Jan 19, 2020 21:34 Asia/Jakarta
  • Protes massa di Lebanon
    Protes massa di Lebanon

Kerusuhan kembali terjadi di Beirut Sabtu malam (18/1/2020) yang menyebabkan sekitar 200 orang terluka dan puluhan ditangkap aparat keamanan Lebanon.

Gelombang baru demonstrasi di Lebanon dimulai Senin lalu, tetapi semakin memuncak sejak para pemrotes hari Selasa menyerukan aksi protes anti-pemerintah, yang disebutnya sebagai "pekan kemarahan". Kemarin, aksi protes berujung kerusuhan yang dipicu bentrokan antara pengunjuk rasa dengan pasukan keamanan Lebanon. Pertanyaannya, apa penyebab terjadinya gelombang baru protes massa di Lebanon?

Tampaknya ada dua faktor, yang menjadi pemicu utamanya. Masalah kebijakan ekonomi pemerintah Saad al-Hariri dan ketidakmampuan Perdana Menteri Hassan Diab untuk membentuk kabinet baru.

Pemerintah Saad al-Hariri baru-baru ini memberlakukan batasan 1.000 dolar AS perbulan untuk penarikan dari rekening valuta asing. Kebijakan tersebut menyulut gelombang demonstrasi baru. Tidak heran jika sasaran para pengunjuk rasa adalah Bank Sentral Lebanon. Protes yang dimulai sejak 17 Oktober 2019 telah menyebabkan pengunduran diri Saad al-Hariri dari jabatan perdana menteri, dan juga memiliki akar ekonomi berkaitan dengan pengenaan pajak atas panggilan telpon dengan aplikasi Whats apps.

Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi dan mata pencaharian adalah penyebab utama protes di Lebanon. Kini, setelah aksi protes tiga bulan berlalu, tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi pemerintah Lebanon, tetapi terjadi pembatasan baru yang memperburuk kondisi ekonomi negara Arab ini. Meskipun demikian, Presiden Lebanon Michel Aoun menyatakan bahwa Lebanon membayar harga 30 tahun kebijakan keuangan yang salah.

Masalah lainnya mengenai tidak terbentuknya kabinet baru sebagai pemilu lain gelombang protes baru di Lebanon. Pada 19 Desember 2019, Hassan Diab secara resmi ditugaskan untuk membentuk kabinet baru, tetapi gagal membentuk kabinet sebulan kemudian. Kamis lalu, muncul  berita tentang pembentukan kabinet barui, tetapi tidak ada pejabat yang mengkonfirmasi berita tersebut. Para pengunjuk rasa di Lebanon kini menuntut diakhirinya perselisihan antarfaksi politik untuk mempercepat pembentukan kabinet baru.

Gelombang protes dan kerusuhan baru yang terjadi di Beirut merupakan bentrokan terburuk selama tiga bulan terakhir, akan memiliki konsekuensi bagi negara. Konsekuensi yang paling penting mengenai semakin tertundanya  pembentukan kabinet baru. Pada saat yang sama, perpecahan semakin meningkat. Sejauh ini kekuatan asing, terutama Arab Saudi, rezim Zionis dan AS diuntungkan untuk menjegal Hassan Diab membentuk kabinet baru.(PH) 

Tags

Komentar