Oct 01, 2019 10:49 Asia/Jakarta
  • Amnesty Internasional
    Amnesty Internasional

Bertentangan dengan klaim Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi tentang stabilitas, keamanan dan kebebasan di negara itu, pemerintahnya telah menangkap ribuan oposisi dan menumpas protes dengan kekerasan, sehingga Amnesty International dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad, 29 September mengecam represi dan penahanan para demonstran di Mesir. Amnesy Internasional menyatakan, "Negara ini telah menjadi penjara besar bagi para pemrotes."

"Pemerintah Mesir harus menghormati hak atas kebebasan berekspresi dan berkumpul serta menghentikan" tindakan represif "terhadap para pengunjuk rasa," tegas Amnesty Internasional.

Represi keamanan Mesir terhadap para demonstran

Puluhan ribu pasukan keamanan dikerahkan di banyak wilayah Mesir untuk menghadapi para pengunjuk rasa, penangkapan yang meluas terhadap para penulis yang mengritik al-Sisi, hukuman mati terhadap para pembangkang, menerapkan pembatasan keamanan di banyak daerah dan menindak dengan kekerasan merupakan kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah Mesir untuk menumpas unjuk rasa. Tindakan represif ini justru membatalkan klaim al-Sisi akan adanya kebebasan politik dan sosial di negara ini.

Oleh karena itu, dalam beberapa bulan terakhir, banyak organisasi internasional dan hak asasi manusia telah memperingatkan akan kinerja al-Sisi di bidang kebebasan sosial dan politik serta pelanggaran hak asasi manusia di Mesir. Menurut statistik yang dipublikasikan, lebih dari 15.000 pemrotes pemerintah al-Sisi telah ditahan atas berbagai tuduhan.

Represi semakin meningkat karena protes di Mesir semakin intensif dalam beberapa hari terakhir. Mesir telah menjadi tempat demonstrasi yang tersebar luas dan menasional sejak sekitar 10 hari yang lalu. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dari kekuasaan.

Demonstrasi telah dimulai di Mesir dalam beberapa hari terakhir untuk memprotes kebijakan represif pasukan keamanan dan pemerintah, serta atas seruan mantan aktor dan kontraktor militer Mohammed Ali, yang sekarang tinggal di Spanyol. Mohammed Ali mengajak rakyat melakukan demonstrasi menentang pemerintah Mesir dengan mengungkap korupsi yang meluas dari Abdel Fattah al-Sisi dan keluarganya. Ribuan orang telah ditahan dalam protes yang dimulai sejak 20 September.

Hassan Nafaa, dosen ilmu politik Universitas Kairo dan penulis Mesir yang baru-baru ini ditahan karena mengkritik sistem Abdel Fattah al-Sisi, menulis dalam akun Twitter-nya, "Kelanjutan pemerintahan otokrasi al-Sisi mendorong negara menuju malapetaka. Maslahat Mesir menuntut dia mundur dari kekuasaan hari ini, bukan besok, tetapi dia hanya akan turun di bawah tekanan rakyat di jalan-jalan."

Sementara seruan untuk protes di Mesir terus berlanjut di media sosial, pejabat keamanan menekankan telah meningkatkan langkah-langkah keamanan untuk melawan apa yang mereka anggap tindakan kekerasan terhadap stabilitas Mesir. Kementerian Dalam Negeri Mesir dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa mereka bermaksud untuk melawan langkah-langkah ini. Lembaga-lembaga keamanan Mesir juga telah meluncurkan pencarian ekstensif dan penangkapan aktivis politik di beberapa provinsi.

Gaya pemerintahan otoriter dan kurangnya praktik demokrasi, dominasi militer atas ekonomi, penindasan oposisi dan korupsi yang terus tumbuh adalah tantangan serius saat ini di Mesir. Semua tantangan yang dihadapi itu harus ditambahkan lagi dengan situasi ekonomi yang rapuh dan ketidakstabilan sosial.

Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Mesir

Meskipun al-Sisi telah berkuasa sejak kudeta tahun 2013, ia telah menekan oposisi dan mempertahankan kekuasaan dengan tangan besi, tetapi warga Mesir tampaknya sekali lagi ingin mendorong perubahan demi meraih cita-cita gerakan rakyat tahun 2011, termasuk kebebasan politik dan sipil, perang melawan korupsi dan ketidakadilan serta pembentukan demokrasi di negara ini.

Tags

Komentar