Sep 26, 2019 19:32 Asia/Jakarta
  • Aksi demonstrasi di Mesir
    Aksi demonstrasi di Mesir

Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuannya dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di New York dan menyebutnya sebagai "pemimpin besar", protes anti-pemerintah berlanjut di berbagai provinsi meskipun terjadi kekerasan pasukan keamanan terhadap pengunjuk rasa.

Demonstrasi baru telah dimulai di Mesir atas ajakan mantan aktor dan kontraktor militer Mesir Mohamed Ali, yang sekarang tinggal di Spanyol.

Mohammed Ali, ketika mengungkap korupsi "Abdel Fattah al-Sisi" dan keluarganya berhasil membuat marah rakyat Mesir dan menyerukan demonstrasi melawan pemerintah Mesir. Demonstrasi dimulai pada tanggal 20 September.

Meskipun al-Sisi sekarang tengah menghadiri sidang ke-74 Majelis Umum PBB di New York, tapi protes dimulai sebelum kepergiannya. Pasukan keamanan Mesir, seperti Agustus 2013, yang sangat menekan demonstrasi yang dilakukan pendukung Ikhwanul Muslimin dan menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka, sekarang juga menempatkan tindakan keras terhadap demonstrasi rakyat.

Abdel Fattah al-Sisi dan Donald Trump

Militer dan lembaga-lembaga keamanan Mesir telah menangkap lebih dari 1.000 orang dan menewaskan enam anggota Ikhwanul Muslimin dalam bentrokan di barat daya kota Kairo pada 6 Oktober.

Kementerian Dalam Negeri Mesir mengklaim bahwa orang-orang itu bermaksud melakukan beberapa operasi teroris. Klaim yang berasal dari keputusan tahun 2013 pemerintah Kairo yang menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Hal penting tentang demonstrasi anti-pemerintah di Mesir adalah bahwa Abdel Fattah al-Sisi telah berusaha untuk mencegah demonstrasi anti-pemerintah di negara itu selama enam tahun terakhir, tetapi demonstrasi saat ini menunjukkan bahwa orang Mesir tidak lagi takut terhadap represi pemerintah.

Tawfik Tosun di surat kabar al-Akhbar Lebanon menulis, "Demonstrasi di kota-kota Kairo, Mansoura dan Alexandria berhasil meruntuhkan tembok ketakutan dan kepanikan, yang dibangun oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dengan penumpasan kekerasan dan represif." Faktanya, demonstrasi ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan pemerintah al-Sisi di Mesir telah gagal membangun basis rakyat untuk dirinya sendiri.

Poin penting lainnya adalah bahwa, seperti revolusi 2011 melawan rezim Hosni Mubarak, dalam demonstrasi saat ini media sosial juga memainkan peran yang menentukan dalam solidaritas demonstran melawan pemerintah.

Hashtag Bundaran al-Tahrir menjadi trending dan menduduki peringkat pertama di media sosial dan hashtag "Al-Sisi Mengundurkan diri dari Kekuasaan" telah menempati peringkat kedua di Mesir.

Demonstrasi saat ini tengah menyebar luas di Mesir, dimana para pemimpin kubu oposisi pemerintah al-Sisi yang terkenal yang kebanyakan berasal dari Ikhwanul Muslimin berada di penjara. Ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan besar antara pemerintah al-Sisi dan warga Mesir, sehingga seorang Mesir dapat membentuk aksi demonstrasi anti-pemerintah dari negara lain melalui rilis film. Tentu saja, ini menunjukkan bahwa rakyat Mesir sangat peka terhadap korupsi pejabat pemerintah.

Poin terakhir adalah bahwa Zionis Israel dan AS telah mendukung Abdel Fattah al-Sisi, tanpa memperhatikan demonstrasi anti-pemerintah di Mesir.

Donald Trump dan Abdel Fattah al-Sisi

Dalam nada yang sama, Donald Trump mengatakan dalam pertemuan dengan Abdel Fattah al-Sisi di New York Senin lalu, "Saya tidak khawatir tentang demonstrasi di Mesir. Negara ini memiliki pemimpin yang hebat."

Bulan lalu, Trump, di sela-sela KTT G7 di Biarritz, Perancis, sambil menunggu pertemuan dengan presiden Mesir, bertanya, "Di mana diktator tercinta saya?"

Tags

Komentar