Sep 18, 2019 18:47 Asia/Jakarta
  • Pemilu parlemen rezim Zionis Israel.
    Pemilu parlemen rezim Zionis Israel.

Rezim Zionis Israel menggelar pemilu parlemen pada Selasa (17/9/2019) untuk kedua kalinya dalam enam bulan, dan pemilu kali ini sangat menentukan bagi karir politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Rezim Zionis sedang bergulat dengan instabilitas politik dan situasi ini sangat terasa dalam satu tahun terakhir.

Kabinet Netanyahu terpaksa bubar setelah Ketua Partai Yisrael Beitenu, Avigdor Lieberman menarik diri dari pemerintahan pada akhir tahun lalu.

Dengan demikian, Netanyahu harus menerima pelaksanaan pemilu dini Knesset, tetapi hasilnya tidak berakhir pada pembentukan kabinet baru Israel. Partai Likud meraih suara mayoritas tipis dalam pemilu dan Netanyahu gagal meyakinkan partai-partai lain untuk bergabung dalam kabinet baru Israel.

Para anggota Knesset kembali membubarkan diri dan pemilu kembali digelar pada 17 September kemarin.

Benny Gantz (kiri) bersaing ketat dengan Benjamin Netanyahu (kanan) dalam pemilu kali ini.

Dalam pemilu kali ini, Netanyahu ingin menunjukkan kesuksesannya di ranah kebijakan luar negeri. Oleh karena itu, ia melancarkan perang singkat ke Gaza, menyerang kelompok al-Hashd al-Shaabi Irak, Suriah, dan Hizbullah Lebanon. Namun, para analis percaya taktik itu justru menjadi bumerang bagi Netanyahu. Di dalam negeri, ia sedang menghadapi empat dakwaan korupsi.

Analis masalah Asia Barat asal Iran, Mohammad Ali Mohtadi mengatakan, Netanyahu menyerang kelompok perlawanan dalam beberapa bulan terakhir demi memperkuat posisinya di Israel, tetapi justru menjadi bumerang, karena kritik terhadap aksi perangnya di dalam negeri meningkat dan balasan poros perlawanan khususnya Hizbullah Lebanon juga telah menyingkap kerentanan Israel.

Kemenangan dalam pemilu 17 September sangat penting tidak hanya bagi karir politik Netanyahu, tetapi juga bagi kehidupannya di luar politik. Ia dan istrinya terjerat skandal korupsi. Netanyahu sudah berulang kali meminta agar putusan terkait kasus korupsinya ditunda sampai setelah pemilu.

Jika Netanyahu kalah dalam pemilu kali ini, maka skandal korupsi yang menyeret namanya akan menciptakan masalah besar baginya. Mantan Perdana Menteri rezim Zionis, Ehud Olmert juga tersangkut kasus korupsi dan kasus ini menyeretnya ke penjara di akhir masa jabatannya.

"Jika Netanyahu tidak memenangi pemilu, maka skandal korupsi yang menyeret dia dan istrinya akan dibuka, dan mungkin saja Netanyahu akan menyusul Olmert ke penjara," ujar Ali Mohtadi.

Nasib Netanyahu akan diputuskan dalam beberapa hari ke depan, apakah ia akan menyusul Olmert atau mampu menghalangi proses peradilan dengan kemenangannya dalam pemilu. (RM)

Tags

Komentar