Sep 28, 2022 11:35 Asia/Jakarta

Sumber-sumber berita mengumumkan pengunduran diri Mohammad Al-Halbousi dari jabatan Ketua Parlemen Irak dan mengumumkan bahwa masalah ini akan dibahas oleh anggota parlemen dalam sidang Rabu (05/10/2022) depan.

Irak sedang melalui hari-hari damai dalam hal keamanan, tetapi secara politik, ketenangan belum menguasai negara ini.

Sekitar satu tahun telah berlalu sejak pemilihan umum legislatif di Irak, dan sejauh ini kelompok-kelompok politik negara ini belum mencapai kesepakatan untuk memperkenalkan presiden dan perdana menteri baru.

Gedung Parlemen Irak

Setelah menyelenggarakan pemilu legislatif, hanya Mohammad Al-Halbousi yang terpilih menjadi Ketua DPR.

Sekalipun demikian, pengunduran diri anggota parlemen yang berafiliasi dengan gerakan Sadr menyebabkan komposisi parlemen Irak berubah. Karena sejumlah besar kursi yang berafiliasi dengan gerakan Sadr dialokasikan ke Kerangka Koordinasi Syiah.

Sekarang, menjelang peringatan satu tahun sejak pemilu parlemen Oktober 2021, berita pengunduran diri Mohammad Al-Halbousi dari jabatan Ketua Parlemen Irak telah dipublikasikan.

Pengunduran diri ini tampaknya memiliki dua kemungkinan tujuan.

Tujuan pertama adalah bahwa Al-Halbousi mencoba menentukan bobot politik dan kredibilitasnya di parlemen dengan anggota baru dan sepertinya ia ingin meningkatkan bobotnya di parlemen.

Al-Halbousi sebelumnya terpilih sebagai ketua parlemen sementara 73 anggota parlemen berafiliasi dengan gerakan Sadr.

Dengan kata lain, 73 anggota parlemen saat ini tidak hadir selama mosi percaya untuk Mohammad Al-Halbousi, dan tampaknya Al-Halbousi sedang mencoba untuk mendapatkan mosi percaya dari parlemen baru.

Sumber-sumber berita mengumumkan pengunduran diri Mohammad Al-Halbousi dari jabatan Ketua Parlemen Irak dan mengumumkan bahwa masalah ini akan dibahas oleh anggota parlemen dalam sidang Rabu (05/10/2022) depan.

Misha'an al-Juburi, salah satu tokoh politik Sunni Irak dan mantan anggota parlemen Irak, mengatakan tentang pengunduran diri Mohammad al-Halbousi, "Tujuannya adalah untuk memenangkan mosi percaya lagi dan mendukung koalisi barunya setelah penolakan permintaan pengunduran dirinya."

Majed Shankali, anggota Partai Demokrat Kurdistan Irak, juga mengatakan dalam hal ini, "Pengunduran diri Halbousi akan mengarah pada pembaruan mosi percaya padanya dan dukungan dari mereka yang tidak memilih dia sebelumnya."

Tujuan lain pengunduran diri Al-Halbousi adalah untuk mengevaluasi perilaku politik Kerangka Koordinasi Syiah.

Tampaknya Kerangka Koordinasi Syiah menekankan pencalonan Mohammed Shia' Al-Sudani untuk jabatan perdana menteri.

Dalam hal ini, Shia' Al-Sudani telah menetapkan 23 program untuk pemerintahnya, di mana memerangi korupsi dan meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat menjadi program-program utama.

Selain itu, media Irak baru-baru ini menerbitkan berita tentang kesepakatan Moqtada Sadr untuk mengadakan pertemuan tripartit antara Hadi Al-Amiri, Ketua Koalisi Fatah, Mohammad Al-Halbousi, Ketua Parlemen Irak, dan Nechirvan Barzani, Kepala Wilayah Kurdistan Irak.

Oleh karena itu, kemungkinan memperkenalkan Shia' Al-Sudani dari Kerangka Koordinasi Syiah semakin kuat.

Kerangka Koordinasi Syiah

Kehadiran anggota Kerangka Koordinasi Syiah di parlemen dan jenis suara mereka untuk Mohammad Al-Halbousi untuk jabatan Ketua Parlemen Irak juga dapat menentukan jenis perilaku Al-Halbousi dan arus di bawah pengawasannya mengenai Shia' Al-Sudani.

Poin terakhir adalah bahwa pengunduran diri Al-Halbousi terjadi dalam situasi di mana dia hampir yakin akan mosi percaya barunya di parlemen dan mengambil posisi ketua parlemen.(sl)

Tags