Des 07, 2019 12:43 Asia/Jakarta
  • Kelompok teroris Daesh
    Kelompok teroris Daesh

Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai potensi ancaman kebangkitan kembali kelompok teroris Daesh di Irak setelah berhasil ditumpas sebagian besar, dan perkembangan aksi unjuk rasa di negara Arab ini.

Isu lainnya tentang seruan OKI supaya publik internasional mengambil aksi tegas untuk menghentikan pembangunan disktrik Zionis di wilayah Palestina pendudukan. Selain itu, isu mengenai undangan Raja Arab Saudi kepada Emir Qatar untuk menghadiri KTT Dewan Kerja Sama Teluk Persia, Yordania berencana menghentikan impor gas dari Israel, pernyataan pejabat Hamas bahwa Suriah pendukung besar perjuangan Palestina, dan statemen presiden Lebanon mengenai prioritas pemerintahan mendatang di negaranya.

 

Nechirvan Barzani

Daesh Berpotensi Bangkit di Irak

Pemimpin Kurdistan Irak, Nechirvan Barzani pada hari Kamis (5/12/2019) mengeluarkan peringatan tentang potensi bangkitnya kembali Daesh di negara itu. Sebelum ini, pasukan relawan rakyat Hashd al-Shaabi juga mengeluarkan peringatan senada di tengah kondisi keamanan yang tidak stabil di negara Arab ini

Nechirvan Barzani dalam sebuah statemen mengatakan rentetan serangan teroris yang terjadi di daerah Kirkuk dan Garmian dalam beberapa bulan terakhir, membuktikan bahwa Daesh belum berakhir.

Tentara Irak dan pasukan Hashd al-Shaabi telah berperang menumpas teroris Daesh sejak tahun 2014 dan membebaskan seluruh wilayah Irak dari pendudukan mereka. Daesh berhasil dihancurkan dan integritas teritorial Irak tetap terjaga.

Namun, tindakan sisa-sisa Daesh di Irak dalam beberapa hari terakhir telah memicu kekhawatiran pemerintah, tetapi ada juga faktor lain yang membuat para pejabat Irak khawatir yaitu peran pemain asing.

Kepentingan beberapa aktor asing, terutama poros Amerika, rezim Zionis, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, akan tercapai selama ketegangan dan kekerasan di Irak terus membara. Mereka akan memanfaatkan teroris Daesh untuk mencapai tujuannya di Irak.

Beberapa media baru-baru ini mengabarkan bahwa militer AS sedang melatih generasi baru teroris Takfiri di kamp al-Hawl, tempat penampungan keluarga teroris Daesh. Kantor berita resmi Suriah (SANA) dalam laporannya menyatakan pasukan AS telah memindahkan lebih dari 600 wanita dan anak-anak anggota keluarga Daesh dari kamp al-Hawl ke wilayah Irak.

Kekacauan dan krisis saat ini di Irak merupakan faktor lain yang menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kebangkitan kembali Daesh. Sebab, kelompok teroris akan terbentuk dan berkembang di negara-negara yang tidak memiliki pemerintahan yang kuat.

Bahkan jika Daesh tidak tampil kembali secara terorganisir di Irak, namun tetap saja ada potensi meningkatnya serangan teror dan aksi peledakan bom di berbagai wilayah negara tersebut.

 

Kerusuhan di Irak

Kemendagri Irak: 4 Demonstran Tewas Ditembak Orang tak Dikenal

Belanjutnya aksi protes rakyat di Iran terus menelan korban. Kementerian Dalam Negeri Irak mengumumkan, korban tewas akibat penembakan yang dilakukan kelompok bersenjata tak dikenal hari Jumat (6/12/2019) di Baghdad, berjumlah empat orang.

Kemendagri Irak, Jumat (6/12) malam mengatakan, penembakan yang dilakukan kelompok bersenjata tak dikenal terhadap para demonstrasn di Baghdad, menewaskan 4 orang dan melukai 80 lainnya.

Dalam aksi penembakan itu kamerawan pasukan relawan rakyat Irak, Hashd Al Shaabi, Ahmed Al Mahani juga tewas.

Sebelumnya sejumlah media Barat mengabarkan korban tewas dalam insiden penembakan di Baghdad mencapai 17 orang.

Sementara itu, Komandan Operasi Baghdad menegaskan dukungan terhadap para demonstran dan mengatakan bahwa para demonstran harus bekerjasama dengan militer untuk mencegah masuknya para penyusup bersenjata ke tengah mereka.

Sementara itu, Warga Irak di kota Baghdad menggelar unjuk rasa luas dengan slogan "usir para perusak" sebagai bentuk kepatuhan pada arahan Marja Taklid Muslim Syiah Irak, Ayatullah Ali Sistani.

Stasiun televisi Alalam (5/12/2019) mengutip situs berita Baghdad Post melaporkan, para pengunjuk rasa bergerak dari jalan Palestina ke arah bundaran Al Tahrir di kota Baghdad, sambil meneriakkan yel-yel usir para perusak dari barisan para demonstran.

Demonstrasi ini juga digelar untuk mendukung Ayatullah Sistani yang meminta rakyat Irak mengawasi penyusup, dan mengeluarkan mereka dari barisan demonstran.

Pemerintah Irak minggu lalu mengumumkan, sejumlah perusuh berkedok memasuki Provinsi Najaf dan Karbala, mereka menciptakan kekacauan dan menyerang sejumlah kantor pemerintah, tempat suci dan misi diplomatik termasuk Konsulat Iran di Najaf.

 

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)

OKI: Masyarakat Dunia Harus Akhiri Pembangunan Distrik Zionis

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menuntut respon tegas masyarakat dunia mengenai berlanjutnya pembangunan distrik Zionis di bumi Palestina pendudukan.

Pasca pengumuman keputusan Israel untuk membangun distrik baru di al-Khalil (Hebron) tengah, di selatan Tepi Barat Sungai Jordan, OKI Selasa (03/12) merilis statemen mengutuk pembangunan distik Zionis tersebut.

OKI menyebut berlanjutnya pembangunan distrik Zionis melanggar hukum internasional dan resolusi PBB terkait diakhirinya proyek distrik Zionis di bumi pendudukan.

Menteri Peperangan Israel Naftali Bennett Ahad (01/12) mengkonfirmasi dimulainya proyek pertama bagi pembangunan sebuah distrik baru di tengah kota al-Khalil di Tepi Barat.

Dengan dibangunnya unit-unit baru di kota al-Khalil, jumlah pemukim Zionis akan meningkat dua kali lipat dan akan terbuka satu jalur khusus bagi Yahudi untuk mengakses "Haram Ibrahim".

Berlanjutnya pembangunan distrik Zionis di berbagai wilayah Palestina terjadi ketika Menlu Amerika Mike Pompeo baru-baru ini mengumumkan bahwa Washington tidak menganggap pembangunan distrik Zionis di Tepi Barat melanggar hukum internasional.

Padahal, Dewan Keamanan PBB pada 23 Desember 2016 telah meratifikasi resolusi 2234 meminta Israel segera menghentikan secara total semua aktivitas pembangunan distrik Zionis di bumi Palestina pendudukan.

 

KTT P-GCC

Saudi Undang Emir Qatar Hadiri KTT P-GCC

Arab Saudi dilaporkan mengundang Qatar untuk berpartisipasi di KTT Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) pekan depan.

Kantor Berita Qatar melaporkan, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz mengundang Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani untuk menghadiri KTT P-GCC yang dijadwalkan akan digelar 10 Desember mendatang di Riyadh.

Menurut Deputi menlu Kuwait, Khaled al-Jarallah, ada indikasi positif terkait berakhirnya friksi antara anggota P-GCC dan Qatar.

Qatar tahun lalu menurunkan partisipasinya di KTT P-GCC di Arab Saudi ke level penasihat menteri luar negeri.

Arab Saudi dan sekutunya (Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain) pada Juni 2017 memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar. Selain menjatuhkan sanksi kepada Qatar, Saudi Cs juga memblokade perbatasan darat, udara dan lautnya dengan Qatar.

 

Raja Yordania, Abdullah II

 

Yordania Berencana Hentikan Impor Gas dari Israel

Pemerintah Yordania Rabu (04/12) dilaporkan berunding dengan perusahaan investor proyek pasokan gas dari Israel ke negaranya.

Raja Yordania, Abdullah II baru-baru ini kepada sejumlah anggota DPR negaranya menyatakan, pemerintah Amman tengah membahas mekanisme legal untuk membatalkan kontrak pembelian gas dari Israel.

Perusahaan listrik nasional Yordania tahun 2006 menandatangani kontrak pasokan gas dari ladang gas Leviathan di Laut Mediterania dengan perusahaan AS, Noble Energy. Menurut kontrak ini, Yordania mengimpor 45 miliar kubik gas alam selama 15 tahun dari rezim Zionis.

Rakyat Yordania sejak awal menentang kontrak ini dan sejumlah elit politik negara ini di parlemen juga memprotes kebijakan tersebut.

 

Hamas

Hamas: Suriah Pendukung Besar Perjuangan Palestina

Deputi Kepala Biro Politik Hamas menyebut Suriah sebagai pendukung besar kelompok perlawanan Palestina, dan ia mengabarkan upaya Hamas untuk menghidupkan kembali hubungan dengan negara itu.

Khalil Al Hayya dalam wawancara dengan surat kabar Al Akhbar menilai hubungan poros perlawanan mulai dari Iran hingga Lebanon, sangat bagus dan menuturkan, beberapa fase hubungan ini mengalami ketegangan dikarenakan perbedaan pandangan, namun tidak pernah terputus.

Deputi Kepala Biro Politik Hamas juga menyinggung hubungan kelompoknya di bidang militer. Menurutnya, hubungan militer terus berlanjut bahkan pada puncak krisis sekalipun.

Al Hayya menegaskan, akan tetapi karena situasi di Suriah sebagaimana yang kalian ketahui, Hamas keluar dari negara itu. Saya berharap saudara-saudara kami di Suriah kembali ke pangkuan negara mereka sehingga bisa memainkan peran asli dalam melayani umat dan mendukung cita-cita Palestina.

 

Presiden Lebanon, Michel Aoun

Presiden Lebanon Sampaikan Prioritas Pemerintahan Mendatang

Presiden Lebanon, Michel Aoun menyebut reformasi di berbagai sektor, penyelesaian krisis ekonomi dan sosial dan pemberantasan korupsi sebagai tugas terpenting perdana menteri dan anggota kabinet baru.

"Perhatian terhadap persatuan nasional dan mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah mendatang sebagai prioritas," ujar Aoun Kamis (05/12) saat bertemu dengan sekretaris dan anggota asosiasi wartawan Lebanon.

Lobi antara presiden dan anggota parlemen untuk menentukan perdana menteri baru akan digelar Senin (09/12) mendatang. Samir al-Khatib, kandidat terbaru untuk menempati posisi perdana menteri Lebanon.

Rakyat Lebanon sejak 17 Oktober menggelar aksi demo besar-besaran memprotes krisis ekonomi dan kondisi kehidupan di negara ini. Aksi protes tersebut berujung pada pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri.

Saad Hariri saat ini untuk sementara menjabat sebagai penjabat urusan pemerintah hingga perdana menteri baru ditunjuk.(PH)

 

 

Tags

Komentar