Apr 04, 2020 10:28 Asia/Jakarta

Arab Saudi menyerukan sidang darurat Kamis (02/04/2020) dari negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara-negara produsen minyak lainnya.

Harga minyak telah melihat penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sebulan terakhir, mencapai sekitar $ 20 per barel. 

Penurunan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya disebabkan oleh empat penyebab perang minyak Rusia-Saudi, wabah Corona, penurunan tajam dalam permintaan pasar dunia dan peningkatan produksi.

Perang minyak Rusia dan Arab Saudi

Faktanya, penyebab pertama dari penurunan tajam harga minyak adalah perang minyak Rusia-Saudi. Perang minyak dimulai setelah kedua negara tidak sepakat mengenai pengurangan produksi.

Wabah Corona juga telah mempercepat tren penurunan, karena industri negara-negara besar telah benar-benar tutup dan permintaan impor minyak telah turun tak terduga.

Berlawanan dengan latar belakang ini, negara-negara minyak, termasuk Arab Saudi, secara tak terduga meningkatkan produksi untuk mengimbangi penurunan harga minyak.

Perusahaan Minyak Aramco Arab Saudi pada 2 April mengumumkan  bahwa mereka telah secara tak terduga meningkatkan produksinya menjadi lebih dari 12 juta barel per hari di tengah permintaan yang rendah setelah mewabahnya virus Corona.

Penurunan tajam harga minyak, sementara menurunkan pendapatan valuta asing di negara-negara pengekspor minyak, juga bisa membuat perusahaan-perusahaan minyak serpih AS bangkrut.

Arab Saudi juga sangat menderita dari proses ini, karena minyak adalah sumber pendapatan utama bagi pemerintah Saudi.

Sesuai dengan laporan OPEC, Arab Saudi, dengan lebih dari 267 miliar barel, memiliki 18 persen cadangan minyak dunia yang terbukti dan sekitar 70 persen dari pendapatan ekspornya berasal dari minyak.

Meskipun Al Saud memulai perang minyak dengan Rusia, ia menderita lebih dari Rusia dan negara-negara kaya minyak lainnya. Dalam hal ini, Menteri Keuangan dan Ekonomi Saudi Mohammed al-Jadaan mengatakan bahwa Arab Saudi terpaksa mengurangi anggaran tahunannya sebesar 50 miliar riyal Saudi ($ 13,2 miliar) setelah penurunan tajam harga minyak.

Dengan demikian, pemerintah Saudi akan mengurangi total anggarannya sebesar 5% untuk tahun 2020, yaitu 1020 miliar riyal Saudi ($ 271 miliar).

Yang penting adalah bahwa negara-negara seperti Rusia tidak terlibat dalam perang untuk membuat biaya perang minyak lebih sulit bagi mereka, sementara Arab Saudi terlibat dalam perang terhadap Yaman, yang memasuki tahun keenamnya pada 26 Maret 2020.

Perang ini telah memaksa Riyadh untuk mengeluarkan biaya sangat besar yang sangat merugikan ekonomi Saudi.

Selain itu, Republik Islam Iran, sebagai pesaing regional paling penting Arab Saudi karena sanksi AS, hampir tidak dirugikan oleh penurunan harga minyak dan ini bukan berita baik bagi Riyadh yang membuat penurunan harga minyak menjadi lebih berat buat mereka.

Atas dasar itu, Arab Saudi secara resmi menyerukan sidang darurat OPEC dan negara-negara minyak lainnya Kamis malam, 2 April, untuk meluncurkan kesepakatan minyak baru yang bertujuan menyeimbangkan harga minyak.

Mohamed bin Salman dan Donald Trump

Intinya adalah bahwa seruan Arab Saudi untuk sidang darurat OPEC dan negara-negara minyak lainnya datang setelah percakapan telepon antara Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dengan Presiden AS Donald Trump.

Dengan kata lain, Al Saud membutuhkan persetujuan Washington bahkan untuk membela kepentingan ekonominya.

Tags

Komentar