Jun 14, 2017 10:20 Asia/Jakarta
  • Krisis Qatar
    Krisis Qatar

Oleh: M. Ma’ruf, Direktur-Religious Democracy Institute.

Agaknya Pangeran bin Salman mengulang kepercayaan diri berlebihan. Tahun 2011 atau 2012 Saudi yakin Bashar Assad jatuh. Houthi di Yaman akan kalah dalam beberapa hari atau minggu. Tahunan berjalanan dan milyaran dolar di keluarkan, tapi fakta hingga sekarang keduanya masih kokoh. Orkesta ini diulang lagi- sasaranya adalah sahabat terdekat, Qatar. Dalam hitungan jam dan hari Arab Saudi yakin Qatar bisa memenuhi semua tuntutan geopolitik kebijakan Trump. Susah untuk tidak mengatakan- ini semua akibat jurus politik dagang ala Trump. Terjadi kesepakatan pembelian paket senjata AS oleh Arab Saudi senilai USD350 miliar atau lebih dari Rp4.666 triliun selama 10 tahun. Dimana total nilai kesepakatan itu, pemborongan senjata AS senilai hampir USD110 miliar atau lebih dari Rp1.333 triliun akan segera diberlakukan.

 

Kepercayaan diri langkah sepihak Arab Saudi yang berlebihan ini dengan pertimbangan,  wilayah darat Arab Saudi menjadi satu-satunya penghubung wilayah darat Qatar untuk mengangkut 40% kebutuhan makanan penduduk Qatar dari Arab Saudi. Faktanya, bukanya Qatar takluk memutus hubungan diplomatik dengan Iran, sialnya berton ton bahan makanan telah mengalir dari Iran menuju Qatar lebih cepat dari bantuan Turki untuk Qatar.

 

Ibarat tek, ada dua instrumen untuk menganalisa kasus ini; historisme (kronologi)-sebab akibat (Kebijakan Trump: KTT Arab, Islam, Amerika) dan (tek) apa yang terbaca di permukaan (pemutusan hubungan diplomatik dan tuduhan Qatar mendukung teroris). 

 

Panggung orkesta ini dikendalikan sang kampium demokrasi AS, polanya sama dengan kasus Afganistan, Libya, Suriah dan sekarang Qatar. Dengan cara mengkapitalkan isu terorisme (Hamas, Ikhwanul muslimin, Hizbullah dan anti Iran) sebagai ancaman keamanan  Arab Saudi dkk (Israel).

 

Ujung dari permainan berdarah ini ada dua, pertama keuntungan dolar sebanyak-banyaknya masuk ke APBN AS dan, kedua aliran APBN AS akan mengalir ke APBN Israel, sekaligus memperkuat posisi politik Israel di kawasan.

 

Untuk yang kedua, terutama menguatnya posisi politik Israel saya agak pesimis, karena Tuhan telah mentakdirkan wilayah udara dan laut Iran menjadi satu-satunya penghubung ke Qatar akibat jurus Trump yang membuat Arab dkk memutus hubungan darat, laut, udara dengan Qatar. Sedang faktor pertama sudah pasti terjadi dan menjadi pil penenang politik dalam negri AS.  Mari kita buktikan semua variabel (negara-negara) yang terbaca satu-satu.

 

Turki

Secara cepat Arab Saudi (Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir) menuntut secara paksa, Qatar memutus hubungan dengan Hamas, Ikhwanul Muslimin, dan Iran. Tuntutan ini direspon Turki dibawah Erdogan dengan parlemennya solid untuk mendukung Qatar. Antisipasi Turki, jika Emir Qatar di kudeta Arab Saudi, maka pesawat gajah Qatar Atways dalam sehari bisa memboyong 10.000 tentara Turki dan membawa bahan makanan. Tapi sayangya-Turki dan Qatar harus memperoleh ijin dari  Iran untuk menggunakan wilayah udaranya. Artinya syarat Ankara membantu Qatar terpaksa menggandeng Iran, meski ideologi mazhab berbeda-takdir geopolitik menjadi penentu. Momentum ini bisa memaksa para pengikut ideologi Ikhwanul Muslimin terpaksa berdialog dengan pengikut Syiah, dan mempertimbangkan untuk menghentikan kampanye Syiah sesat sambil membaca strategi geopolitik bersama-sama. Kasus Qatar ini juga bisa makin membuat Turki menurunkan ambisinya menyingkirkan pemerintahan Bashar Assad. 

 

Iran

Qatar tidak punya piihan lain selain memperkuat hubungan politik dan ekonomi dengan Iran. Artinya pasukan Qatar terpaksa tidak bisa melayani Arab Saudi lagi untuk membasmi Houthi. Di samping posisi aliansi Houthi dengan pasukan pemerintah Yaman dan rakyat Yaman yang memang solid. Setidaknya Qatar terpaksa menghentikan menginvasi Yaman (baca; Arab Saudi menuduh Qatar mendukung Houthi). Langkah Qatar ini juga akan membuat Turki terpaksa membantu rakyat Yaman. Paling tidak-setidaknya mengurangi agresifitas Arab Saudi memusuhi Qatar karena Houthi bisa menekan Arab Saudi dengan dukungan Qatar dan Turki. Artinya secara politik- proyek Israel membasmi Houthi dibawah komando Trump bisa melemah.

 

Kredit ini bagus untuk Iran. Karena Iran punya dua teman baru mendukung rakyat Yaman melawan agresi Arab Saudi. Disamping itu Iran juga terbantu menyelesaikan kasus Suriah. Iran sedikit bisa bernafas lega, himbauan Iran agar Qatar menghentikan dukungan finansial dan senjata ke pihak pemberontak yang memerangi Bashar terpaksa bisa dipenuhi oleh Qatar. Betapa tidak, 350 ton bahan makanan telah diangkut ke Qatar dengan lima pesawat kargo Iran Air. Bisa dibayangkan, salah satu pendukung pemberontak di Suriah takluk dengan sendirinya oleh bahan makanan. Disamping itu memang karena faktor di lapangan- nasib teroris baik di Suriah dan Irak sudah kalah secara militer.

 

Kredit yang lain bagi Iran adalah masa depan ekonomi. Qatar telah bersepakatan dengan Iran membangun ladang gas seluas 9.700 KM. Ladang terbesar wilayah selatan Persia masuk wilayah teritori perairan Iran.

 

Suriah

Kita bisa membaca, bahwa momentum kasus Qatar ini bagi pemerintah Suriah cukup menguntungkan, karena mempercepat penyempurnaan penumpasan teroris dukungan Qatar dan Turki. Otomatis dukungan finansial dan senjata Qatar kepada kelompok pemberontak yang melawan Bashar Assad melemah. Artinya permintaan Suriah, Iran, Rusia dan Hizbullah agar Qatar menghentingkan dukungan kelompok teroris di Suriah bisa dipenuhi Qatar. Efek ini juga akan berpengaruh pada Turki sebagai pemegang kartu truf di lapangan- karena mayoritas teroris masuk ke Suriah melalui perbatasan Turki. 

 

Dengan kata lain, kebijakan Arab Saudi memusuhi Qatar bisa menjadi pintu bertambahnya anggota aliansi Suriah. Formasi ke depannya bisa menjadi Iran, Rusia, Cina, Hizbullah, Qatar, Turki dan Ikhwanul Muslimin.

 

Eropa

Kemungkinan besar negara Eropa setidaknya Inggris dan Jerman akan mendukung  Qatar. Inggris akan mendukung Qatar karena banyak gedung dan institusi di Inggris pemiliknya Qatar, 90 % impor gas Inggris, 17% dari total konsumsi berasal dari Qatar. Qatar juga investor industri di German, pemilik saham terbesar dari minoritas Grup Volkswagen dari Qatar.

 

Rusia

Bagi Qatar, pusat pangkalan udara militer AS Aludeid di Qatar menjadi ganjalan, karena AS akan bermain di dua kaki, pertama sebagai inisiator yang mendorong Arab Saudi memutus hubungan dengan Qatar buah dari pertemuan aliansi Arab-Islam Amerika, dan secara otomatis memegang kepala Qatar. Kedua, ekor Qatar juga dipegang AS sehingga Qatar tidak mudah loncat ke kubu Rusia.

 

Meski demikian Qatar tidak punya pilihan. Emir Tamim bib Hamad Al-Thani pernah kontak dengan Putin, dan Rusia memberi angin segar sejauh untuk menyelesaikan krisis dengan jalan dialog di level politik dan diplomasi. Meski Qatar menawarkan uang awal untuk dukungan penuh militer Rusia tapi pihak Rusia belum memberi janji. Tapi hal ini akan dipertimbangkan Rusia, mengingat membantu Qatar bisa membantu menyelesaikan kasus Suriah.

 

AS

Posisi AS  dibawah Trump sebagai inisiator Arab Saudi memutus hubungan dengan Qatar yang pelaksanaannya tidak jauh dari KTT Arab-Islam-AS tidak perlu diragukan. Trump konsisten mengutamakan kepentingan AS dengan cara memeras kantong Arab Saudi demi kantong AS. Tentu saja kebijakan Trump ini seiring dengan program bantuan untuk Israel untuk memotong Hamas, Ikhwanul Muslimin dan Iran.

 

Kredit poin kebijakan Trump adalah - dalam hitungan hari industri militer AS panen besar, melebihi panen keuntungan jual senjata dibawah Obama.

 

Trump telah berhasil menjaga nama baik AS sebagai imperium dunia, investasi pangkalan Udara AS di Qatar lengkap dengan peralatan militernya tidak merugi. Biaya ongkos makan 10.000 tentara AS di Qatar, mentenance peralatan militer dibiayai oleh Arab Saudi secara suka rela. Jikapun perang meletus antara Arab Saudi dan Qatar, Trump akan mendapatkan dua pasar sekaligus baik gas, minyak dan jual senjata. Ditambah jika pasukan Turki dikirim ke Qatar, maka Trump bisa memperbesar perang Kurdi vs Turki di wilayah Turki, sambil memanen ladang minyak yang dikuasai Kurdi di Suriah. Sempurna bukan?

 

Qatar vs Arab Saudi, Siapa Untung?

Dunia tahu Qatar adalah negara kecil. Jumlah penduduk asli 200.000, dan 2.000.000 expatriat. Memiliki gas alam yang melimpah dengan gedung-gedung super modern. Sebuah negara yang lebih liberal daripada Arab Saudi.  Negara kosmopolitan, pemeluk selain Islam dapat membangun tempat ibadahnya. Terdapat slentingan bahwa gas alam Qatar yang melimpah ini bisa jadi daya tarik Arab Saudi untuk melakukan kudeta di Qatar, karena Arab Saudi kekurangan uang, harga minyak terlalu rendah utuk memenuhi kebutuhan 26 juta penduduknya dan memenuhi standar hidup keluarga kerajaan. Ditambah ladang hidrokarbon di pulau Qatar menarik bagi Uni Emirat Arab. Harapan pendek Arab Saudi dan koleganya tentu saja agar pemutusan darat, laut, udara dengan Qatar dapat segera berbuah kapitalisasi. Benarkan? Atau alasan Hamas, Ikhwanul Muslimin dan anti Iran semata untuk memperkuat kepentingan eksistensi Israel via Trump sebagai pihak makelar.

 

Menekankan paragraf pertama, menurut penulis, hanya ada dua keuntungan dari kasus Qatar. AS makin untung karena memenuhi permintaan senjata Arab Saudi melawan Yaman sekaligus Qatar. Ke depan Qatar terkunci menjadi pasar potensial industri militer AS dan gas karena pangkalan udara AS di Qatar. Jika Turki ikut perang membantu Qatar, maka AS makin punya justifikasi memperbanyak stok kebutuhan militer Kurdi di Suriah. Hasilnya adalah panen ladang minyak yang dikuasai Kurdi untuk AS. Makin luas medan pertempuran militer di area konflik, makin banyak pundi-pundi AS.

 

Namun dari sisi Israel, meski pelan, eksistensinya makin melemah karena propaganda anti Iran yang dikomandoi Trump berbalik arah, ke depan makin memperkuat Hamas di Gaza, karena Qatar dan Turki dipaksa serius membantu Hamas dan memperkuat Ikhwanul Muslimin, setidaknya dukungan Qatar dan Turki kemungkinan untuk bermain di dua kaki, ikut AS dan setengah hati mendukung Hamas menjadi mengecil. Logikanya makin dekat dengan Iran, makin kuat aliansi memperkuat Hamas, dan makin lemah posisi politik Israel. Makin kuat aliansi dengan AS, makin lemah dukungan terhadap Palestina.

 

Ditambah lagi akibat takdir geografi (wilayah laut dan udara), membuat Iran satu-satunya yang bisa membantu kesulitan Qatar dan Turki akibat kebijakan Trump mendorong Arab Saudi berperang melawan Qatar. 

 

Adapun faktor ketakutan pergantian dinasti monarki Arab Saudi menuju reformasi, karena Qatar mendukung Arab Spring melalui channel Al-Jazeera masih dipertanyakan. Buktinya hingga sekarang Chanel Aljazeera belum terbukti mendukung tuntutan reformasi rakyat Syiah di Bahrain,  Arab Saudi dan Yaman. Sedangkan dukung Al-Jazeera terhadap kelompok pemberontak di Suriah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kecuali memang jika ada bukti meyakinkan Al-Jazeera mendukung Ikhwanul Muslimin untuk meruntuhkan dinasti al Saud.  Baik Arab Saudi dan Qatar sejauh ini masih dalam radar kontrol kelompok AS-Israel. Hingga terjadi perang aliansi Israel melawan aliansi Hisbullah, Hamas dan Ihwanul Muslimin, akan terjadi perubahan yang signifikan.  Perang itu akan terjadi jika Qatar dan Turki berani membantu senjata bagi pejuang Palestina, tidak sekedar membantu pembangunan gedung yang hancur dan memberi bantuan makan setelah perang Hizbullah dan Israel tahun 2006, atau perang Hamas dengan Israel di Gaza november 2012.

 

Catatan untuk kasus Qatar. Saya tidak mengatakan kasus Qatar adalah buah dari Arab Saudi, Qatar dan Turki mendukung pemberontak di Suriah dan Irak, atau konsekuensi dari kebijakan yang labil menjeratkan diri dalam kubangan awan gelap jeratan tradisi primitif imperialis. Persoalanya adalah Turki, Qatar dan Arab Saudi dari awal optimis dengan membangun aliansi dengan AS akan mendapat kekuasaan di Suriah dengan mulus, tetapi buktinya malah darah rakyat Suriah yang tertumpah makin membuat dinasti monarki makin terancam dan kredebilitas Ikhwanul Muslimin anjlok di mata kaum Muslimin.

 

Artinya boleh sedikit optimis, independensi, kedaulatan ekonomi dan politik serta memiliki ideologi yang kuat (rasionalitas) mampu memilah mana kawan sejati dan mana musuh sejati. Hal itu selalu diremehkan (Turki, Qatar dan Arab Saudi), meski ratusan bahkan ribuan kali diingatkan banyak pihak. Patut direnungkan, bukankah kasus Qatar dan Suriah adalah rembetan keniscayaan hukum sebab akibat?

Tags