May 28, 2020 11:57 Asia/Jakarta

Pada peringatan 20 tahun pembebasan daerah selatan Lebanon dari pendudukan rezim Zionis, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrullah menyampaikan pandangannya mengenai dinamika kawasan, termasuk peningkatan kekuatan front perlawanan.

Salah satu masalah penting dalam wawancara antara Sayid Nasrullah dengan radio Al-Nur Lebanon mengenai posisi Israel yang melemah, dan sebaliknya Hizbullah saat ini lebih kuat dari  tahun 2000. Ada beberapa indikasi yang mendukung statemen tersebut.

Pertama, perang antara Israel dengan Hizbullah Lebanon di tahun 2006 menjadi titik balik dalam perkembangan di kawasan Asia Barat. Sebab hal itu menunjukkan kemampuan rudal dan intelijen Hizbullah, dan tumbangnya mitos kedigjayaan militer Israel bukan oleh sebuah negara, tapi sebuah kelompok perlawanan di Lebanon.

Kedua, Israel tidak terlibat dalam perang dengan Hizbullah di Lebanon sejak kegagalannya dalam perang 2006, karena mereka tahu betul jika memulai perang, maka tidak akan bisa mengakhirinya. Menurut Sayid Hassan Nasrullah, Hizbullah memiliki semangat yang tinggi untuk berperang jika rezim Zionis menyerang, sementara Israel tidak memiliki semangat yang diperlukan untuk melawan Hizbullah di Lebanon.

Ketiga, Hizbullah Lebanon telah tumbuh secara signifikan dalam kemampuan militernya. Hizbullah saat ini memiliki kemampuan pertahanan yang tidak dimiliki sebelum tahun 2000, yang juga diakui oleh pihak rezim Zionis sendiri.

Keempat, poros perlawanan di kawasan ini tidak terbatas pada Hizbullah di Lebanon saja, tetapi muncul kelompok-kelompok perlawanan di berbagai tempat lainnya. Pada saat yang sama, situasi di Palestina juga tidak sama dengan tahun 2000.

 

Sekjen Hizbullah Lebanon

 

Nasrullah mengatakan, "Perlawanan hari ini di Lebanon, Palestina dan Gaza semakin meningkat. Misalnya, Gaza yang diduduki rezim Zionis telah dibebaskan sejak tahun 2000, dan kelompok-kelompok Palestina di wilayah tersebut memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal yang menjangkau semua kota di Palestina pendudukan,". 

Masalah lain yang ditegaskan Sayid Hassan Nasrullah mengenai rasisme Israel. Tidak diragukan lagi, rezim Zionis adalah simbol rasisme di dunia karena bukan hanya tidak percaya terhadap kesetaraan umat manusia, tetapi juga secara eksplisit menekankan keunggulan ras Yahudi serta mengejar Yahudisasi di Baitul Maqdis dan wilayah pendudukan lainnya berdasarkan pemikiran rasis tersebut.

Menurut sekretaris jenderal Hizbullah Lebanon, rezim Israel bukanlah negara Yahudi dan atau negara agama, dan tidak mungkin menjadi negara agama dengan sejarah pembunuhan dan pembantaian yang dilakukannya.

Di bagian lain statemennya, Nasrullah menyebut kehadiran militer AS di kawasan, salah satunya demi melindungi rezim Zionis. Meningkatnya kekuatan front perlawanan di Lebanon, Palestina, Suriah, dan negara lain di kawasan menimbulkan kekhawatiran besar bagi AS yang merasa terancam kepentingan regionalnya.

Rezim Zionis berharap kekuatan Barat dan Arab dengan bantuan kelompok-kelompok teroris, akan bisa menggulingkan pemerintahan  Suriah yang digantikan dengan rezim boneka, tapi ambisi tersebut gagal karena Damaskus didukung poros perlawanan.

Perjalanan waktu sejak 2000 hingga kini menunjukkan peningkatan  kekuatan front perlawanan  yang signifikan dalam menghadapi rezim Zionis yang didukung kekuatan Barat dan sejumlah negara Arab. Semakin ditekan, front perlawanan semakin kuat dari sebelumnya. (PH)

 

 

Tags

Komentar