Sep 22, 2019 00:52 Asia/Jakarta
  • Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah
    Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah

Sekjen Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah), Sayid Hasan Nasrullah Jumat (20/09) sore mereaksi pemilu parlemen Israel dan serangan ke instalasi Aramco Arab Saudi.

Sayid Hasan Nasrullah Jumat sore menyampaikan pidato bertepatan dengan meninggalnya Sheikh Hussein Kourani, salah satu pendiri Dewan Pemimpin Hizbullah. Salah satu dimensi penting pidato tersebut adalah transformasi terkini di kawasan Asia Barat termasuk pemilu parlemen Israel dan serangan drone Yaman ke instalasi minyak Aramco.

Aramco

Terkait pimpi parlemen Israel di pidato Sayid Hasan Nasrullah terdapat dua poin penting.

Pertama: Perilaku pemilu Netanyahu khususnya perilaku haus perangnya terhadap kubu muqawama memiliki hasil sebaliknya dan menjadi salah satu faktor kekalahannya di pemilu parlemen. Kekalahan ini dapat juga disebut sebagai kekalahan pemerintah Amerika, karena Washington pendukung Netanyahu di pemilu ini. Sayid Hasan Nasrullah terkait hal ini mengatakan, Benjamin Netanyahu melakukan apapun untuk menang, mulai dari serangan udara ke Irak hingga upaya untuk mengobarkan perang di Lebanon. Namun ia tatap kalah meski mendapat dukungan Amerika.

Poin kedua: tidak ada bedanya bagi Hizbullah Lebanon siapa dan koalisi mana yang menang di pemilu Israel serta siapa yang bakal berkuasa di bumi pendudukan, karena permusuhan mereka terhadap muqawama tidak terbatas pada pribadi, tapi sebuah permusuhan sistematis. Sayid Hasan Nasrullah terkait hal ini mengatakan, "Hasil pemilu ini tidak penting bagi Hizbullah, karena kebijakan pemimpin partai dan koalisi politik seluruhnya anti Palestina dan anti Arab."

Serangan ke instalasi minyak Aramco merupakan bagian penting lain dari pidato Sayid Hasan Nasrullah dan memiliki sejumlah poin penting.

Pertama: masyarakat internasional ramai-ramai merespon serangan ke instalasi minyak Aramco, tapi mereka bungkam terhadap pembantaian puluhan ribu warga Yaman akibat perang yang dikobarkan Arab Saudi terhadap negara ini. Oleh karena itu, Sayid Hasan Nasrulalh seraya menekankan bahwa kecaman terhadap serangan ini menunjukkan bahwa minyak lebih utama dari darah mengatakan, "Di serangan terbaru terhadap instalasi minyak Arab Saudi tidak ada yang terbunuh, dan instalasi ini dari besi yang menjadi target tapi yang muncul adalah kiamat. Tapi empat tahun di mana setiap hari koalisi Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Amerika menjatuhkan bom terhadap rakyat Yaman dan membantai perempuan dan anak-anak."

Poin kedua: Amerika tidak mengkhawatirkan keamanan Arab Saudi tapi berusaha meraih pendapatan lebih besar dari instabilitas di Saudi serta pelung baru untuk memerah Al Saud.

Netanyahu

Poin ketiga: di pidato Sayid Hasan Nasrullah hari Jumat ditekankan bahwa biaya paling murah bagi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menciptakan keamanan dirinya adalah mengakhiri perang Yaman, bukannya mengandalkan pemerintahan Trump di AS. Terkait hal ini sekjen Hizbullah mengatakan, "Kalian mengandalkan pemerintahan yang gagal. Negara ini gagal memaksa Venezuela, Korea Utara, Cina, Suriah, Irak, Palestina dan Iran bertekuk lutut."

Poin keempat: pidato Sayid Hasan Nasrullah sebuah rekomendasi bagi Riyadh dan Abu Dhabi. Pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berusaha memprovokasi AS untuk menggelar perang terhadap Iran. Rekomendasi Sayid Hasan Nasrullah adalah dengan mengambil pelajaran dari perang di Yaman, mereka harus meninjau ulang perhitungannya untuk mengobarkan perang terhadap Iran. Peringatan Sayid Hasan Nasrullah adalah perang terhadap Iran bukan perjudian yang bagus dan perang ini akan memusnahkan mereka.

Nasser Al-Duwailah, politikus Kuwait dan mantan anggota parlemen negara ini hari Selasa pekan lalu ketika memperingatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab atas dampak pengobaran perang terhadap Iran mengatakan, "Kembali saya tekankan bahwa perang dengan musuh yang kuat sebuah aksi bunuh diri. Carilah jalan lain. Jangan percaya perkataan Trump. Jika perang meletus, tidak akan tersisa dari minyak Arab dan kita akan kembali ke zaman paling buruk." (MF)

 

Tags

Komentar