May 20, 2020 19:15 Asia/Jakarta
  • kehancuran Israel semakin dekat
    kehancuran Israel semakin dekat

Transformasi Asia Barat selama beberapa hari terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai prediksi lenyapnya Israel puluhan tahun lagi.

Selain itu, AS pendukung plot baru rezim Zionis aneksasi Tepi Barat, dubes Cina untuk Israel ditemukan tewas di Tel Aviv, Lembaga HAM menyebut Trump membantu Saudi demi suap, koalisi Saudi dan UEA di Yaman akhirnya pecah, dan PM Baru Irak menyebut Hashd Al Shaabi sebagai "Cahaya Mata" negara.

 

Pasukan Hizbullah Lebanon

 

Hizbullah: Kami Yakin 25-40 Tahun Lagi Israel akan Lenyap

Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Lebanon menilai alasan bertambahnya tekanan terhadap poros perlawanan adalah peningkatan kekuatan dan prestasi besar di level regional. Menurutnya, Hizbullah yakin, rezim Zionis Israel dalam 25-40 tahun lagi akan lenyap.

Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Lebanon, Sayid Hashem Safieddine dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen mengatakan, Israel tidak akan mampu bertahan lebih dari 25-40 tahun lagi di hadapan kekuatan kubu perlawanan.

Safieddine menganggap blokade, tekanan, penggabungan wilayah Palestina lain dan Yahudisasi, dilakukan Israel karena takut akan masa depannya.

"Israel tahu ada sebuah realitas dalam perimbangan kekuatan yang namanya muqowama dan poros perlawanan. Perimbangan kekuatan ini berhasil meraih kemenangan di Lebanon, Palestina, dan kawasan," imbuhnya.

Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah menjelaskan, Israel memanfaatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyerang seluruh struktur perlawanan, dan elemen-elemennya. Target serangan ini dimulai dari Iran sebagai pendukung utama perlawanan hingga gugurnya Syahid Qassem Solemani, dilanjutkan dengan serangan ke negara-negara yang berhubungan dengan poros perlawanan seperti Suriah.

Safieddine menambahkan, transformasi regional menyebabkan Israel berpikir untuk sesegera mungkin membentuk sebuah negara Yahudi.

"Ini adalah masalah yang pasti terkait perlawanan, bahwa Israel tidak akan mampu bertahanan lama, dan nasibnya sedang berhadapan dengan keruntuhan, artinya kami yakin 25-40 tahun lagi, Israel tidak akan ada lagi," pungkasnya.

 

 

AS Pendukung Plot Baru Rezim Zionis Aneksasi Tepi Barat

Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), Sheikh Ali al-Qaradaghi menyebut pemerintah AS sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas plot baru rezim Zionis untuk menduduki wilayah Palestina lainnya.

Rezim Zionis berniat menduduki bagian Tepi Barat Sungai Jordan mulai Juli dan menjadikannya sebagai wilayah pendudukan.

Ulama Sunni Kurdi ini dalam sebuah pernyataannya menyerukan supaya umat Islam dan dunia menentang plot baru rezim Zionis tersebut dan penolakan terhadap Baitul Maqdis sebagai ibu kota Israel.

"Rezim Zionis mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa dunia sedang disibukkan oleh virus corona dan sikap pasif beberapa negara Arab demi mengimplementasikan Kesepakatan Abad," kata Ali Al-Qaradaghi dalam  pernyataan Sabtu (16/5/2020).

Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional juga menekankan posisi tegas organisasi Islam ini dalam masalah Palestina, yang merupakan isu utama umat Islam, dan memuji posisi negara-negara yang mendukung Palestina.

 

Du Wei

 

Dubes Cina Ditemukan Tewas di Tel Aviv

Media rezim Zionis melaporkan kematian Duta Besar Cina untuk Israel di wismanya.

Haaretz melaporkan, Duta Besar Tiongkok untuk Israel, Du Wei ditemukan tewas hari Minggu di apartemennya di pinggiran Tel Aviv.

Polisi rezim Zionis sedang melakukan penyelidikan atas kematian diplomat senior Cina ini.

Pria berusia 58 ini ditemukan tewas di tempat tidurnya.

Diplomat yang bertugas di Israel sejak ّFebruari 2020 tinggal bersama istri dan seorang putranya.

Pemerintah Cina mengirim tim pencari fakta untuk menyelidiki kematian duta besarnya di Tel Aviv, wilayah pendudukan.

Pemerintah Cina mengumumkan akan mengirim sebuah tim investigasi untuk menyelidiki kematian Dubes Cina untuk Israel, Du Wei, ke wilayah pendudukan.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Cina mengumumkan, bukti-bukti awal menunjukkan bahwa Du Wei meninggal secara mendadak tanpa terlihat mengalami gangguan medis, dan asumsi ini perlu mendapat penegasan.

Seperti dilaporkan surat kabar Israel, Haaretz, sebuah tim khusus sudah disiapkan untuk mengatur pengiriman jenazah Dubes Cina dengan pesawat.

Dua hari sebelum ditemukan meninggal, Dubes Cina untuk Israel mengeluarkan statemen keras terkait tuduhan Amerika Serikat atas Beijing.

 

Trump dan Raja Salman 

Lembaga HAM: Trump Bantu Saudi Demi Suap

Presiden Al-Qast Foundation for Human Rights, Yahya Asiri mengumumkan, dukungan Presiden Amerika Serikat terhadap Arab Saudi, diberikan karena ia menerima suap dari Riyadh.

Stasiun televisi Al Jazeera dalam salah satu acaranya, membahas hubungan Amerika dan Saudi di bawah bayang-bayang friksi terkait sejumlah masalah yang terjadi beberapa tahun kebelakang.

Televisi Qatar itu mengulas hubungan antara pencopotan seorang Inspektur Jenderal di Departemen Luar Negeri Amerika, Steve Linick dengan penyelidikan seputar kontrak penjualan senjata negara itu dengan Saudi.

Yahya Asiri menjelaskan, pengaruh nyata uang Saudi tampak dalam keputusan-keputusan pemerintahan Trump, ketika Trump ingin membantu Saudi, ia akan melakukannya demi suap, meski harus menutup mata atas kepentingan Amerika. 

Asiri menambahkan, cara suap ini tidak berbeda dari umumnya, kontrak senjata juga termasuk salah satu jenis suap, karena jelas Saudi tidak akan menggunakan senjata-senjata itu, dan tidak menginginkannya.

 

pertempuran di Aden

 

Al Ahed: Koalisi Saudi-UEA di Yaman Akhirnya Pecah

Situs berita Lebanon menulis, pertempuran yang terjadi saat ini di selatan Yaman mengungkap perpecahan tersembunyi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sebagai koalisi asli agresor Yaman, dan menunjukkan keruntuhan koalisi tersebut.

Sekitar lima tahun lalu, Saudi dan UEA dengan dalih mendukung pemerintahan terguling Yaman pimpinan Abd Rabbuh Mansour Hadi, melancarkan agresi militer ke negara ini.

Seperti ditulis situs berita Al Ahed, pada medio 2015, pasukan Saudi dan UEA memasuki Aden, dan dengan dukungan Al Qaeda, Daesh serta beberapa kelompok teroris Takfiri lain, keduanya menduduki kota itu.

Seiring berjalannya waktu, UEA mulai menunjukkan niat yang sebenarnya, dan mengorganisir milisinya serta memperkuat pengaruh di kota-kota selatan Yaman. Di tahun-tahun awal, milisi bersenjata dukungan UEA bahkan masuk ke wilayah timur Yaman, sebelum dipukul mundur Saudi.

Menurut Al Ahed, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sekarang UEA sepertinya sudah mengesampingkan slogan mengembalikan kekuasaan Mansour Hadi, sebaliknya Saudi tetap menyembunyikan maksud sebenarnya di Yaman.

"Benar bahwa UEA dan Saudi berkoalisi di Yaman, namun kenyataan berbicara lain. Pertempuran pasukan afiliasi UEA dan Saudi di Aden, tidak diragukan menandakan berakhirnya koalisi kedua negara ini di Yaman," pungkasnya.

 

Mustafa Al Khadimi

 

PM Baru Irak Sebut Hashd Al Shaabi "Cahaya Mata" Negara

Perdana Menteri Irak dalam pertemuannya dengan jajaran komandan Hashd Al Shaabi mengumumkan dukungan terhadap organisasi relawan rakyat ini, dan mengatakan tidak boleh ada jurang antara Hashd Al Shaabi dan pemerintah Irak.

Mustafa Al Kadhimi saat bertemu jajaran komandan Hashd Al Shaabi meminta agar seluruh tindakan yang bisa menciptakan jurang antara Hashd Al Shaabi dan pemerintah, dihentikan.

Mustafa Al Kadhimi, Sabtu (16/5) di markas Hashd Al Shaabi mengumumkan, pemerintah dan rakyat Irak sampai pada tahap akhir penumpasan Daesh, di tengah upaya kelompok teroris ini menyusun kekuatan baru.

Menurutnya, pasukan Hashd Al Shaabi bersama militer dan pasukan Irak lainnya, selalu terdepan dalam operasi dan serangan terhadap teroris.

PM Irak juga menyinggung undang-undang 40 tahun 2016 yang menetapkan Hashd Al Shaabi sebagai bagian dari angkatan bersenjata Irak, dan menurutnya ini adalah kerangka hukum untuk mendukung dan membela Hashd Al Shaabi. (PH)

 

 

      

     

 

Tags

Komentar