Oct 23, 2019 14:12 Asia/Jakarta
  • Netanyahu dan Gantz
    Netanyahu dan Gantz

Benjamin Netanyahu gagal membentuk kabinet baru untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir, dan Presiden rezim Zionis menugaskan Benny Gantz membentuk kabinet baru.

Pada 9 Oktober 2018, Netanyahu terpaksa menerima gencatan senjata setelah empat hari mengobarkan perang di Jalur Gaza, yang memicu protes dari sejumlah anggota kabinet sayap kanan, terutama Avigdor Lieberman. Masalah ini  berujung digelarnya pemilu dini pada 9 April 2019.

Netanyahu dan partai Likud memenangkan pemilu dengan 36 kursi, yang hanya selisih satu kursi dari rivalnya. Presiden rezim Zionis sekali lagi menunjuk Netanyahu untuk membentuk kabinet, tetapi ia gagal membentuknya setelah diberi kesempatan selama 28 hari, dan kemudian diperpanjang hingga 14 hari.

Sekutunya menyuarakan pembubaran parlemen hingga mengadakan pemilihan kedua pada 9 September lalu, dan Netanyahu masih memiliki kesempatan untuk tetap berkuasa. Selama kurun waktu kurang dari enam bulan setelah pemilu kedua, komisi pemilu mengumumkan kemenangan Koalisi Biru-Putih yang dipimpin Benny Gantz  dengan meraih 33 kursi, sedangkan rivalnya, partai Likud hanya mendapatkan 32 kursi yang mengakibatkan kekalahan Netanyahu. 

Benyamin Netanyahu

 

Netanyahu membutuhkan dukungan 61 anggota parlemen untuk membentuk kabinet yang dilakukan dengan dua cara. Pertama, berupaya meyakinkan Benny Gantz untuk membentuk kabinet persatuan, tetapi Gantz secara eksplisit menyatakan tidak akan membentuk kabinet dengan siapa pun yang dituduh melakukan korupsi.

Kedua, Netanyahu harus meyakinkan Lieberman untuk membentuk kabinet koalisi, tetapi Lieberman, yang bertanggung jawab atas keruntuhan kabinet pada bulan Oktober lalu kembali menolak untuk masuk dalam kabinet yang diketuai oleh Netanyahu. 

Dengan kekalahan Netanyahu, Presiden rezim Zionis Reuven Rivlin menugaskan Jenderal Benny Gantz untuk membentuk kabinet baru dalam 28 hari, yang tidak akan diperpanjang. Bloomberg melaporkan, Benny Gantz juga menghadapi jalan yang sulit di depan sebagaimana Netanyahu karena hasil pemilihan tidak pasti dan menempatkan Israel dalam kondisi lumpuh politik.

Gantz sekarang harus meraih dukungan dari 61 anggota parlemen dengan menarik dukungan dari Lieberman dan partainya yang meraih 8 kursi di parlemen, atau mendapatkan dukungan Netanyahu untuk membentuk kabinet persatuan. Masalahnya, dia sudah mengumumkan tidak akan bersekutu dengan kelompok sayap kiri dan  Netanyahu sendiri berharap Benny Gantz  akan gagal membentuk kabinet barunya.

Kini, Netanyahu menunggu digelarnya pemilu babak ketiga  untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam jangka waktu singkat, penyelenggaraan pemilu menjadi kemenangan bagi Netanyahu. Sebab, ia akan menjadi perdana menteri selama enam bulan ke depan meskipun, tidak ada dukungan dari Knesset. Lebih dari itu, kasus korupsi yang melilitnya akan dibekukan untuk sementara.

Lalu, apakah dalam 28 hari kedepan kabinet baru rezim Zionis akan dibentuk atau tidak? Akankah Netanyahu mengakhiri karir politiknya, ataukah dia diselamatkan sementara dengan menggelar pemilu parlemen ketiga? Lebih dari itu, faktanya rezim Zionis menghadapi goncangan politik yang disebut Bloomberg sebagai kelumpuhan politik Israel.(PH)

Tags

Komentar