Feb 16, 2020 10:46 Asia/Jakarta

Menyusul kegagalan Kesepakatan Riyadh dan penarikan penuh militer Uni Emirat Arab dari Yaman serta penembakan jatuh sebuah jet tempur Tornado menandakan ketidakmampuan Riyadh untuk memerangi Yaman.

Perang koalisi Saudi terhadap Yaman dimulai pada 5 Maret 2015. Perang ini akan memasuki tahun keenamnya, tetapi bukan hanya tidak ada tanda-tanda kemenangan Al Saud, justru indikasi kekalahan menjadi lebih jelas.

Senin lalu, 10 Februari, Juru Bicara Pemerintah Yaman Rajih Badi mengumumkan kegagalan Kesepakatan Riyadh yang ditandatangani pada bulan November yang dimediasi Arab Saudi antara Dewan Transisi Selatan dan pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri dengan tujuan mengakhiri konflik.

Rajih Badi, Juru Bicara Pemerintah Yaman

Kegagalan Kesepakatan Riyadh merupakan kegagalan upaya politik Arab Saudi untuk mencapai konsensus di antara kelompok-kelompok Yaman di selatan negara ini.

Selasa lalu, Letnan Jenderal Isa Mazrouei, Komandan Operasi Gabungan UEA di Yaman mengumumkan penarikan penuh militer UEA dari Yaman.

Dengan penarikan penuh militer UEA dari Yaman, koalisi Saudi juga praktis runtuh, dan Arab Saudi harus melanjutkan perangnya terhadap Yaman sendiri saja.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Yahya Saree pada hari Sabtu, 15 Februari, mengatakan bahwa sebuah jet tempur Tornado koalisi Saudi telah ditembak jatuh dengan misil udara-ke-udara canggih yang dilengkapi dengan teknologi modern di provinsi al-Jawf.

Jet tempur Tornado dibuat oleh perusahaan patungan Inggris, Jerman dan Italia. Penembakan jatuh jet tempur ini, selain melengkapi kekalahan satu pekan terakhir Arab Saudi dalam perang terhadap Yaman, juga mengandung beberapa poin penting.

Pertama, terlepas dari blokade penuh negara ini oleh rezim Saudi, kekuatan defensif dan pencegah militer dan komite rakyat Yaman telah mengalami kemajuan dimana selain berhasil menembak jatuh drone-drone, kini juga mampu untuk merontokkan jet-jet tempur koalisi Saudi.

Dalam hal ini, Yahya Saree menekankan bahwa penembakan jatuh jet tempur ini berarti langit Yaman tertutup untuk pergerakan pasukan agresor, dan musuh harus berpikir ribuan kali sebelum bertindak.

Kedua, menjelang akhir tahun kelima perang, Arab Saudi berada dalam kesulitan.

Pasukan Yaman sebelumnya telah membebaskan 2.500 kilometer persegi tanah di provinsi Marib dan al-Jawf selama operasi Bunyan al-Marshus.

Penembakan jatuh jet tempur Tornado menunjukkan bahwa selain kemampuan perang darat yang mumpuni, pasukan Yaman ternyata juga memiliki kemampuan sistem anti udara untuk mengalahkan Arab Saudi di langitnya.

Keberhasilan militer ini bersamaan dengan kekalahan politik Al Saud, telah memicu kemarahan Saudi, sehingga melakukan pembunuhan warga sipil Yaman.

Sekaitan dengan hal ini, jet-jet tempur koalisi Saudi pada hari Sabtu, 15 Februari, sebagai pembalasan atas penggulingan jet tempur Tornado di distrik al-Maslub dan titik di mana bangkai jet tempur Tornado koalisi itu ditembak jatuh, Saudi melakukan serangan udara yang menewaskan lebih dari lima orang dan melukai puluhan lainnya.

Menanggapi serangan itu, Juru Bicara Ansarullah Mohammed Abdul Salam mengatakan, "Seperti biasa, koalisi Saudi beralih ke warga sipil ketika menerima pukulan menyakitkan di medan perang."

Juru Bicara Ansarullah Mohammed Abdul Salam

Serangan terhadap warga sipil sebagian besar membuktikan ketidakmampuan Arab Saudi untuk melanjutkan perang terhadap Yaman, tetapi menerima kekalahan dan mengakhiri perang untuk Al Saud jauh lebih menyakitkan.

Tags

Komentar