek Israel Raya.

Menurut laporan IRNA, Sayid Hassan Nasrallah, yang berbicara pada upacara penutupan peringatan 40 tahun berdirinya Hizbullah, yang disebut festival Arbaun Rabi'an, menambahkan, "Ada hubungan yang mendalam antara aktivitas Perlawanan sebelum 1982 dan setelahnya, sehingga kemenangan tahun 2000 mengakhiri proyek Israel Raya dan berhasil mengalahkan pasukan yang belum terkalahkan."

"Anggota Hizbullah mengikuti jalan Imam Khomeini ra dan perilakunya, dan menganggapnya sebagai inspirasi terbesar Hizbullah di era saat ini," kata Sayid Hassan Nasrallah.

Menurut Sekjen Hizbullah, "Pencapaian terakhir Perlawanan dalam perang 2006 adalah masuknya Perlawanan untuk memulihkan hak minyak dan gas Lebanon. Pembebasan sisa wilayah Lebanon yang diduduki adalah tanggung jawab nasional."

"Bagaimanapun, kemenangan tahun 2006 adalah salah satu pencapaian terpenting Perlawanan dalam perjalanan panjangnya. Perang ini mengubah aturan konflik dengan musuh Zionis," ungkapnya.

Sayid Hassan Nasrallah menambahkan, salah satu tugas kami di masa depan adalah menciptakan perimbangan pencegahan untuk melindungi tanah, rakyat, dan kekayaan Lebanon.

"Ancaman Israel mengenai demarkasi perbatasan maritim tidak ada artinya. Keputusan dan pendekatan kami jelas dan kami menantikan hari-hari mendatang untuk bertindak atas apa yang diperlukan," jelas Sayid Hassan Nasrallah.

Tidak Ada Kata Mundur untuk Masalah Palestina

Sekaitan dengan masalah Palestina, Sekjen Hizlbullah mengatakan, "Masalah Palestina adalah bagian dari agama, budaya, reputasi, dan kehormatan bangsa ini, dan tidak ada ruang untuk membiarkan, bersikap netral, dan mundur darinya."

"Sumber strategi kami terhadap masalah Palestina adalah mengandalkan revolusi rakyat Palestina dan menentang kompromi dan normalisasi," tegasnya.

Dalam masalah Suriah, Sayid Hassan Nasrallah mengatakan, "Suriah adalah basis dari Poros Perlawanan, front keberlanjutan dan penentangan untuk menyerah pada syarat yang ditetapkan Zionis Israel."

Nasrallah menambahkan, "Kami bersama Suriah dalam perang dunia terhadap Suriah dan berpartisipasi di dalamnya."

Sekaitan dengan masalah isu kembalinya para pengungsi Suriah ke negaranya, Sayid Hassan Nasrallah mengatakan, "Sejauh ini, tekanan politik AS menyebabkan tidak ada kemajuan dalam masalah ini."

ta

Seluruh Faksi Palestina Bergabung di Aksi Mogok Makan

Ketua Klub Tawanan Palestina mengkonfirmasi partisipasi seluruh faksi Palestina di aksi mogok makan nasional di penjara-penjara rezim Zionis.

Seperti dilaporkan al-Mayadeen, Ketua Klub Tawanan Palestina, Qadoura Fares mengatakan, untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir, para tawanan Palestina dari seluruh faksi berencana berpartisipasi di acara mogok makan nasional dan tak terbatas.

"Organisasi-organisasi penjara rezim Zionis tidak siap melawan aksi protes tawanan Palestina," ujar Fares.

Bersamaan dengan dimulainya aksi mogok makan dan protes umum tawanan, ratusan orang dari keluarga tawanan Palestina berkumpul di depan gedung Bulan Sabit di Jalur Gaza.

Berita alinnya menyebutkan, Khalil Awawdeh masih terus melanjutkan aksi mogok makannya sampai kebebasan penuh, meski penangkapannya ditangguhkan sementara.

Tawanan Palestina ini hari Selasa (23/8/2022) memasuki hari ke-164 di aksi mogok makan. Kondisi fisiknya saat ini berbahaya dan setiap saat ini mungkin akan syahid.

Khalil Awawdeh ditahan sejak 27 Desember 2021 dan berstatus tahanan sementara. Sampai saat ini, Zionis telah tiga kali memperpanjang masa penahanan Awawdeh.

Baru-baru ini, menyusul serangan tiga hari rezim Zionis ke Jalur Gaza yang menewaskan 49 warga Palestina, diterapkan gencatan senjata dengan mediasi Mesir. Sementara itu, Israel berjanji membebaskan Awawdeh dan Bassam al-Saadi, salah satu pemimpin Jihad Islam, tapi penolakan pengadilan Israel untuk membebaskan Awawdeh menunjukkan bahwa rezim ini tidak pernah mematuhi janjinya.

Israel Tangkap Dua Anggota Senior Hamas

Militer rezim Zionis Israel dilaporkan menangkap dua anggota senior Hamas di Tepi Barat Sungai Jordan.

Seperti dilaporkan IRNA, militer Israel di babak baru aksinya di Tepi Barat, Selasa (23/8/2022) menangkap sembilan warga Palestina termasuk dua anggota senior Hamas, dan juga memperpanjang masa penahanan Sheikh Bassam al-Saadi, salah satu pemimpin Jihad Islam.

Militer Israel hari Senin (22/8/2022) di aksinya saat menyerang warga Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat, menangkap 15 warga tertindas Palestina termasuk sejumalh tawanan yang telah dibebaskan.

Pengadilan Zions untuk ketiga kalinya memperpanjang masa penahanan Sheikh Bassam al-Saadi, salah satu pemimpin Jihad Islam yang ditahan di penjara rezim penjajah Quds ini.

Pengacara al-Saadi menyatakan, pengadilan dengan kembali memperpanjang lima hari penahanan kliennya dengan alasan penyelidikan.

Jubir militer Zionis juga menekankan, Shin Bet telah menyelesaikan interogasi terhadap Bassam al-Saadi dengan dakwaan keanggotaan di Jihad Islam dan mendukung operasi muqawama, serta mengirimkan berkasnya ke pengadilan militer rezim ini.

Di sisi lain, militer Zionis menangkap Shadi Matur, sekretaris Fatah di al-Quds setelah menyerang rumahnya di distrik Beit Hanina, di utara Quds. Pemimpin Fatah ini sampai kini telah berulang kali ditawan rezim Zionis.

Saat ini terdapat 723 tawanan Palestina berstatus tahanan sementara dan angka ini tercatat paling tinggi sejak tahun 2008 hingga kini. Tahanan sementara menempati 15 persen dari total tawanan Palestina yang mendekam di penjara-penjara rezim Zionis.

Pasukan AS Serang Infrastruktur Suriah di Deir Ezzor

Pasukan agresor Amerika Serikat menyerang fasilitas infrastruktur Suriah di Deir Ezzor.

Seiring kekalahan kelompok teroris Daesh sebagai lengan militer Amerika di Suriah pada November 2017, pasukan Amerika secara langsung menggantikan kelompok teroris ini dengan memulai mengekstraksi dan menjarah minyak Suriah.

Reuters hari Rabu (23/8/2022) melaporkan bahwa CENTCOM dalam sebuah pernyataan mengungkapkan militer AS melakukan serangan udara terhadap infrastruktur di Deir Ezzor, Suriah, atas perintah Presiden AS Joe Biden.

Pernyataan CENTCOM tidak menyebutkan kemungkinan korban jiwa atau terluka, maupun kerugian material akibat serangan tersebut.

Awal pekan ini, seorang reporter Sputnik yang berbasis di Deir Ezzor melaporkan bahwa beberapa roket menargetkan pangkalan militer pasukan pendudukan AS di ladang minyak Al-Omar di timur kota Deir Ezzor di Suriah, yang diikuti oleh penerbangan pesawat tempur Amerika di zona udara negara Arab itu.

Donald Trump, Mantan Presiden Amerika Serikat dengan jelas mengatakan bahwa kehadiran militer Amerika di Suriah karena sumur minyak.

Selain minyak dan solar, Amerika juga menyelundupkan gandum dan biji-bijian Suriah dalam jumlah besar setiap pekan untuk digunakan tentara mereka di Irak.

Ziyad Al-Nakhalah Bertemu dengan Sekjen Hizbullah di Lebanon

Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam Palestina, Ziyad Al Nakhalah bertemu dan berbicara dengan Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Hizbullah di Lebanon.

Situs berita Ahed hari Rabu (24/8/2022) melaporkan, Ziyad Al-Nakhalah, Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam Palestina, dan Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon bertemu untuk membahas perkembangan dan peristiwa baru-baru ini di Gaza, dan Tepi Barat Sungai Yordan, terutama membicarakan pertempuran baru-baru ini di semua tingkat lapangan.

Dalam pertemuan ini, kedua belah pihak juga membahas perkembangan terkini di kawasan dan peran yang diharapkan dari berbagai sisi poros perlawanan di masa depan.

Dari tanggal 5 hingga 7 Agustus, tentara Israel menargetkan berbagai wilayah Jalur Gaza dengan serangan udara dan artileri, yang mengakibatkan 49 warga Palestina gugur, dan lebih dari 360 orang warga Palestina terluka.

Menanggapi serangan brutal ini, kelompok perlawanan Palestina menargetkan berbagai wilayah pendudukan Palestina, terutama Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion, dengan ratusan roket, yang menyebabkan setidaknya 60 orang Zionis dilarikan ke rumah sakit akibat serangan tersebut.

Akhirnya, kesepakatan gencatan senjata antara rezim Zionis dan gerakan Jihad Islam dilaksanakan pada 8 Agustus, dengan mediasi Mesir.

Pasukan AS Serang Daerah Timur Suriah

Pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke beberapa target di wilayah Suriah.

Selama beberapa tahun terakhir, tentara teroris Amerika telah berulang kali menargetkan posisi dan infrastruktur tentara Suriah untuk mendukung teroris.

Tentara teroris Amerika melakukan serangan besar-besaran terhadap posisi tentara Suriah dan kelompok perlawanan di wilayah timur negara ini, yang ditangkis oleh unit pertahanan udara militer Suriah.

Beberapa media juga melaporkan baku tembak antara artileri tentara Suriah dan tentara Amerika di pinggiran wilayah Al-Mayadeen di provinsi Deir Ezzor, daerah timur Suriah.

Pasukan AS juga menyerang fasilitas infrastruktur Suriah di Deir Ezzor pada hari Rabu.

Militer Amerika dan elemen teroris yang berafiliasi dengan mereka telah hadir secara ilegal di daerah utara dan timur Suriah untuk waktu yang lama.Selain menjarah sumber daya minyak dan biji-bijian Suriah, mereka juga mengambil tindakan destruktif terhadap penduduk dan pasukan Suriah di daerah itu.

Faisal al-Mekdad, Menteri Luar Negeri Suriah dalam pidato terbaru menekankan bahwa kehadiran Amerika di Suriah adalah ilegal, dan meminta pasukan pendudukan Amerika untuk segera meninggalkan negaranya.

Amerika Serikat selama ini berperan sebagai sponsor utama teroris di Suriah.

Krisis di Suriah telah dimulai sejak 2011 dengan invasi besar-besaran kelompok teroris yang didukung oleh Arab Saudi, Amerika dan sekutu mereka untuk mengubah perimbangan kekuatan regional demi mendukung rezim Zionis.

Militer Zionis Tangkap 13 Warga Palestina

Berbagai sumber lokal mengkonfirmasi penangkapan 13 pemuda Palestina selama penyerbuan tentara rezim Zionis ke berbagai wilayah Tepi Barat dan al-Quds pendudukan.

Militer rezim Zionis setiap hari menyerang berbagai wilayah Palestina untuk meraih ambisi ekspansionisnya serta membunuh, melukai atau menangkap warga tertindas ini.

Seperti dilaporkan al-Arabi al-Jadid, sumber-sumber lokal Kamis (25/8/2022) mengkonfirmasikan, terjadi bentrokan bersenjata antara pasukan muqawama dan militer rezim Zionis Israel di Kamp Jenin, utara Tepi Barat ketika tentara rezim ilegal ini melancarkan operasi penangkapan di sejumlah wilayah Tepi Barat.

Menurut sumber lokal, bentrokan ini meletus setelah penjajah Zionis menyerbu Kamp Jenin dan sejumlah rumah, dan puluhan warga Palestina mengalami sesak nafas karena menghidup gas air mata.

Muntasir Samour, direktur Club Tawanan Palestina di Jenin kepada al-Arabi al-Jadid mengatakan, pasukan penjajah Israel Kamis pagi setelah menyerbu Kamp Jenin, menangkap tiga pemuda termasuk Emad Amr Abu al-Haija, tawanan Palestina yang baru dibebaskan, Essam Abu Khalifa dan Suhaib Isa.

Kemarin malam selama serangan gas air mata ke arah warga Palestina dan rumah-rumah mereka di Kamp al-Arub di utara al-Khalil, selatan Tepi Barat, sejumlah warga Palestina mengalami sesak nafas.

Di sisi lain, pulah pemukim Zionis Rabu (24/8/2022) menyerang kompleks Masjid al-Aqsa.

Masjid al-Aqsa hampir setiap hari diserang para pemukim Zionis secara berkelompok dan dengan dukungan militer rezim Zionis. Melalui aksinya tersebut, rezim Zionis ingin mempersiapkan pembagian waktu dan tempat di tempat suci umat Islam ini.

Tentara Zionis Tembaki Nelayan Palestina di Perairan Gaza

Pasukan rezim zionis menembak para nelayan Palestina di perairan Gaza.

Sejak tahun 2006, setelah kemenangan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam pemilihan parlemen, rezim Zionis memblokade Jalur Gaza dan mencegah masuknya barang-barang kebutuhan pokok seperti bahan bakar, makanan, obat-obatan dan bahan bangunan ke daerah ini.

Ribuan orang mendapatkan makanan sehari-hari dengan memancing di Gaza dan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa menangkap ikan.

Tentara Israel secara teratur dan sengaja menargetkan nelayan Palestina di Laut Gaza untuk mencegah mereka menangkap ikan dan mencari nafkah dengan cara ini.

Perahu tempur Israel hari Jumat (26/8/2022) malam menembaki kapal nelayan Palestina di perairan barat Rafah.

Menurut laporan ini, tentara Zionis mencegah nelayan Palestina menangkap ikan dengan menembaki mereka.

Sebelumnya, pasukan zionis telah menangkap enam nelayan Palestina di perairan Gaza dan utara daerah ini.

Selama beberapa minggu terakhir, pasukan angkatan laut Israel melukai dua nelayan Palestina yang sedang mencari ikan di perairan Gaza.

Tags