Des 11, 2019 12:58 Asia/Jakarta
  • Aksi protes massa di Irak
    Aksi protes massa di Irak

Kemarin. 10 Desember 2019, rakyat Iran memperingati tahun kedua kemenangan negaranya dalam menumpas kelompok teroris Daesh.

Mantan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi mengumumkan  10 Desember 2017, sebagai kemenangan Irak atas kelompok teroris Daesh, dan hari itu secara resmi dinamai  sebagai "Yaum Al-Nasr" atau "Hari Kemenangan" dalam kalender Irak.

Mengingat pentingnya hari itu, berbagai seruan demonstrasi sejak beberapa hari sebelumnya telah disebarkan di berbagai daerah, terutama di Baghdad. Tapi sebagian kalangan memanfaatkan seruan ini untuk menjadikan protes terhadap pemerintah Irak yang tidak sejalan dengan spirit "Hari Kemenangan".

Pertama, berbagai pihak memprovokasi masyarakat untuk melancarkan protes terhadap pemerintah Irak. Ahmad Mullah Talal, seorang jurnalis televisi Sharqiyah yang memainkan peran penting dalam membelokkan demonstrasi rakyat di Irak menyebut demonstrasi tanggal 10 Desember sebagai konfrontasi antara rakyat dan Najaf dengan kelompok-kelompok bersenjata (Al-Hashd al-Shaabi)."

Padahal Al-Hashd al-Shaabi selama ini memainkan peran signifikan dalam perang melawan Daesh hingga berhasil membebaskan sebagian besar wilayah Irak dari cengkeraman kelompok teroris. Tapi ironisnya, gerakan relawan rakyat ini  justru menjadi target serangan media dan propaganda selama protes rakyat sekitar dua bulan terakhir.

Kedua, tidak adanya kesatuan pandangan mengenai unjuk rasa kemarin, karena beberapa kelompok pengunjuk rasa memandang demonstrasi tersebut sebagai hasutan yang disponsori oleh provokator dan pihak-pihak yang ingin mengobarkan kekerasan di Irak. Oleh karena itu, sebagian kalangan tidak berpartisipasi dalam demonstrasi 10 Desember. Bersamaan dengan seruan demontrasi itu, dua orang aktivis di provinsi Karbala dibunuh setelah unjuk rasa kemarin.

 

 

Ketiga, mengenai reaksi dari beberapa tokoh Irak. Sebagian besar arus politik Irak sejauh ini mendukung demonstrasi damai. Namun, Sheikh Qais al-Khazali, Sekretaris Jenderal Asaib Ahl al-Haq Irak memperingatkan demonstrasi kemarin dengan mengatakan terjadi aksi sabotase yang meluas yang menelan banyak korban jiwa. Peringatan itu menunjukkan bahwa para pemimpin politik Irak menyadari plot musuh dan hasutan baru di negara itu.

Keempat, demonstrasi hari ini terjadi di tengah keluarnya laporan Organisasi Transparansi Irak hari Senin (9/12) mengenai 226 surat perintah pemanggilan selama sebulan lalu terhadap mantan dan pejabat saat ini yang didakwa melakukan korupsi, termasuk dua menteri saat ini, tujuh mantan menteri dan 10 wakilnya, anggota parlemen dan 11 gubernur saat ini dan sebelumnya. Langkah ini menunjukkan bahwa peradilan Irak telah memulai perjuangannya melawan korupsi, dan yang dibutuhkan saat ini stabilitas politik dan sosial untuk melanjutkan proses tersebut.

Kelima, berbagai laporan menunjukkan keterlibatan aktor asing dalam mengintervensi urusan internal Irak yang terus berlanjut. Kementerian Luar Negeri Irak memanggil duta besar Inggris, Prancis, Jerman dan Kanada hari Senin untuk meminta mereka menghentikan campur tangan dalam urusan internal Irak. Negara-negara ini menuntut dukungan pemerintah Irak terhadap demonstrasi rakyat, sementara pemerintah Irak menghadapi aksi kekerasan yang lebih terorganisir dan menargetkan keamanan nasionalnya yang melampaui masalah tuntutan rakyat.(PH)

Tags

Komentar