May 09, 2020 16:24 Asia/Jakarta
  • Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon
    Sayid Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrullah pada Jumat (08/05/2020) malam menyamakan pendekatan AS terhadap Muqawama seperti pendekatan para pembesar Quraisy terhadap Nabi di lembah "Syi'ib Abu Thalib" di era permulaan Islam.

Lembah Syi'ib Abu Thalib adalah salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad Saw mengakhiri ajakan sembunyi-sembunyi kepada masyarakat kepada agama Islam dan menyatakan ajakannya secara terbuka dengan perintah ilahi. Dakwah Nabi yang disampaikan secara terbuka ini menyebabkan ketakutan besar di antara para tokoh suku Quraisy. Para tetua Quraisy mengambil langkah-langkah untuk menghentikan dakwah terbuka Nabi Muhammad Saw.

Syi'ib Abu Thalib saat ini

Dalam ungkapan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, "Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menawarkan Nabi Muhammad Saw lewat materi dan posisi duniawi,  tetapi Rasulullah menentang cara menyuap para pembesar Quraisy dan berkata, "Seandainya kalian meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tujuanku, Demi Allah! Aku tidak akan melakukannya."

Para tetua Quraisy menjadi frustrasi dengan cara menyuap dan memilih sanksi dan pengepungan. Mereka membuat perjanjian untuk mengepung Nabi dan para sahabatnya serta tidak melakukan transaksi dan berhubungan dengan mereka sampai akhirnya mereka menyerah. Blokade ekonomi dan sosial terhadap Nabi dan para sahabatnya berlangsung selama tiga tahun di lembah Syi'ib Abu Thalib (nama lembah di sekitar Mekah), tetapi mereka tidak menyerah. Akhirnya, dengan izin Allah, rayap memakan surat perjanjian para tokoh Quraisy tersebut, kecuali nama Allahumma, dan perjanjian kaum musyrik tidak efektif.

Pendekatan AS terhadap poros Muqawama di kawasan yang dipimpin oleh Republik Islam Iran, serupa dengan yang dilakukan terhadap Syi'ib Abu Talib dan bahkan lebih buruk. Pemerintahan Trump pertama-tama menyuap Republik Islam Iran di wilayah Asia Barat dan mencoba membawa Republik Islam Iran ke meja perundingan dengan membuat klaim bahwa perundingan dengan Amerika Serikat akan membawa banyak manfaat materi bagi Iran. Setelah itu, tujuan AS seperti penghentian kemampuan rudal dan penghentian pendekatan berorientasi perlawanan di kawasan akan dipaksakan kepada Iran, tetapi pendekatan ini gagal karena sikap Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Pemerintah AS tetap melanjutkan penerapan sanksi yang komprehensif dan menindas terhadap Iran, tetapi tidak berhasil, dan Republik Islam Iran telah mengambil jalan perlawanan.

Bersamaan dengan peningkatan tekanan terhadap Iran, pemerintah AS dan sekutu Barat dan Arabnya mulai menindak kelompok-kelompok perlawanan di kawasan. Hizbullah Lebanon, al-Hashd al-Shaabi Irak, Ansarullah Yaman dan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) telah ditempatkan dalam daftar teroris AS, sementara sanksi keras telah dijatuhkan pada kelompok-kelompok ini  dan para pemimpin mereka.

Namun bukan hanya kelompok-kelompok ini dan para pemimpin mereka tidak menyerah pada tekanan AS, tetapi tekad mereka untuk memerangi Amerika Serikat dan mengusir pasukan AS dari kawasan itu, terutama dari Irak, telah diperkuat, di mana contoh jelasnya adalah semakin intensnya ancaman terhadap pasukan Amerika Serikat di Irak, sehingga Washington terpaksa mengosongkan beberapa pangkalan militer mereka di Irak dan dipindahkan ke pangkalan militer yang lebih besar.

Sayid Hassan Nasrullah menggambarkan sanksi hari ini, terutama sanksi AS terhadap Iran dan Hizbullah di Lebanon, sama kerasnya dengan kondisi Muslimin di era permulaan Islam di Syi'b Abu Thalib.

Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, "Ketika Bani Hasyim diblokade di Syi'ib Abu Thalib, kafir Quraisy meminta kaum Muslim menyerahkan Muhammad Saw sehingga pengepungan dicabut. Sekarang mereka meminta kubu perlawanan Lebanon meletakkan senjatanya dan membiarkan negara tanpa perlindungan sehingga Israel dapat berbuat sesuka hati.

Menurut Nasrallah, hari ini virus Corona sama seperti rayap yang mengakhiri blokade Syi'ib Abu Thalib pada masa Rasulullah Saw dan virus ini kemungkinan akan mengakhiri blokade kejam terhadap beberapa bangsa.

Donald Trump dan pandemi Covid-19

Faktanya, bahkan jika Amerika Serikat tidak mencabut atau mengurangi sanksi terhadap Republik Islam Iran dan kelompok-kelompok perlawanan karena penyebaran wabah Corona akan menggambarkan substansi hakiki penindasan dan tidak manusiawi.

Di tingkat domestik, mereka yang berharap dan bergantung pada Amerika Serikat akan sampai pada kesimpulan bahwa Amerika Serikat tidak hanya tidak ingin menyaksikan kejayaan Iran dan Muqawama, tetapi telah menjadikan mereka menyerah sebagai tujuan utama.

Tags