Jan 16, 2020 20:36 Asia/Jakarta
  • Moqtada Sadr.
    Moqtada Sadr.

Kelompok-kelompok perlawanan dan warga Irak menyambut seruan Pemimpin Gerakan Sadr, Moqtada Sadr untuk menggelar unjuk rasa menentang Amerika Serikat.

Moqtada Sadr pada 14 Januari lalu, menyeru warga Irak menggelar unjuk rasa besar-besaran pada Jumat besok untuk mengecam kehadiran militer AS dan pelanggaran rutin pasukan pendudukan terhadap kedaulatan Irak.

Ajakan yang langsung disambut oleh kubu perlawanan dan warga Irak ini, memiliki beberapa pesan penting. Pertama, seluruh lapisan masyarakat Irak sepakat untuk mengusir pasukan AS dari negara mereka.

AS selama ini melakukan banyak upaya untuk menciptakan perpecahan di antara kelompok-kelompok Irak khususnya komunitas Syiah, tapi kasus pembunuhan Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, telah melahirkan kebulatan suara di antara mereka yaitu mengusir pasukan AS dari Irak.

Kedua, konsensus ini membuktikan bahwa tindakan Trump meneror para pemimpin kubu perlawanan adalah sebuah strategi yang salah dan membawa petaka bagi AS, termasuk seruan unjuk rasa anti-Amerika pada Jumat besok.

Taleb al-Hasani dalam sebuah analisa di surat kabar Rai al-Youm, menulis bahwa unjuk rasa untuk mengusir pasukan AS dari Irak membuat Washington membentur jalan buntu dan upaya pemerintahan Trump melobi faksi-faksi politik yang berkuasa di Irak, menjadi tidak berguna, terlebih orang-orang yang pro-kehadiran pasukan AS di Irak tidak banyak jumlahnya.

Ilustrasi pasukan AS di Irak.

Ketiga, kelompok-kelompok Irak khususnya komunitas Syiah menolak segala bentuk dikte Washington atas Baghdad dan mereka menekankan independensi dan kedaulatan negaranya.

"Saya yakin bangsa Irak akan membuktikan kepada semua bahwa mereka tidak akan pernah tunduk pada arogansi global dan mereka hanya tunduk kepada Allah Swt," kata Moqtada Sadr dalam himbauannya.

Terlaksananya unjuk rasa besar-besaran ini akan menjadi sebuah titik balik di Irak setelah era Saddam.

Dan keempat, kelompok-kelompok Syiah yang berpengaruh di panggung politik Irak, sekarang lebih mengutamakan perang melawan musuh asing daripada mengejar kepentingan politiknya dan melupakan friksi politik di antara mereka.

Para pemimpin Gerakan Sadr dan sejumlah kelompok perlawanan termasuk Hadi al-Amiri, ketua Koalisi al-Fath, telah melakukan sebuah pertemuan sebelum keluarnya seruan tersebut.

Kelompok-kelompok Irak juga diharapkan akan segera mencapai sebuah kesepakatan untuk mengakhiri krisis politik dan menjadikan perlawanan terhadap AS sebagai prioritasnya.

AS mungkin akan kembali memanfaatkan agen-agennya di Irak untuk menyulut babak baru kerusuhan dan merongrong persatuan kelompok-kelompok Irak. (RM)

Tags

Komentar