Okt 06, 2022 11:40 Asia/Jakarta

Menyusul kegagalan gencatan senjata, juru bicara angkatan bersenjata Yaman memperingatkan bahwa keamanan investasi di dua negara Arab Saudi dan UEA akan terancam.

Tahun kedelapan agresi koalisi Saudi terhadap Yaman akan segera berakhir. Akibat perang ini, Yaman menghadapi krisis kemanusiaan terbesar.

Sementara kritik terhadap PBB meningkat karena kegagalannya untuk menghentikan perang dan pada saat yang sama Arab Saudi juga menyaksikan serangan drone dan rudal Yaman, akhirnya gencatan senjata dilaksanakan mulai April 2022.

Pelanggaran gencatan senjata oleh koalisi Saudi

Gencatan senjata ini berlangsung selama dua bulan dan diperpanjang dua kali pada bulan Juni dan Agustus, tetapi berakhir pada 2 Oktober ketika pihak-pihak yang bertikai gagal memperbarui gencatan senjata karena pelanggaran koalisi Arab dan gangguan harian terhadap perjanjian ini.

Strategi Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman untuk menghadapi kegagalan gencatan senjata adalah melakukan tindakan timbal balik.

Sebenarnya, alasan utama kegagalan gencatan senjata adalah Arab Saudi dan Emirat mencegah Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman untuk mengambil keuntungan dari pendapatan minyak, yang menyebabkan pemerintah Sanaa menghadapi kesulitan dalam membayar gaji karyawannya.

Berdasarkan hal tersebut, Brigadir Jenderal Yahya Saree, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman mengeluarkan dua peringatan kepada agresor dan investor di Arab Saudi dan UEA.

Yahya Saree memperingatkan negara-negara agresor bahwa segera setelah berakhirnya periode gencatan senjata di Yaman dan jika bangsa Yaman tidak mencapai tuntutan yang sah, kami akan mendatangi Anda. Angkatan bersenjata kami sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi segala perkembangan apa pun dalam beberapa jam mendatang.

Selasa (04/10/2022) malam, Yahya Saree meminta perusahaan asing di Arab Saudi dan UEA untuk mengalihkan investasinya ke negara lain. Saree menekankan, Berinvestasi di UEA dan Arab Saudi akan sangat berisiko.

Menyusul kegagalan gencatan senjata, juru bicara angkatan bersenjata Yaman memperingatkan bahwa keamanan investasi di dua negara Arab Saudi dan UEA akan terancam.

Yahya Saree juga mengumumkan pada Minggu (2/10) malam, Karena negara-negara agresor tidak mematuhi gencatan senjata dan tidak mengizinkan negara Yaman untuk mengeksploitasi sumber daya minyak untuk membayar gaji karyawan, kami memberikan perusahaan minyak yang beroperasi di Arab Saudi dan UEA kesempatan untuk menyesuaikan rencana mereka dan meninggalkan dua negara ini.

Dia menambahkan, Jika Arab Saudi dan UEA bersikeras untuk merampas sumber daya dan pendapatan rakyat Yaman, angkatan bersenjata kita mampu merampas pendapatan rezim ini.

Strategi Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman untuk menghadapi era pasca-gencatan senjata itu cerdas. Pendapatan pemerintah Arab Saudi dan UEA bergantung pada sumber daya minyak.

Dalam dua tahun terakhir, militer Yaman berulang kali menargetkan fasilitas minyak UEA, terutama Arab Saudi, dengan serangan rudal dan drone, dan menyebabkan kerugian besar pada negara-negara ini.

Di sisi lain, Riyadh dan Abu Dhabi telah memberikan perhatian khusus untuk investasi asing, dan kedua negara menganggap mungkin untuk mewujudkan visi ekonomi mereka dengan menarik lebih banyak investasi asing.

Ledakan di fasilias Aramco

Menargetkan keamanan Arab Saudi dan UEA dapat memengaruhi daya tarik investasi baru dan kehadiran perusahaan asing di negara-negara ini.

Pada saat yang sama, penargetan fasilitas energi negara-negara ini juga mempengaruhi pasokan dan harga energi global.

Dalam hal ini, akan dimungkinkan untuk melakukan upaya global baru demi membangun gencatan senjata yang baru dan lebih konstruktif.(sl)

Tags