Feb 14, 2020 11:40 Asia/Jakarta
  • Penarikan diri penuh UEA dari perang Yaman
    Penarikan diri penuh UEA dari perang Yaman

Menjelang akhir tahun kelima perang Yaman, Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa mereka akan sepenuhnya menarik pasukannya dari Yaman.

Perang koalisi Saudi terhadap Yaman dimulai pada 26 Maret 2015. Meskipun dikatakan bahwa koalisi terdiri dari sembilan negara, tapi pada kenyataannya, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah dua negara yang paling aktif berpartisipasi dalam perang.

Korban perang Yaman

Menjelang akhir tahun kelima dan dimulainya perang di tahun keenam, UEA telah memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari Yaman.

Ada 15.000 tentara UEA terlibat dalam perang ini. Letnan Jenderal Isa Mazrouei, Komandan Operasi Gabungan UEA di Yaman pada acara pemulangan pasukan Emirat di Abu Dhabi, mengatakan, "Para pejuang UEA telah melakukan 130 kali penerbangan di Yaman selama lima tahun terakhir dan telah beroperasi lebih dari setengah juta jam terbang di tempat operasi militer, dan hampir 90 kapal Emirat yang terlibat dalam perang ini."

Dalam perang Yaman tercatat 108 tentara Emirat yang tewas. Selain itu, UEA terancam serius oleh pasukan Ansarullah dan tentara Yaman. Ancaman yang sama, yang secara serius disampaikan sejak musim semi 2019, mendorong UEA mundur dari perang Yaman.

Pada fase pertama, UEA mengurangi jumlah pasukannya di Yaman pada musim panas 2019 dan pasukan yang tersisa bertanggung jawab untuk melatih tentara bayaran di Yaman. Sekarang di fase kedua, pasukan yang tersisa juga akan sepenuhnya ditarik dari Yaman, tetapi kehadiran UEA dalam perang belum berakhir karena Abu Dhabi telah membentuk pasukan lokal di dalam Yaman selama lima tahun terakhir dan merekrut pasukan asli Yaman. Dewan Transisi Selatan merupakan pasukan politik dan Hizam al-Amni merupakan kekuatan terpenting yang berafiliasi dengan UEA di Yaman selatan.

Penarikan lengkap militer UEA dari Yaman memiliki dua pesan penting. Pertama, Perjanjian Riyadh yang ditandatangani pada November 2019 lewat mediasi Saudi antara Dewan Transisional Selatan dan pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri, sebenarnya telah gagal, sesuatu yang diakui juru bicara pemerintah Yaman beberapa hari yang lalu.

Kedua, penarikan penuh pasukan UEA berarti pecahnya koalisi Saudi, sebuah topik yang juga disebut oleh surat kabar Riyadh sebagai awal dari berakhirnya perang Yaman dan berakhirnya kemitraan Saudi-UEA dan pecahnya "koalisi Arab".

Penarikan penuh pasukan UEA dari Yaman

Sejatinya, UEA sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak akan memenangkan perang di Yaman. Melanjutkan perang ini, sementara dianggap sebagai kegagalan politik dan militer, juga akan menelan banyak biaya. IMF, dalam laporan terbarunya yang dirilis Rabu malam, 12 Febuari, memperingatkan kondisi ekonomi negara-negara Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC).

Sekarang setelah UEA meninggalkan Yaman, terserah Arab Saudi untuk memutuskan apakah akan mengakhiri perang karena dari Operasi Badai Ketegasan (Operation Decisive Storm) yang diberi nama itu sudah tidak ada badai apalagi ketegasan.

Tags

Komentar