Mar 18, 2020 22:32 Asia/Jakarta

10 roket mendarat di pangkalan militer al-Taji pada Rabu malam, 11 Maret 2020 dan menewaskan satu tentara Inggris dan dua tentara Amerika, serta menciderai 12 lainnya.

Menurut sumber media Irak pada Jumat dini hari,13 Maret 2020, jet-jet tempur AS kemudian menyerang pangkalan pasukan relawan Irak, al-Hashd al-Shaabi di empat wilayah Irak. Serangan ini merenggut nyawa enam orang dan melukai beberapa lainnya.

AS mengklaim serangan ke posisi al-Hashd al-Shaabi untuk membalas serangan roket ke pangkalan militer al-Taji. 

Sementara itu, al-Hashd al-Shaabi dan kelompok-kelompok afiliasinya di Irak membantah tuduhan AS terkait serangan roket ke pangkalan militer al-Taji.

Sejumlah sumber di Irak mengabarkan kemungkinan skenario berulang AS agar memiliki alasan untuk menyerang pangkalan militer al-Hashd al-Shaabi.

Penembakan sejumlah roket ke pangkalan militer Amerika di Taji, utara Baghdad, Irak kembali terjadi pada Sabtu, 14 Maret 2020.

Menurut sejumlah media, sampai kini lebih dari 20 roket katyusha ditembakkan ke pangkalan militer Amerika di Taji. Namun belum ada laporan mengenai jumlah korban akibat serangan tersebut.

Sebuah kelompok dari afiliasi al-Hashd al-Shaabi di Irak mengatakan bahwa kelompok perlawanan akan membalas serangan AS, dan itu akan menjadi respons yang menyakitkan.

Sekretaris Jendral Saraya al-Khorasani Ali al-Yasiri yang berafiliasi dengan al-Hashd al-Shaabi Irak hari Minggu malam, 15 Maret 2020 kepada televisi Alalam menekankan bahwa serangan AS baru-baru ini di tanah Irak jelas merupakan pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorialnya.

Dia menjelaskan, kekhawatiran akan respon kelompok-kelompok perlawanan atas kejahatan Amerika Serikat telah membayangi kedutaan AS di Irak dan akan berlanjut sampai Amerika meninggalkan negara ini. (RA)

Tags

Komentar