Jul 11, 2020 19:49 Asia/Jakarta
  • Demo di Lebanon (dok)
    Demo di Lebanon (dok)

Aksi protes menentang Amerika Serikat di Lebanon dilaporkan semakin mengalami peningkatan.

Lebanon selama beberapa bulan terakhir mengalami kondisi khusus. Kondisi ini bukan disebabkan meningkatnya kesulitan ekonomi, tapi berhubungan dengan esensi pemerintah berkuasa di negara ini.

Lebanon sejak Oktober 2019 dilanda aksi demo warga memprotes kondisi hidup yang kian sulit dan berujung para pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri. Sementara itu, Saad Hariri dan kubu pro Barat di Lebanon berusaha membentuk pemerintahan baru dengan meraih konsesi, namun penentangan Presiden Michel Aoun dan berbagai faksi politik terhadap tuntutan Saad Hariri dan Gerakan al-Mustaqbal mendorong pemerintahan baru negara ini dibentuk tanpa partisipasi kubu pro Barat.

Dengan penunjukan Hassan Diab sebagai perdana menteri dan pembentukan kabinet baru, mulailah terjadi sabotase oleh kubu oposisi dalam negeri dan asing, karena kabinet baru dibentuk dengan dukungan koalisi muqawama. kubu oposisi pemerintah Lebanon berusaha membentuk protes anti pemerintah dengan mengusun isu ekonomi serta menjadikan aksi demo ini menjadi kerusuhan dalam negeri.

Dalam hal ini pemerintah Amerika memainkan peran penting dalam melawan pemerintahan Hassan Diab di Lebanon. Pemerintah Lebanon berusaha menyelesaikan sebagain kesulitan ekonominya dengan meminjam hutang dari Dana Moneter Internasional (IMF), namun karena sabotase Washington, IMF menolak permintaan Bairut.

Bagaimanan pun juga Washington dengan menjatuhkan sanksi kepada Hizbullah Lebanon serta menerapkan undang-undang Caesar anti Suriah juga telah memberikan dampak tersendiri bagi ekonomi Lebanon serta mencegah masuknya dolar ke negara ini. Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrulalh beberapa waktu lalu terkait hal ini mengatakan, "Pemerintah AS mencegah masuknya dolar ke Lebanon dan menekan bank sentral negara ini dengan dalih dolar yang terkumpul di Lebanon dan dikirim ke Suriah."

Duta besar Amerika Serikat di Lebanon, Dorothy C. Shea memanfaatkan aksi demo di Lebanon dan mengobarkan perang syaraf terhadap Hizbullah. Ia mengklaim kendala ekonomi Lebanon akibat teladan perilaku Hizbullah khususnya kebijakan lintas perbatasannya.

Pemerintah Amerika yang menyaksikan kekalahan kebijakan anti Hizbullah baik di dalam maupun di luar negara ini, melalui sanksi berusaha mereduksi pengaruh internal dan regional Hizbullah. Laman Elnashra Lebanon di laporannya terkait hal ini menulis, "Upaya untuk melawan pengaruh Hizbullah di dalam negeri Lebanon menyusul grafik pergerakan ekspansi dan aktivitas kubu ini sejak pemilu parlemen hingga kini merupakan alasan pendekatan AS anti Hizbullah."

Sekaitan dengan ini, Sayid Hasan Nasrullah juga meyakini Amerika mengerahkan segenap upayanya untuk menghapus peluang yang diraih bangsa Lebanon dan memaksa mereka menyerah dihadapan rezim Zionis Israel.

Mengingat pendekatan ini, penentangan terhadap Washington di dalam negeri Lebanon mengalami kenaikan.

Seorang hakim Lebanon, Mohammad Mazeh saat merespon intervensi dubes AS di urusan internal Lebanon seraya merilis putusan melarang Shea melakukan wawancara dengan media Lebanon, namun karena mendapat tekanan, hakim Lebanon ini mengundurkan diri dari posisinya.

Selama beberapa hari terakhir sejumlah warga Lebanon berkumpul di depan Kedubes Amerika di Beirut mengutuk campur tangan dubes AS dan statemennya yang anti Hizbullah.

Penentangan ini mengindikasikan bahwa di dalam negeri Lebanon terbentuk konsensus di antara rakyat Lebanon, sejumlah faksi dan tokoh dalam membela Hizbullah dan independensi negara ini serta penentangan terhadap pendekatan intervensif Amerika. (MF)

 

Tags

Komentar